Indeks Potensi Radikalisme di Kalimantan Selatan Meningkat: Analisis Mendalam
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Indeks Potensi Radikalisme (IPR) 2025 di Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dan memicu perhatian serius dari pemerintah. Berdasarkan data terbaru, angka IPR di wilayah ini melonjak menjadi 13,2, yang menandakan adanya pertumbuhan konstan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, data menunjukkan bahwa IPR Kalimantan Selatan pada tahun 2022 berada di angka 10,2, kemudian bergerak naik menjadi 10,8 pada 2023, dan terus mendaki hingga mencapai 12,1 pada 2024. Lonjakan ini menempatkan kondisi Kalimantan Selatan berada jauh di atas rata-rata IPR Nasional yang saat ini tercatat berada pada angka 10,1.
Membedah Tren di Bumi Lambung Mangkurat
Kondisi tersebut dibedah secara mendalam dalam forum Kajian Senin Kamis (KSK) bertajuk "Membedah Tren Potensi Radikalisme di Bumi Lambung Mangkurat". Forum ini diinisiasi oleh Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) RI bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan.
Diskusi yang berlangsung secara daring tersebut berfokus pada hasil survei mutakhir mengenai peta kerawanan radikalisme di wilayah tersebut. Agenda ini menjadi krusial sebagai langkah awal untuk menyelaraskan persepsi antar pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan ekstremisme.
Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus FKPT Kalsel, perwakilan perguruan tinggi, TNI/Polri, serta Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA). Selain itu, hadir pula Korem 101/Ant, Satgaswil Kalsel, Densus 88 AT, Kementerian Agama, Kesbangpol, Ikasba, hingga Dinas Pendidikan dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan.
Ancaman Ruang Digital dan Literasi Media
Direktur Pencegahan BNPT RI, Sigit Karyadi, memberikan peringatan tegas mengenai peran vital platform digital dalam penyebaran paham radikal. Kelompok ekstremis diketahui sangat aktif memanfaatkan ruang siber sebagai medium utama untuk melancarkan propaganda, melakukan indoktrinasi, hingga proses perekrutan anggota baru yang menyasar generasi muda.
Menurut Sigit, ekstremisme kini bermetamorfosis dengan menggunakan ruang media sosial untuk menormalisasi kekerasan yang berujung pada aksi terorisme. Oleh karena itu, pengawasan terhadap ruang digital menjadi agenda prioritas dalam strategi pencegahan nasional saat ini.
Di sisi lain, perwakilan Tim Review BNPT RI, Lilik Purwandi, memaparkan secara rinci kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap paparan paham radikal. Kelompok tersebut mencakup kaum perempuan, generasi muda atau Generasi Z, masyarakat urban, serta para pengguna internet aktif termasuk anak-anak.
Strategi Mitigasi Berbasis Masyarakat
Sebagai langkah mitigasi yang konkret, pihak BNPT RI merumuskan sejumlah instrumen pertahanan sosial yang bersumber dari internal masyarakat. Strategi penguatan daya tangkal ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang resisten terhadap ideologi ekstremis dari tingkat akar rumput.
Strategi tersebut meliputi optimalisasi kearifan lokal yang ada di Kalimantan Selatan untuk menangkal pengaruh luar yang negatif. Selain itu, pola pengasuhan dan pendidikan di lingkungan keluarga juga menjadi fokus utama dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini.
Pihak BNPT juga menekankan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan dan peningkatan literasi digital bagi masyarakat luas. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten radikal yang beredar di media sosial.
Terakhir, penerapan moderasi beragama menjadi instrumen penting untuk meredam potensi konflik dan intoleransi. Melalui pendekatan yang komprehensif, diharapkan angka IPR di Kalimantan Selatan dapat ditekan kembali ke tingkat yang lebih aman di masa depan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan Indeks Potensi Radikalisme (IPR)?
IPR adalah instrumen pengukuran yang digunakan oleh BNPT untuk memetakan tingkat kerawanan dan potensi penyebaran paham radikalisme di suatu wilayah, yang berfungsi sebagai dasar pengambilan kebijakan pencegahan.
Mengapa IPR di Kalimantan Selatan mengalami kenaikan?
Kenaikan IPR di Kalimantan Selatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah peningkatan aktivitas propaganda dan perekrutan kelompok ekstremis yang memanfaatkan platform digital secara masif, yang kemudian menyasar kelompok rentan seperti generasi muda.
Siapa saja kelompok yang paling rentan terhadap paparan radikalisme menurut BNPT?
Kelompok masyarakat yang paling rentan mencakup kaum perempuan, generasi muda (Generasi Z), masyarakat urban, serta pengguna internet aktif termasuk anak-anak, karena ketergantungan mereka pada ruang digital sebagai sumber informasi.
Apa langkah mitigasi yang disiapkan BNPT untuk Kalimantan Selatan?
BNPT menyiapkan strategi pertahanan sosial seperti optimalisasi kearifan lokal, penguatan pola asuh keluarga, peningkatan wawasan kebangsaan, peningkatan literasi digital, dan penerapan moderasi beragama untuk membangun daya tangkal masyarakat.
