Target Operasi Trump Melebar: Akhir Perang Iran Kian Tak Pasti
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat hingga kini belum memiliki peta jalan yang jelas untuk mengakhiri konflik bersenjata dengan Iran. Memasuki hari ketiga serangan udara bersama Israel, Presiden Donald Trump justru memperluas target operasi militer yang dinamakan Epic Fury tersebut.
Dalam pernyataan publik di Gedung Putih pada Senin (2/3/2026), Trump mengungkapkan sasaran perang kini mencakup penghancuran kemampuan rudal balistik, angkatan laut Iran, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan. Sebelumnya, fokus utama Washington hanya terbatas pada penghentian program nuklir Teheran.
Perubahan Durasi dan Target Strategis
Ketidakpastian durasi perang menjadi sorotan tajam setelah Trump merevisi perkiraan awal operasi yang semula diproyeksikan selesai dalam empat hingga lima pekan. Ia kini menyatakan bahwa militer AS memiliki kemampuan untuk bertempur jauh lebih lama, meski berisiko memakan lebih banyak korban jiwa.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memberikan penilaian yang lebih hati-hati terkait dinamika di lapangan. Hegseth membantah bahwa misi ini bertujuan untuk penggantian rezim, sementara Jenderal Caine memperingatkan bahwa tujuan militer di Iran akan sangat sulit dicapai.
"Rezim Iran yang dipersenjatai rudal jarak jauh dan senjata nuklir akan menjadi ancaman yang tak bisa ditoleransi bagi Timur Tengah dan rakyat Amerika," tegas Trump dalam pidatonya. Pernyataan ini menunjukkan pergeseran retorika yang signifikan dibandingkan awal operasi dimulai.
Eskalasi Regional dan Dampak Ekonomi
Di lapangan, eskalasi terus meningkat dengan ledakan yang mengguncang Teheran dan serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk mitra AS. Dua drone dilaporkan menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh, sementara Qatar mencatat sejarah dengan menembak jatuh dua pesawat pengebom Iran di wilayah udara mereka.
Dampak perang juga mulai melumpuhkan sektor energi global setelah perusahaan negara Qatar menghentikan produksi LNG akibat serangan Iran. Gangguan pasokan ini memicu lonjakan harga gas acuan Eropa hingga lebih dari 30 persen dalam waktu singkat.
Kondisi semakin genting dengan ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran (IRGC). Penasihat senior IRGC, Ebrahim Jabbari, memperingatkan akan membakar kapal yang mencoba melintas di jalur strategis minyak dunia tersebut sebagai respons atas agresi AS.
Kritik dari Kongres dan Risiko Keamanan
Ketiadaan strategi keluar (exit strategy) memicu kritik keras dari Kongres AS, terutama dari pihak Demokrat yang dipimpin Adam Smith. Mereka menilai pemerintahan Trump belum memberikan data intelijen spesifik mengenai ancaman langsung yang mendasari perluasan operasi militer ini.
Mantan Direktur CIA David Petraeus juga memperingatkan risiko besar jika AS mendorong rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintahnya. Mengingat kekuatan aparat keamanan Iran yang mencapai sejuta personel, intervensi darat mungkin menjadi opsi yang tak terhindarkan bagi Washington di masa depan.
Ditulis oleh: Rudi Hartono
