Gus Yusuf Chudlori Luruskan Mitos Bulan Suro: Muharram Bulan Mulia
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pengasuh Pondok Pesantren API ASRI Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori, angkat bicara mengenai berbagai mitos yang menyelimuti bulan Suro di tengah masyarakat Jawa. Penjelasan ini disampaikan pada Sabtu, 27 Juni 2026, sebagai upaya meluruskan pemahaman keliru mengenai bulan Muharram yang sering dianggap angker.
Datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah serta meningkatkan kualitas ibadah. Namun, Gus Yusuf menyoroti bahwa semangat menyambut pergantian tahun Hijriyah di kalangan generasi muda saat ini dinilai masih kalah dibandingkan kemeriahan Tahun Baru Masehi.
Memahami Akar Mitos Bulan Suro
Di sisi lain, sebagian masyarakat Jawa, terutama generasi tua, masih lebih akrab menyebut Muharram sebagai bulan Suro. Penyebutan tersebut kemudian berkembang menjadi beragam keyakinan dan mitos yang diwariskan secara turun-temurun, seperti anggapan bahwa bulan ini penuh dengan suasana mistis.
Menurut Gus Yusuf, ketika mendengar kata "Suro", sebagian masyarakat Jawa langsung mengaitkannya dengan suasana mistis dan berbagai pantangan yang tidak memiliki landasan syariat. Tidak sedikit yang meyakini malam 1 Suro identik dengan kemunculan makhluk gaib atau sosok Nyi Roro Kidul yang melegenda di masyarakat.
Lebih lanjut, berkembang pula anggapan bahwa bulan Suro merupakan waktu yang tidak baik untuk menggelar hajatan maupun melaksanakan khitan bagi anak-anak. Stigma angker ini seringkali membuat masyarakat takut untuk merencanakan acara penting selama bulan Muharram berlangsung.
"Bagi orang Jawa, begitu disebut Suro, pikirannya sudah berbeda dan yang muncul adalah stigma angker serta berbagai mitos yang berkembang di masyarakat," ujar Gus Yusuf dalam pernyataannya pada Sabtu (27/6/2026). Beliau menekankan bahwa pandangan ini perlu diluruskan agar tidak menjauhkan umat dari keberkahan bulan Muharram.
Meluruskan Anggapan Larangan Hajatan
Gus Yusuf memberikan contoh nyata mengenai pepatah yang melarang anak dikhitan pada bulan Suro karena diyakini luka akan sulit sembuh. Begitu pula dengan hajatan pernikahan yang sering dihindari karena dipercaya dapat membawa kesialan atau membuat pasangan tidak harmonis.
Menurut A'wan Syuriyah PWNU Jateng ini, keyakinan semacam itu tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam karena Muharram justru merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa pemahaman orang tua zaman dahulu sebenarnya tidak sepenuhnya keliru, namun interpretasinya yang perlu diperbaiki.
"Orang tua zaman dulu itu sebenarnya sudah benar, di mana maksudnya adalah agar kita memperbanyak prihatin, meningkatkan ibadah, melakukan tirakat, dan berpuasa pada tanggal 1 sampai 10 Muharram," jelas Gus Yusuf. Beliau menambahkan bahwa saran untuk tidak menggelar hajatan bertujuan agar suasana ibadah tidak terganggu oleh pesta, bukan karena bulan itu membawa sial.
Peristiwa Besar di Bulan Muharram
Gus Yusuf menegaskan bahwa makna Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT dan menjadi saksi berbagai peristiwa besar dalam sejarah para nabi. Salah satu peristiwa penting adalah dipertemukannya kembali Nabi Adam AS dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah pada 10 Muharram setelah keduanya bertaubat.
Peristiwa tersebut, menurut Gus Yusuf, justru menjadi simbol kasih sayang dan pengampunan Allah, bukan pertanda kesialan seperti yang dikhawatirkan sebagian orang. Hal ini membuktikan bahwa Muharram adalah waktu yang penuh rahmat dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Untuk membantah mitos larangan menikah pada bulan Suro, Gus Yusuf membagikan pengalaman keluarganya sendiri yang memiliki kakak menikah pada malam satu Suro. Beliau bersyukur bahwa kehidupan kakaknya berjalan dengan baik, sehingga anggapan menikah di bulan Suro tidak memiliki keturunan adalah tidak benar.
Menjaga Tradisi Tanpa Mitos
Selain itu, beliau juga mengingatkan kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan Allah SWT ketika dikejar oleh Firaun yang zalim. Matinya Firaun sebagai raja zalim pada bulan Muharram kemudian oleh sebagian masyarakat Jawa dihubungkan dengan kesan angker yang melekat pada bulan Suro.
Gus Yusuf menilai masyarakat Jawa memiliki kemampuan kreatif dalam menghubungkan berbagai peristiwa sejarah dengan tradisi lokal yang ada. Dari kisah Nabi Musa, muncul tradisi jamasan pusaka atau mencelupkan keris pada bulan Suro, yang dianggap memiliki keterkaitan dengan mukjizat tongkat Nabi Musa.
"Orang Jawa kalau membuat gotak-gatuk memang pintar, namun tradisi menjamas pusaka dengan kisah Nabi Musa membelah laut padahal keduanya tidak ada hubungannya," tuturnya dengan bijak. Beliau mengajak umat Islam untuk tidak terjebak pada mitos yang tidak memiliki dasar dalam ajaran agama.
Pesan utamanya adalah menjadikan Muharram sebagai bulan untuk memperbanyak doa, puasa sunnah, bersedekah, membaca Al-Qur'an, dan berzikir. Gus Yusuf berharap masyarakat dapat menyibukkan diri dengan ibadah agar memperoleh keberkahan dari Allah SWT, bukan disibukkan dengan mitos yang tidak jelas sumbernya.