Rehat Dulu, IHSG Sesi I Turun 0,39% ke Level 6.315

Table of Contents
Rehat Dulu, IHSG Sesi I Turun 0,39% ke Level 6.315
Rehat Dulu, IHSG Sesi I Turun 0,39% ke Level 6.315

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya parkir di zona merah pada perdagangan Rabu (22/7/2026) setelah sempat menunjukkan performa yang impresif. Pergerakan indeks terkoreksi 0,39% atau 24,47 poin ke level 6.315,55 pada penutupan sesi pertama hari ini.

Koreksi tipis ini secara teknis mematahkan tren reli penguatan yang telah berlangsung selama sembilan hari bursa berturut-turut. Aksi ambil untung (profit taking) oleh investor menjadi pemicu utama indeks berbalik arah sebelum memasuki jeda makan siang.

Analisis Performa Perdagangan Sesi Pertama

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas pasar hingga jeda makan siang menunjukkan dinamika yang cukup tinggi. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp 11,24 triliun, mencerminkan likuiditas yang masih terjaga di tengah tekanan jual.

Volume perdagangan mencapai 28,93 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,81 juta kali transaksi. Secara sektoral, tekanan jual lebih mendominasi dengan catatan 366 saham melemah, dibandingkan 238 saham yang menguat, dan 190 saham bergerak stagnan.

Sebelum terkoreksi hari ini, IHSG sebenarnya sedang berada dalam momentum penguatan yang sangat solid. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, indeks sempat melesat 1,74% hingga berhasil menembus level psikologis 6.300.

Pencapaian reli selama sembilan hari beruntun tersebut tercatat sebagai rekor yang cukup langka dalam setahun terakhir. Terakhir kali IHSG mampu membukukan kenaikan beruntun selama periode serupa terjadi pada Juli 2025, di mana laju penguatan bahkan berlanjut hingga 11 hari perdagangan.

Sentimen Pasar dan Pengaruh Dana Asing

Selain reli sembilan hari berturut-turut, IHSG juga menunjukkan performa luar biasa dengan melesat dalam 14 dari 15 hari perdagangan terakhir. Sejak awal Juli 2026, IHSG tercatat hanya sekali ditutup melemah, yakni pada 8 Juli 2026.

Sejak koreksi pada 8 Juli tersebut, indeks telah mengakumulasi penguatan sebesar 7,93% hingga kemarin. Secara month-to-date (MtD), kinerja IHSG sepanjang Juli 2026 juga sangat memuaskan dengan lonjakan sebesar 12,35%.

Analisis Performa Perdagangan Sesi Pertama

Penguatan yang terjadi selama periode ini tidak lepas dari kembalinya minat investor asing terhadap pasar modal domestik. Data BEI mencatat investor asing membukukan net buy sebesar Rp1,99 triliun dalam rentang 16 Juli hingga 21 Juli 2026.

Aksi beli asing ini terlihat konsisten sejak 16 Juli dengan angka net buy Rp1,22 triliun, diikuti Rp638,05 miliar pada 17 Juli. Kemudian pada 20 Juli dan 21 Juli, asing kembali masuk masing-masing sebesar Rp96,72 miliar dan Rp31,36 miliar.

Peningkatan nilai transaksi harian juga menjadi indikator bahwa penguatan IHSG kali ini cukup sehat dan didukung oleh partisipasi investor yang nyata. Dalam tiga hari terakhir, nilai transaksi harian konsisten bertahan di atas Rp15 triliun setelah sempat menyentuh titik terendah pada 10 Juli.

Menanti Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia

Di luar faktor teknis, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang hasilnya diumumkan siang ini. RDG yang berlangsung sejak 21-22 Juli 2026 ini menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.

Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi, mayoritas responden memproyeksikan adanya kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps). Jika terealisasi, suku bunga akan naik dari 5,75% menjadi 6,00% sebagai respons terhadap tekanan inflasi.

Sebanyak delapan responden mendukung skenario kenaikan 25 bps, sementara enam responden lainnya memperkirakan suku bunga akan ditahan di level 5,75%. Keputusan ini akan menjadi pengetatan keempat yang dilakukan Bank Indonesia sepanjang tahun 2026.

Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei hingga mencapai 5,75% pada Juni. Tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu alasan utama mengapa ekonom memperkirakan adanya kenaikan lebih lanjut.

Selain sentimen domestik tersebut, investor juga terus memantau indikator ekonomi global yang krusial. Data tingkat pengangguran Inggris dan neraca perdagangan Jepang menjadi variabel eksternal yang turut mewarnai sentimen pasar keuangan pada hari ini.

Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia saat ini sedang berada dalam masa transisi menanti arah kebijakan moneter yang lebih pasti. Meskipun sesi pertama berakhir di zona merah, investor tetap optimistis melihat solidnya fundamental yang terbentuk selama reli panjang di bulan Juli ini.

Baca Juga

Loading...