MIP IV Jadi Momentum Konsolidasi Ilmuwan NU Perkuat Riset demi Kemandirian Organisasi
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV secara resmi menjadi titik balik krusial bagi para akademisi dan ilmuwan Nahdlatul Ulama (NU) dalam memperkuat ekosistem riset nasional. Kegiatan strategis ini berlangsung di Aula Lantai 4 Gedung Perpustakaan UIN Sunan Kudus pada Jumat, 26 Juni 2026.
Forum ini mengangkat tema besar "Kontribusi Ilmuwan terhadap Jam'iyyah dan Jamaah Nahdlatul Ulama" sebagai komitmen nyata untuk menjawab tantangan zaman. Pertemuan ini berhasil mengumpulkan deretan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), serta Universitas Sebelas Maret (UNS).
Transformasi Peran Intelektual dalam NU
Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah, Prof. Musahadi, mengungkapkan bahwa Muktamar Ilmu Pengetahuan telah mengalami evolusi signifikan sejak pertama kali digelar. Menurutnya, forum ini tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi antar sarjana, tetapi kini telah berorientasi pada penguatan peran ilmu pengetahuan dalam membangun masyarakat sipil dan kemandirian organisasi.
Di tengah dinamika organisasi yang kian kompleks, semangat intelektual NU terbukti tetap konsisten hidup dan berkembang. Prof. Musahadi menegaskan bahwa ilmuwan NU berperan sebagai penanda sekaligus peneduh karena orientasi utama mereka adalah memberikan kemaslahatan bagi umat luas.
Ia sangat berharap MIP dapat terus menjadi wadah inklusif bagi berkumpulnya para ilmuwan NU untuk menghidupkan tradisi intelektual yang progresif. Baginya, pencarian dan penyampaian kebenaran ilmiah merupakan manifestasi dari jalan kenabian yang harus senantiasa dijaga oleh seluruh kalangan akademisi.
Integrasi Ilmu Agama dan Sains Modern
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh, memberikan penekanan kuat bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh sekadar berhenti pada publikasi ilmiah semata. Pengetahuan tersebut harus ditransformasikan dalam bentuk pengabdian konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Saat ini, Nahdlatul Ulama sejatinya telah memiliki banyak guru besar dari beragam disiplin ilmu, mulai dari bidang sains hingga humaniora. Tantangan yang kini harus dihadapi adalah membangun laboratorium bersama sebagai ruang kolaborasi lintas bidang untuk mengakhiri dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.
KH Ubaidillah Shodaqoh menegaskan bahwa ilmu harus diamalkan sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang ilmuwan kepada Tuhan dan umat. Kolaborasi lintas disiplin ini dipandang sebagai kunci utama untuk memecahkan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks di masa depan.
Menjawab Tantangan NU di Abad Kedua
Sesi diskusi yang dipandu oleh Prof. Ahmad Syakir Kurnia dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, yang juga merupakan akademisi Universitas Diponegoro, menjadi sorotan utama dalam forum ini. Dalam pengantarnya, ia mengajukan pertanyaan kritis mengenai arah pengembangan ilmu pengetahuan NU memasuki abad kedua organisasi.
Selama satu abad perjalanan panjang, NU telah berhasil melahirkan ribuan ulama yang konsisten menjaga tradisi keislaman yang moderat. Tantangan besar yang kini muncul adalah bagaimana menjadikan NU sebagai rumah besar yang nyaman bagi berkembangnya ilmu pengetahuan modern.
Prof. Ahmad Syakir Kurnia menantang forum dengan pertanyaan fundamental mengenai mengapa NU terkadang masih merasa tertinggal dalam pengembangan riset dan siapa yang harus memikul tanggung jawab tersebut. Pertanyaan ini memicu refleksi mendalam di kalangan peserta mengenai peran strategis setiap individu cendekiawan.
Kekuatan Sanad dalam Inovasi Teknologi
Pada sesi yang sama, Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Abdurrahman Kasdi, memaparkan materi bertajuk "Peran Cendekiawan dalam Membangun Peradaban NU". Ia menegaskan bahwa kekuatan tradisi intelektual NU terletak pada kesinambungan sanad keilmuan yang tidak pernah terputus.
Sanad menjadi kekuatan utama dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual sehingga NU tidak pernah mengalami patahan pengetahuan di sepanjang sejarahnya. Hal ini menjadi modal kuat bagi NU untuk melangkah lebih jauh dalam mengembangkan keilmuan di era digital.
Prof. Abdurrahman Kasdi juga menyoroti pesatnya perkembangan jaringan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di berbagai daerah sebagai modal strategis. Menurutnya, memasuki abad kedua, NU perlu memperluas kiprahnya pada bidang sains, teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan berbagai disiplin ilmu baru.
Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi modern tersebut harus tetap berakar pada tradisi keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu. Melalui Muktamar Ilmu Pengetahuan IV ini, para ilmuwan NU diharapkan mampu melahirkan kolaborasi riset yang solutif serta memperkokoh kemandirian jam'iyyah di masa depan.