Workshop Jurnalistik Filantropi NU Pekalongan: Perkuat Syiar dan Kemandirian Organisasi

Table of Contents
Workshop Jurnalistik Filantropi se-Karesidenan Pekalongan Raya, Perkuat Syiar dan Kemandirian
Workshop Jurnalistik Filantropi NU Pekalongan: Perkuat Syiar dan Kemandirian Organisasi

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pemalang, Indonesia - Sabtu, 2 Mei 2026, menjadi tonggak penting bagi kader Nahdlatul Ulama (NU) di Karesidenan Pekalongan Raya. Dalam upaya strategis untuk meningkatkan literasi media dan efektivitas pengelolaan filantropi, sebuah workshop bertajuk "Jurnalistik Filantropi se-Karesidenan Pekalongan Raya" sukses diselenggarakan. Kegiatan kolaboratif ini diinisiasi oleh NU Online Jawa Tengah bekerja sama dengan NU Online Institute, Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), serta Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Pemalang. Bertempat di Aula Gedung PCNU Pemalang, acara ini bertujuan memperkuat dakwah dan kiprah NU hingga ke lapisan akar rumput.

Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari tujuh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di wilayah Karesidenan Pekalongan Raya. Keberadaan mereka diharapkan dapat menjadi katalisator dalam penguatan kapasitas media dan sektor filantropi NU di masing-masing daerah. Workshop ini dirancang untuk membekali para kader dengan keterampilan jurnalistik yang mumpuni serta pemahaman mendalam mengenai pentingnya filantropi yang terorganisir.

Pentingnya Jurnalistik dalam Mengkomunikasikan Capaian NU

Ketua Tanfidziyah PCNU Pemalang, KH Abu Joharudin Bahry, dalam sambutannya menekankan urgensi peran media di era digital. Beliau menyoroti bagaimana banyak prestasi dan kontribusi nyata NU yang belum tersampaikan secara optimal kepada masyarakat luas, terutama warga NU di tingkat bawah. Gus Bahry, sapaan akrabnya, menyatakan keprihatinannya atas kesenjangan informasi tersebut.

“Selama ini banyak prestasi NU yang belum tersampaikan dengan baik. Padahal warga NU di tingkat bawah perlu mengetahui bahwa organisasi ini memiliki banyak kontribusi nyata,” ujar KH Abu Joharudin Bahry. Ia menambahkan bahwa dibandingkan era sebelumnya, di mana NU sering menjadi pusat perhatian publik, kini NU perlu lebih proaktif dalam membangun narasi positifnya sendiri melalui kanal-kanal media yang dimiliki.

KH Abu Joharudin Bahry membandingkan efektivitas penyampaian informasi di masa lalu dengan saat ini. Dulu, penyebaran informasi dan dakwah membutuhkan waktu dan upaya ekstra melalui kunjungan langsung atau turba. Namun, dengan perkembangan teknologi informasi, jangkauan dakwah dan komunikasi dapat dilakukan secara instan dan meluas ke berbagai penjuru. “NU adalah kekuatan besar. Kalau dulu kita harus turun ke bawah (turba) dengan waktu yang tidak sebentar, sekarang dengan media informasi bisa sampai ke mana-mana dengan cepat,” jelasnya.

Sinergi Jurnalistik dan Filantropi untuk Dampak Luas

Lebih lanjut, KH Abu Joharudin Bahry menggarisbawahi korelasi erat antara jurnalistik dan filantropi dalam konteks organisasi NU. Jurnalistik dipandang sebagai instrumen vital untuk mempublikasikan berbagai program dan aktivitas yang dijalankan. Sementara itu, filantropi, yang dikelola melalui LAZISNU, menjadi motor penggerak dalam penguatan program-program pemberdayaan masyarakat.

“Jurnalistik menjadi sarana publikasi melalui NU Online, sedangkan filantropi berkaitan dengan penguatan program melalui LAZISNU. Ini yang perlu kita pelajari bersama, bagaimana menghubungkan keduanya agar manfaatnya semakin luas,” tegasnya. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang kuat, di mana setiap kegiatan positif NU dapat terdokumentasi dengan baik dan terdistribusikan secara efektif, sekaligus memastikan sumber pendanaan yang berkelanjutan untuk program-program tersebut.

