Kisah Rizki Syarif: Eks Gitaris Alexa Kini Jadi Ilmuwan CERN
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Nama Rizki Syarif, mantan gitaris grup band Alexa, kini tengah menjadi perbincangan hangat setelah bertransformasi dari musisi pop tanah air menjadi seorang ilmuwan fisika di pusat riset terkemuka dunia. Langkah mengejutkan ini diambil demi mengejar kecintaan mendalam terhadap sains yang melampaui gemerlapnya panggung hiburan.
Sebelum terjun ke dunia riset, pria ini memulai debutnya bersama Alexa pada tahun 2007 bersama rekan-rekannya seperti Aqi, Satrio, Fajar, dan JMono. Kehadiran Rizki sebagai gitaris ikut membangun karakter musik band tersebut hingga berhasil menelurkan berbagai lagu hits yang populer di Indonesia.
Lagu berjudul "Jangan Kau Lepas" menjadi salah satu karya yang melambungkan namanya di kancah musik nasional pada era 2000-an. Namun, pada tahun 2011, ia memutuskan hengkang dari band setelah merilis lagu perpisahan "Selagi Ku Mampu" dari album Edisi II.
Kepergiannya dari industri hiburan sempat mengejutkan publik karena tidak dipicu oleh konflik internal melainkan murni untuk melanjutkan studi. Minat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan menuntunnya untuk menempuh pendidikan magister Fisika di University of Sydney, Australia.
Setelah merampungkan gelar S-2 di Australia, ia melanjutkan studi doktoral (S-3) di Brown University yang berlokasi di Rhode Island, Amerika Serikat. Perjalanan akademik yang panjang dan penuh komitmen ini membawanya semakin dekat dengan mimpi besarnya di bidang sains.
Riset Fundamental Rizki Syarif di CERN Jenewa
Dedikasi risetnya kemudian mengantarkan ilmuwan muda ini menjadi bagian dari organisasi penelitian nuklir terbesar di dunia, yaitu CERN di Swiss. Di lembaga prestisius ini, ia terlibat dalam penelitian menggunakan Large Hadron Collider (LHC) yang merupakan akselerator partikel terbesar sejagat.
Fasilitas canggih di Jenewa tersebut dirancang khusus untuk memecahkan misteri mendasar mengenai pembentukan alam semesta dan partikel subatom. Keterlibatan ilmuwan asal Indonesia di fasilitas sekelas CERN tentu menjadi pencapaian luar biasa yang membanggakan negara.
Mengenai keputusannya bertahan di jalur akademik, mantan musisi ini mengungkapkan bahwa rasa suka belajar yang tinggi adalah mesin penggerak utamanya. Melalui wawancara di kanal YouTube Indonesia Mengglobal, ia menyatakan bahwa belajar, mengajar, dan mendapatkan penghasilan dari sana sudah menjadi motivasi yang sangat cukup.
Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, ia merencanakan untuk mengalihkan fokus risetnya dari fisika murni ke arah yang lebih aplikatif bagi masyarakat. Harapannya adalah agar luaran dari setiap penelitian yang ia lakukan dapat membawa manfaat nyata dan langsung dirasakan khalayak luas.
Perubahan jalan hidup ini juga diiringi dengan transformasi penampilan fisiknya yang kini jauh lebih bersahaja dan formal. Kisah perjalanan hidupnya membuktikan bahwa transisi karier dari industri kreatif menuju sains tingkat dunia bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
