Kisah di Balik Boneka Unta: Oleh-Oleh Favorit Jamaah Haji dari Tanah Suci
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Di antara deretan koper besar, kardus air zamzam, dan bungkusan kurma yang memenuhi pelataran Asrama Haji Donohudan, terdapat satu benda yang selalu mencuri perhatian setiap musim pemulangan haji, yakni boneka unta. Boneka-boneka berbulu lembut itu tampak menggantung di leher para jamaah, dijinjing di tangan, bahkan ada yang sengaja dipeluk selama menunggu bus yang akan mengantar mereka pulang ke kampung halaman.
Pemandangan unik tersebut kembali terlihat pada Sabtu, 27 Juni 2026, di penghujung operasional pemulangan jamaah haji 1447 H/2026 M di Debarkasi Solo. Setelah mendarat di Bandara Adi Soemarmo, para jamaah diarahkan menuju Gedung Muzdalifah di Asrama Haji Donohudan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing.
Tradisi Membawa Oleh-Oleh dari Tanah Suci
Waktu sekitar tiga puluh menit menjadi kesempatan berharga bagi para jamaah untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan udara yang panjang. Sebagian jamaah memilih menikmati makanan ringan yang disediakan oleh petugas, sementara yang lainnya berjalan menuju deretan kios di samping gedung untuk membeli oleh-oleh khas.
Di kios-kios tersebut, berbagai cendera mata khas Tanah Suci tersusun rapi dan menarik minat para jamaah, mulai dari kurma, air zamzam, tasbih, sajadah, hingga boneka unta. Bagi para jamaah, benda-benda ini bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol kenangan spiritual yang dibawa pulang untuk dibagikan kepada keluarga tercinta.
Makna Mendalam di Balik Boneka Unta
Bagi sebagian orang, boneka unta mungkin hanya terlihat sebagai mainan biasa yang diperjualbelikan di area asrama. Namun bagi para jamaah haji, benda sederhana itu menyimpan makna yang lebih dalam karena unta adalah hewan yang sangat lekat dengan lanskap Timur Tengah.
Bagi mereka, boneka ini menjadi perwujudan pengalaman nyata yang selama ini hanya mereka saksikan melalui buku, televisi, atau cerita para pendahulu. Kini, kenangan tersebut dapat mereka bawa pulang dalam bentuk boneka yang kelak akan menjadi hadiah istimewa bagi anak atau cucu mereka di rumah.
Prosedur Resmi Pemulangan Jamaah Haji
Kepala Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Solo, Fitriyanto, menegaskan bahwa seluruh jamaah terlebih dahulu mendapatkan layanan penyambutan yang terorganisir. Proses ini memastikan setiap jamaah merasa nyaman sebelum diserahkan kembali kepada petugas haji daerah masing-masing.
“Prosesnya sesuai prosedur, yakni dilakukan penyambutan, disapa, dibagikan snack, kemudian diserahkan kepada petugas haji daerah. Selanjutnya petugas daerah menyiapkan transportasi, pengawalan, hingga ambulans apabila ada jamaah yang membutuhkan penanganan kesehatan,” ujar Fitriyanto menjelaskan alur operasional di lapangan.
Denyut Ekonomi di Sekitar Asrama Haji
Sementara para petugas sibuk menyelesaikan administrasi pemulangan, denyut ekonomi kecil tampak tumbuh subur di sekitar area asrama. Para pedagang terlihat sibuk melayani pembeli yang antusias, baik yang menunggu di kios maupun yang mendekati bus-bus penjemput untuk menawarkan dagangan mereka.
Akhmad Arief, salah seorang pedagang di kawasan tersebut, mengaku bahwa masa pemulangan selalu menjadi waktu yang paling ramai dibandingkan saat masa keberangkatan. Banyak jamaah yang sudah memesan barang sebelumnya, sehingga momen kepulangan menjadi puncak transaksi bagi para pedagang lokal.
“Banyak yang sudah pesan sebelumnya, jadi tinggal mengambil saja. Ada juga pengurus KBIHU yang memesan untuk jamaahnya, sehingga saat pulang memang lebih ramai,” ungkap Akhmad Arief mengenai dinamika penjualan oleh-oleh tersebut.
Pengalaman Jamaah dan Harapan Keluarga
Harga boneka unta sendiri sangat beragam, mulai dari Rp100 ribu untuk tiga boneka berukuran kecil hingga ratusan ribu rupiah untuk ukuran besar yang dapat mengeluarkan suara. Variasi harga ini memudahkan jamaah untuk memilih cendera mata sesuai dengan anggaran dan kebutuhan mereka.
Salah satu pembeli, H Prihadi, jamaah asal Kendal, tampak tersenyum lebar sambil memegang boneka unta berwarna cokelat di tangannya. Ia mengaku sebenarnya tidak sempat membeli oleh-oleh saat masih berada di Arab Saudi karena padatnya rangkaian ibadah.
“Saat di Tanah Suci memang tidak sempat beli, namun waktu pulang melihat banyak teman membawa boneka unta, saya jadi kepikiran. Ini buat cucu saya, karena anak-anak sudah besar semua, jadi yang paling senang nanti pasti cucu,” tuturnya dengan penuh kebahagiaan.
Selain membeli boneka unta, H Prihadi juga menyempatkan diri membeli tambahan air zamzam karena jatah lima liter yang diterima setiap jamaah dirasa belum cukup. Pada akhirnya, oleh-oleh bukan sekadar barang bawaan, melainkan bentuk kasih sayang dan cara jamaah untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga di rumah setelah menyelesaikan perjalanan spiritual yang panjang.