Suluk Kajen Resmi Dibentuk: Pusat Riset Manuskrip Syekh Ahmad Mutamakkin

Table of Contents
Suluk Kajen Resmi Dibentuk, Siap Jadi Pusat Riset Manuskrip Kuno Syekh Ahmad Mutamakkin
Suluk Kajen Resmi Dibentuk: Pusat Riset Manuskrip Syekh Ahmad Mutamakkin

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Sebuah tonggak penting bagi pelestarian khazanah intelektual Islam di Indonesia resmi diletakkan di serambi Masjid Kajen, Margoyoso, Pati. Pada Sabtu, 27 Juni 2026, para kiai sepuh di bawah naungan Yayasan Makam Mbah Mutamakkin secara resmi meluncurkan lembaga ilmiah bernama Suluk Kajen.

Peluncuran ini diselenggarakan melalui seminar bertajuk “Pamoring Kawula Gusti: Syekh Ahmad Mutamakkin dan Reimajinasi Intelektual Pesantren di Era Kontemporer”. Acara tersebut menjadi magnet bagi para akademisi serta ulama nasional untuk membahas masa depan warisan intelektual Mbah Mutamakkin.

Deretan tokoh intelektual yang hadir di antaranya Prof KH Said Aqil Siroj, KH Ulil Abshar Abdalla, dan KH Abdul Ghaffar Rozin. Kehadiran mereka menegaskan urgensi pendirian lembaga ini dalam menjaga khazanah pemikiran Islam Nusantara bagi generasi mendatang.

Latar Belakang dan Urgensi Suluk Kajen

Direktur Suluk Kajen, Mohammad Yunus Masrukhin, menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat tentang Syekh Ahmad Mutamakkin selama ini masih terbatas pada tradisi lisan. Padahal, terdapat banyak teks sejarah otentik yang terhubung dengan sang ulama yang belum terjamah oleh kajian ilmiah secara mendalam.

Berangkat dari kegelisahan kiai-kiai sepuh, Suluk Kajen didirikan untuk mentransformasi tradisi keagamaan warisan Mbah Mutamakkin ke dalam kajian akademik yang komprehensif. Upaya ini mencakup aspek tekstual, sejarah, sosial, politik, hingga ekonomi dari masa lalu hingga era modern saat ini.

Lima Divisi Strategis dan Masa Depan Manuskrip

Latar Belakang dan Urgensi Suluk Kajen

Untuk menopang agenda besar tersebut, Suluk Kajen telah membagi kerja ke dalam lima divisi strategis. Divisi Riset, Kegiatan, Publikasi, Museum, dan Kesekretariatan akan berkolaborasi untuk memproduksi serta menyebarkan pengetahuan ilmiah kepada masyarakat luas.

Divisi Publikasi secara khusus bertugas mengemas hasil riset ke dalam jurnal ilmiah maupun konten populer agar relevan bagi generasi muda. Sementara itu, Divisi Museum berperan krusial dalam mengonservasi situs serta artefak sebagai bukti sejarah ulama karismatik Pantura ini.

Terkait naskah kuno, proses pendataan menyeluruh saat ini sedang dilakukan secara bertahap oleh tim terkait. Hingga saat ini, sebanyak sembilan naskah akurat telah berhasil diidentifikasi dan siap untuk dikaji lebih dalam oleh para ahli.

Beberapa naskah penting tersebut meliputi Arsyul Muwahhidin, Suluk Alif, Suluk Kajen, hingga Bundel Kajen yang merupakan koleksi dari Prof. Islah Gusmian. Penemuan ini diharapkan mampu membuka cakrawala baru bagi studi keislaman di tanah Jawa.

Filosofi Hangrenggani Urip

Lahirnya Suluk Kajen didasari oleh kesadaran untuk menapaki jalan ilmu dengan ketekunan dan kerendahan hati. Lembaga ini memegang teguh filosofi “Hangrenggani Urip, Hanguripake Rerenggan” yang sarat akan makna kebudayaan serta spiritualitas Jawa.

Secara morfologis, frasa tersebut merupakan ajakan untuk memuliakan kehidupan melalui penghalusan budi dan laku spiritual. Ini merefleksikan tradisi pesantren di mana ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan laku hidup yang harus ditempuh dengan adab.

Dalam horizon Islam Jawa, kehidupan yang luhur adalah kehidupan yang mampu menyatukan ilmu, laku, dan kebudayaan. Suluk Kajen hadir bukan hanya sebagai forum diskusi, melainkan sebagai ruang laku bersama untuk merawat warisan adab bagi masyarakat modern.

Baca Juga

Loading...