Review Film Moana: Dwayne Johnson Terjebak dalam Proyek Live-Action yang Hambar

Table of Contents
Moana review – Dwayne Johnson’s demigod on autopilot in dull live-action remake | Film | The Guardian
Review Film Moana: Dwayne Johnson Terjebak dalam Proyek Live-Action yang Hambar

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Disney kembali merilis film Moana dalam versi live-action yang mengadaptasi kesuksesan animasi asli tahun 2016. Sayangnya, proyek ambisius ini justru terasa seperti upaya monetisasi belaka tanpa jiwa yang segar.

Cerita berfokus pada perjalanan Moana, putri kepala suku yang harus menyelamatkan pulau Motunui dari krisis ekologis yang mengancam. Ia bersekutu dengan demigod Maui untuk mengembalikan hati dewi Te Fiti yang hilang demi memulihkan keseimbangan alam.

Kualitas Produksi dan Pendekatan Visual

Penggunaan CGI dalam film ini sangat dominan, bahkan membuat batasan "live-action" terasa kabur dan tidak bermakna di mata penonton. Banyak pihak merasa bahwa ini hanyalah animasi 3D yang dipoles dengan teknologi terbaru, bukan sebuah karya aksi nyata yang dijanjikan.

Karakter kepiting raksasa Tamatoa, yang kembali diisi suaranya oleh Jemaine Clement, muncul sebagai antagonis utama bagi Maui. Sayangnya, desain karakternya hanya menjadi perpanjangan dari bentuk 2D lama yang kini terasa kurang orisinal dan tidak lagi istimewa.

Performa Aktor dan Chemistry

Dwayne Johnson kembali memerankan Maui, namun performanya dalam film ini terasa sangat repetitif dan minim inovasi karakter. Ia terlihat seperti sedang menggunakan sistem "autopilot" tanpa memberikan dimensi emosional baru pada perannya yang ikonik tersebut.

Kualitas Produksi dan Pendekatan Visual

Meskipun terlihat kaku, interaksi antara Johnson dan lawan mainnya, Catherine Laga’aia, sebenarnya cukup manis dan terbangun dengan baik di layar. Laga’aia berhasil memerankan sosok Moana yang tangguh dengan energi yang cukup menyegarkan bagi penonton di tengah narasi yang datar.

Analisis Terhadap Materi Adaptasi

Sutradara Broadway, Thomas Kail, memulai debut filmnya dengan mencoba menghidupkan kembali lagu-lagu ikonik gubahan Lin-Manuel Miranda. Upaya ini sebenarnya dilakukan secara kompeten, namun terasa tidak memiliki panggung yang cukup kuat untuk bersinar secara maksimal.

Naskah yang ditulis oleh Jared Bush tampaknya tidak banyak menawarkan modifikasi signifikan dari materi sumber asli yang dirilis dua tahun lalu. Hal ini membuat keseluruhan narasi terasa seperti pengulangan yang membosankan bagi siapa saja yang telah menonton versi animasinya.

Bagi penonton yang mengharapkan sesuatu yang baru, film ini mungkin akan terasa sebagai produk sinematik yang sangat superfluas atau tidak perlu. Upaya untuk mengubah Moana menjadi live-action ini memang terbukti teknis namun gagal dalam memberikan pengalaman artistik yang unik.

Kesimpulan Film Moana

Kritikus menilai bahwa adaptasi ini lebih mementingkan aspek komersial perusahaan daripada esensi cerita yang ada dalam animasi aslinya. Keputusan studio untuk merilis ulang kisah ini tanpa inovasi nyata menjadi poin utama dalam kritik negatif yang bermunculan.

Akhirnya, Moana versi live-action tetap berdiri sebagai sebuah karya yang secara teknis kompeten tetapi pada dasarnya tidak diperlukan. Ini adalah contoh nyata di mana nostalgia tidak cukup kuat untuk menyelamatkan sebuah proyek dari kesan hambar dan repetitif.

Baca Juga

Loading...