NU Online: Media Keislaman Terbesar dengan Pengakuan Nasional

Pentingnya Jurnalistik dalam Mengkomunikasikan Capaian NU

Pimpinan Redaksi NU Online, Ivan Aulia Ahsan, memaparkan perkembangan dan peran NU Online Institute dalam meningkatkan kapasitas jurnalis di berbagai daerah. Dalam setahun terakhir, NU Online Institut telah menggiatkan program-program pelatihan jurnalistik secara masif. Meskipun beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, NU Online telah bertransformasi menjadi salah satu media keislaman terbesar di Indonesia.

Keunikan NU Online tidak hanya terletak pada ukurannya, tetapi juga statusnya sebagai media digital pertama yang didirikan oleh organisasi masyarakat Islam di Indonesia. Perjalanan selama 23 tahun telah membawa NU Online menuju pengakuan formal, termasuk sertifikasi dari Dewan Pers. “Selama 23 tahun, NU Online terus bertransformasi hingga memperoleh sertifikasi dari Dewan Pers. Kita tidak lagi sekadar media komunitas, tetapi sudah menjadi media yang diakui negara,” ungkap Ivan Aulia Ahsan.

Reaktivasi Kontributor dan Keberlanjutan Program

Sebagai tindak lanjut dari konsolidasi yang telah dilaksanakan di tingkat provinsi, NU Online kini tengah fokus pada reaktivasi kontributor di setiap cabang, dengan prioritas utama di wilayah Jawa dan Madura. Workshop di Pemalang ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan serupa yang sebelumnya telah digelar di Kedu Raya, menunjukkan komitmen NU Online dalam memperluas jaringannya.

Ivan Aulia Ahsan menekankan pentingnya aspek keberlanjutan dari setiap kegiatan pelatihan yang diselenggarakan. Ia mengkhawatirkan fenomena di mana banyak acara terlaksana namun hasil akhirnya kurang optimal. Oleh karena itu, ia berharap workshop ini dapat melahirkan output yang konkret, minimal setiap PCNU memiliki setidaknya satu kader yang siap dan aktif dalam meliput berbagai kegiatan organisasi.

Target dan Harapan Workshop

Partisipasi perwakilan dari tujuh PCNU di Karesidenan Pekalongan Raya menjadi bukti nyata antusiasme dan keseriusan dalam memperkuat fondasi media dan filantropi NU. Para peserta diharapkan tidak hanya sekadar menerima materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam tugas sehari-hari. Keberhasilan workshop ini akan diukur dari peningkatan kualitas pemberitaan dan efektivitas pengelolaan dana filantropi di masing-masing cabang.

Dengan kemampuan jurnalistik yang lebih baik, NU dapat mengkomunikasikan program-program pemberdayaan dan bantuan sosial yang telah disalurkan melalui LAZISNU. Hal ini tentu akan meningkatkan kepercayaan publik dan mendorong partisipasi yang lebih besar dalam gerakan filantropi. Selain itu, sinergi yang kuat antara pemberitaan yang baik dan program filantropi yang terarah akan memperkokoh eksistensi NU sebagai organisasi yang adaptif dan relevan di tengah masyarakat modern.

Secara keseluruhan, Workshop Jurnalistik Filantropi se-Karesidenan Pekalongan Raya ini merupakan investasi strategis bagi masa depan NU. Dengan memperkuat kapasitas kadernya di bidang media dan filantropi, NU berupaya memastikan bahwa syiar ajaran Islam dan kiprahnya dalam pembangunan bangsa dapat terus dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, selaras dengan semangat kemandirian dan keberlanjutan organisasi.

(Foto: Muhammad Faiqul Himam)

Catatan: Informasi terkait berita lain yang terlampir dalam teks asli (seperti Warga Geruduk Pesantren Ndholo Kusumo Pati, PC Ansor Purworejo Tebar Benih Ikan, dll.) tidak relevan dengan topik utama workshop dan oleh karena itu tidak disertakan dalam pengembangan artikel ini agar tetap fokus pada tujuan utama SEO Semantik.

Baca Juga

Loading...