Rupiah Menguat Seiring Perkembangan Positif Antara AS dengan Iran

Table of Contents
Rupiah menguat seiring perkembangan positif antara AS dengan Iran - ANTARA News Jawa Timur
Rupiah Menguat Seiring Perkembangan Positif Antara AS dengan Iran

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan Jumat pagi seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mata uang Garuda terapresiasi sebesar 63 poin atau sekitar 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.128 per dolar AS.

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah ini didorong oleh sentimen positif global dari negosiasi diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut Rully, perkembangan geopolitik tersebut berhasil meredam kekhawatiran pasar dan menekan harga minyak mentah dunia ke level yang lebih rendah.

Pada transaksi hari ini, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan berfluktuasi secara positif dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh penguatan mata uang regional di kawasan Asia serta indeks dolar AS yang cenderung bergerak stabil.

Meredanya Konflik Geopolitik AS dan Iran Melalui Jalur Diplomasi

Berdasarkan laporan kantor berita Sputnik, militer Amerika Serikat memutuskan untuk menangguhkan rencana serangan udara lanjutan terhadap wilayah Iran. Langkah penangguhan ini diambil demi mendukung proses negosiasi perdamaian yang saat ini tengah berlangsung aktif di antara kedua belah pihak.

Meski demikian, Washington menegaskan bahwa komando militer mereka tetap berada dalam status siaga tempur dan siap beroperasi kembali jika perundingan menemui jalan buntu. Pihak Gedung Putih menyatakan komitmen penuh untuk tetap memprioritaskan penyelesaian konflik melalui mekanisme diplomasi internasional yang damai.

Di sisi lain, perwakilan pejabat pertahanan Amerika Serikat membantah keras klaim sepihak dari Teheran mengenai adanya serangan baru pada Kamis malam. Washington menyebut laporan terkait serangan udara susulan tersebut sama sekali tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta lapangan.

Sebelumnya, eskalasi konflik sempat memuncak pada Rabu (8/7) dini hari saat militer Amerika Serikat meluncurkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran. Tindakan militer tersebut langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Iran yang mengutuk keras agresi bersenjata tersebut.

Meredanya Konflik Geopolitik AS dan Iran Melalui Jalur Diplomasi

Sebagai bentuk pembalasan, pasukan militer Iran segera meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Teheran juga menuduh pihak Washington telah melanggar kesepakatan tertulis mengenai penghentian permusuhan yang telah disepakati bersama sebelumnya.

Faktor Domestik yang Menahan Laju Penguatan Rupiah

Meskipun mendapat dorongan positif dari meredanya konflik global, laju apresiasi rupiah masih tertahan oleh sejumlah rilis data ekonomi domestik. Rully Nova menyebutkan beberapa indikator makroekonomi dalam negeri saat ini masih menjadi beban bagi pergerakan mata uang nasional.

Salah satu sentimen negatif bersumber dari neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Angka defisit ini sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan beruntun yang sempat bertahan selama 72 bulan sejak Mei 2020.

Kondisi ini diperparah oleh proyeksi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2026 hingga mencapai Rp734,3 triliun. Angka defisit APBN tersebut setara dengan 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Realisasi proyeksi defisit ini lebih tinggi dibandingkan dengan target awal dalam Undang-Undang APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp689,1 triliun. Target awal tersebut sebelumnya dirancang hanya sebesar 2,68 persen dari total PDB Indonesia.

Selain itu, Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Penjualan Eceran untuk periode Juni 2026 yang menunjukkan performa indeks masih terkontraksi. Indeks Penjualan Riil diperkirakan berada di level 221,6 atau mengalami penurunan performa sebesar 4,4 persen secara tahunan.

Meskipun demikian, Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa keyakinan konsumen terhadap iklim ekonomi nasional secara umum masih berada pada level optimistis. Indeks Keyakinan Konsumen per Juni 2026 tercatat sebesar 117,8 yang menunjukkan persepsi masyarakat tetap terjaga positif.

Meskipun berada dalam zona optimis di atas angka 100, pencapaian indeks tersebut nyatanya lebih rendah dari bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, Indeks Keyakinan Konsumen pada bulan Mei 2026 mampu mencapai level yang lebih tinggi yaitu sebesar 120,9.

Baca Juga

Loading...