Rupiah Paling Buruk se-Asia, Senjata Baru China Bikin Yuan Perkasa

Table of Contents
Rupiah Paling Buruk se-Asia, Senjata Baru China Bikin Yuan Perkasa
Rupiah Paling Buruk se-Asia, Senjata Baru China Bikin Yuan Perkasa

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pasar keuangan Asia mencatatkan dinamika yang sangat kontras pada penutupan perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Meskipun mayoritas mata uang di kawasan ini sempat menunjukkan penguatan di akhir pekan, kinerja mingguan secara keseluruhan justru menggambarkan kondisi yang cukup ambruk bagi berbagai valuta regional.

Narasi utama yang mendominasi pasar valas saat ini adalah Rupiah Paling Buruk se-Asia, Senjata Baru China Bikin Yuan Perkasa yang menjadi sorotan para pelaku pasar global. Data Refinitiv mencatat bahwa nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp18.045 per dolar AS, sebuah apresiasi tipis sebesar 0,14% yang mencoba memulihkan posisi dari level terlemah dalam satu bulan terakhir.

Kondisi Rupiah dan Tekanan Arus Modal Asing

Penguatan yang terjadi pada Jumat tersebut sebenarnya menjadi pembalik arah dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang cukup menekan mata uang Garuda. Namun, akumulasi pergerakan selama sepekan menunjukkan fakta bahwa rupiah ambruk sebesar 0,55%, menjadikannya sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di antara mata uang Asia lainnya.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memberikan catatan kritis mengenai stabilitas nilai tukar nasional dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa Indonesia masih sangat membutuhkan tambahan aliran modal asing yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga di tengah gejolak global.

Sentimen negatif pada rupiah dan mata uang Asia lainnya juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah. Dolar AS sempat melemah selama dua hari beruntun setelah Amerika Serikat dan Iran kembali melancarkan serangan, sehingga memaksa pelaku pasar untuk mencermati perkembangan harga minyak dan prospek inflasi global.

Kebangkitan Yen Melalui Strategi Investasi Domestik

Berbeda dengan nasib rupiah yang tertekan, mata uang yen Jepang justru memimpin penguatan di kawasan Asia dengan kenaikan sebesar 0,42% pada perdagangan Jumat. Penguatan ini dipicu oleh rencana pemerintah Jepang untuk mendorong dana pensiun agar meningkatkan alokasi investasi pada aset keuangan domestik.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan kebijakan khusus yang melibatkan Government Pension Investment Fund (GPIF). Langkah ini dinilai oleh banyak analis sebagai kebijakan yang lebih efektif dalam menopang yen dibandingkan dengan melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing yang berisiko tinggi.

Analis IG, Fabien Yip, menjelaskan bahwa perubahan alokasi investasi GPIF dari aset luar negeri ke aset domestik akan secara signifikan meningkatkan arus modal ke Jepang. Kebijakan ini diprediksi tidak hanya mendukung penguatan yen, tetapi juga memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi domestik yang sebelumnya sempat berada di level terlemah dalam hampir 40 tahun.

Kondisi Rupiah dan Tekanan Arus Modal Asing

Senjata Baru China dan Kekuatan Yuan

Di sisi lain, mata uang yuan China menunjukkan ketangguhan luar biasa di saat mata uang Asia lainnya rontok dalam sepekan terakhir. Yuan menguat secara konsisten setelah bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), memberikan sinyal kuat bahwa mereka merasa nyaman dengan apresiasi mata uang tersebut.

Sinyal tersebut ditunjukkan melalui penetapan kurs referensi harian atau fixing di bawah level CNY 6,80 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak tahun 2023. Kebijakan ini dianggap sebagai senjata baru PBOC untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong ambisi internasionalisasi yuan ke panggung global.

Yuan offshore bahkan sempat menguat hingga 0,3% ke level CNY 6,7785 per dolar AS, yang tercatat sebagai kenaikan harian terbesar dalam hampir satu bulan terakhir. Penetapan kurs tengah CNY di 6,7989 per dolar AS oleh PBOC menjadi acuan krusial yang membatasi pergerakan yuan onshore dalam kisaran 2% di atas atau di bawah level yang telah ditetapkan bank sentral.

Pandangan Analis Terhadap Kebijakan PBOC

Fiona Lim, Senior FX Strategist di Malayan Banking Bhd, menyatakan kepada Reuters bahwa PBOC tampak mulai melonggarkan pengendalian terhadap yuan karena laju apresiasi mata uang tersebut sudah mulai melambat. Ia menilai langkah ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan di China merasa nyaman membiarkan yuan terus menguat terhadap dolar AS.

Dukungan PBOC terhadap penguatan yuan hadir tepat di saat sebagian investor mulai berspekulasi bahwa mata uang China tersebut memasuki fase konsolidasi setelah reli yang cukup panjang. Fenomena ini tercermin dari langkah JPMorgan Asset Management yang mengurangi posisi beli atau long position yuan, sementara T. Rowe Price menilai yuan saat ini sudah terlihat mahal dibandingkan sekeranjang mata uang mitra dagang utama.

Eddie Cheung, Senior Emerging Markets Strategist di Credit Agricole CIB, menambahkan bahwa pasar kemungkinan memandang kebijakan fixing pada Jumat sebagai lampu hijau bagi yuan untuk melanjutkan tren penguatan secara bertahap. Namun, ia tetap mengingatkan bahwa penurunan indeks yuan berbasis perdagangan menunjukkan PBOC belum tentu ingin yuan menguat secara agresif dalam waktu dekat.

Kesimpulan Pasar Keuangan Asia

Secara keseluruhan, pasar keuangan Asia saat ini berada dalam fase transisi yang dipengaruhi oleh berbagai kebijakan moneter domestik dan ketegangan geopolitik global. Sementara rupiah harus berjuang keras memulihkan posisinya, yuan China justru memanfaatkan kebijakan strategis untuk menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sepanjang tahun ini.

Dinamika ini menegaskan pentingnya kebijakan moneter yang adaptif bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah arus modal global yang fluktuatif. Pelaku pasar akan terus memantau apakah rupiah mampu bangkit di pekan depan atau justru akan terus tertekan oleh sentimen eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Baca Juga

Loading...