Menyusuri Jalur Silsilah Perasaan Lewat Buku Sanad Rindu dari Kajen

Table of Contents
Menyusuri Jalur Silsilah Perasaan Lewat Buku
Menyusuri Jalur Silsilah Perasaan Lewat Buku Sanad Rindu dari Kajen

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Sebuah karya literatur yang merangkum memori, spiritualitas, dan romantisme masa-masa nyantri resmi lahir ke hadapan publik melalui peluncuran buku berjudul "Sanad Rindu dari Kajen" di Pondok Pesantren Ar-Roudloh, Kajen, Margoyoso, Pati, pada Kamis, 25 Juni 2026. Acara peluncuran dan bedah buku tersebut menjadi momen emosional yang dihadiri oleh puluhan alumni, santri aktif, serta kiai setempat, yang semuanya terikat dalam memori kolektif tentang desa tersebut.

Buku ini merupakan hasil kolaborasi kreatif dari sejumlah alumni madrasah maupun pesantren di Kajen yang memiliki ikatan batin kuat dengan almamaternya. Nama-nama penulis yang terlibat meliputi Angga Saputra, Siswanto, Zainal Abidin, Niam At Majha, Andi Syarqowi, Elin Khanin, Inayatun Najikah, Nur Hayati Aida, Aba Fariduddin, dan Taufiq Hakim.

Mendokumentasikan "Jalur Silsilah" Perasaan

Karya ini bukan sekadar catatan harian atau memoar biasa, melainkan sebuah ikhtiar literasi yang mendalam untuk mendokumentasikan "jalur silsilah" perasaan para alumnus terhadap tanah Kajen. Desa ini sendiri dikenal luas sebagai salah satu episentrum spiritual sekaligus pencetak ulama besar yang sangat disegani di Tanah Jawa.

Siswanto, salah satu penulis buku tersebut, mengungkapkan bahwa latar belakang penulisan karya ini berangkat dari sebuah pengakuan jujur dari hati seorang alumnus yang merindukan masa-masa belajarnya. Menurutnya, sejauh apa pun kaki melangkah dan ke mana pun arah pulang, hati seorang santri akan selalu memiliki jalur silsilahnya sendiri yang bermuara di Kajen.

Dalam tradisi pesantren, sanad adalah garis pertanggungjawaban ilmu agar tidak kehilangan berkah dan otentisitasnya dari guru kepada murid. Namun, ketika konsep sanad ini berkaitan erat dengan rindu, maknanya bertransformasi menjadi sebuah silsilah perasaan yang utuh dan sangat personal bagi para pelakunya.

Rindu yang dirasakan hari ini bukanlah sesuatu yang tumbuh dari ruang hampa, melainkan tersambung langsung ke hangatnya gotakan atau kamar pondok, bangku sekolah, hingga teduhnya tatapan para kiai. Ini adalah wujud 'Rindu yang Sahih', yang murni, valid, dan tak terbantahkan karena seluruh penulis benar-benar pernah melakoni hidup di sana, tambah dosen Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) ini.

Kajen Sebagai Episentrum Spiritual

Angga Saputra, salah satu penulis yang juga berperan aktif dalam proyek ini, menekankan alasan kuat mengapa buku tersebut secara spesifik mengangkat nama Kajen sebagai tema sentral. Baginya dan bagi para alumni lainnya, Kajen bukan sekadar nama geografis di Kecamatan Margoyoso, melainkan sebuah episentrum spiritual yang tak tergantikan.

Di tanah inilah bersemayam Waliyyullah Syekh Ahmad Mutamakkin, sang hulu keberkahan yang menjadi magnet bagi para pencari ilmu di Nusantara. Mondok dan sekolah di Kajen secara otomatis berarti seseorang terhubung dalam satu ikatan sanad keilmuan dan spiritualitas yang sama dan berkelanjutan.

Mendokumentasikan "Jalur Silsilah" Perasaan

Buku ini dirancang sebagai mesin waktu bagi pembaca untuk menyusuri kembali kenangan masa lalu yang mungkin telah terkubur oleh rutinitas kehidupan dewasa. Mulai dari riuh suasana sekolah, kehangatan pondok, aroma tempat makan legendaris, hingga sudut Kajen yang menjadi saksi bisu perjuangan, semuanya terekam dengan apik di dalam karya ini.

Buku ini tidak ditulis untuk sekadar meratapi masa lalu yang telah lewat, tetapi lebih kepada upaya merawat ingatan agar kita tidak lupa pada 'hulu' tempat kita dibentuk. Bagi para alumni, selamat pulang dan selamat menyusuri kembali jalur sanad rindu ini, tutur ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Pati ini.

Apresiasi Tokoh Intelektual Muslim

Apresiasi tinggi terhadap kehadiran buku ini juga datang dari sejumlah tokoh, akademisi, dan intelektual Muslim yang melihat pentingnya dokumentasi memori pesantren. Penulis Buku Syekh Mutamakkin sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Peradaban Santri, Zainul Milal Bizawie, menyebut karya ini sangat asyik dan renyah untuk dinikmati oleh berbagai kalangan.

Bahasanya ringan, enak dibaca, tapi kental banget sama tradisi santri Kajen yang autentik, sehingga memberikan gambaran nyata kehidupan pesantren. Semoga dengan hadirnya buku ini, semakin banyak anak muda yang jatuh cinta dan betah mondok di Kajen karena di sini sanad ilmunya terjaga lewat para masyayikh yang mumpuni, ujar dia.

Senada dengan hal itu, Prof Islah Gusmian, yang merupakan Alumni Madrasah Salafiyah sekaligus Guru Besar Tafsir dan Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, menilai buku ini memiliki kedalaman rasa yang kuat. Baginya, buku ini berhasil menangkap esensi hubungan antara santri dan pesantrennya dengan narasi yang sangat menyentuh hati.

Sanad Rindu dari Kajen bukan sekadar kumpulan memoar, melainkan mosaik kenangan yang merawat hubungan batin antara murid, guru, dan kampung ilmu. Di tangan para alumni muda, Kajen hadir bukan sebagai ruang geografis yang beku dalam nostalgia, tetapi sebagai mata air nilai yang terus mengalir dalam perjalanan hidup mereka, ungkap Prof. Islah.

Rekaman Kenangan yang Tak Mungkin Hilang

Ketua PBNU Bidang Media dan Advokasi sekaligus Co-Founder NU Online, Savic Ali, menegaskan bahwa Kajen adalah tempat ribuan manusia menyimpan kenangan akan susah-senangnya menimba ilmu dan mencari berkah. Ia menilai buku ini sebagai rekaman penting atas perjalanan para santri dalam mencari jati diri di lingkungan pesantren.

Masyarakatnya, kiai-kiai, makam masyayikh, dan terutama Mbah Mutamakkin, akan senantiasa melekat di relung santri yang menghayatinya. Buku ini adalah rekaman pertama atas kenangan-kenangan yang tak mungkin hilang atas Kajen, desa yang punya sejarah panjang dalam penyebaran ajaran dan keilmuan Islam di Jawa bagian utara, tutur dia.

Melalui peluncuran buku "Sanad Rindu dari Kajen" ini, diharapkan nilai-nilai sarat berkah dari para kiai dan bumi Kajen dapat terus mengalir dan menjaga identitas santri di mana pun mereka mengabdi. Harapannya, karya ini menjadi inspirasi bagi santri-santri lain di seluruh Indonesia untuk mendokumentasikan jejak spiritual dan memori masa nyantri mereka sebagai kekayaan literasi bangsa.

Baca Juga

Loading...