Sikap Protes Unik: Kafe Titilaras Solo Hapus Americano, Ganti Kopi Lokal

Table of Contents
Unik! Kafe Ini Hapus 'Americano' dari Menu Setelah AS-Israel Serang Iran
Sikap Protes Unik: Kafe Titilaras Solo Hapus Americano, Ganti Kopi Lokal

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, telah menjadi sorotan dunia dan memicu beragam respons.

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada diskusi tingkat pemerintahan atau organisasi internasional, melainkan turut meresapi kesadaran masyarakat sipil, termasuk warga Indonesia.

Di tengah pusaran isu global ini, seorang pengusaha kedai kopi di Solo, Jawa Tengah, bernama Arkha Tri Maryanto, mengambil sebuah sikap yang tegas dan unik.

Ia secara terang-terangan menghapus menu 'Americano' dari daftar sajian kafenya, Titilaras, sebagai bentuk protes langsung terhadap konflik yang melibatkan AS dan Israel.

Keputusan radikal ini mulai berlaku per Maret 2026, yang telah dikonfirmasi oleh Arkha sendiri sebagai manifestasi dari keprihatinannya terhadap situasi di Timur Tengah.

Langkah ini mencerminkan bagaimana peristiwa internasional dapat memengaruhi keputusan bisnis lokal, bahkan di sektor kuliner.

“Bagiku, ini mengambil satu sikap kecil,” ujar Arkha kepada detikJateng pada Rabu (4/3/2026), menjelaskan motivasi di balik tindakannya.

Ia menambahkan, “Walaupun kecil di mata sesama manusia, setidaknya aku memiliki sikap. Mau ikut silakan, tidak juga tidak apa-apa. Kita sudah muak lah gitu. Kita sudah muak dengan hal ini gitu loh. Kita sudah muak dengan isu-isu yang terjadi.”

Sentimen 'muak' yang diungkapkan Arkha ini merefleksikan rasa frustrasi yang meluas di kalangan publik terhadap konflik berkepanjangan dan dampaknya.

Hal ini menunjukkan bahwa tindakan individu atau bisnis kecil bisa menjadi kanal untuk menyalurkan aspirasi moral dan etika yang kuat.

Transformasi Menu: Dari Americano ke Identitas Kopi Nusantara

Penghapusan 'Americano' dari menu Titilaras bukan hanya sekadar tindakan simbolis semata, tetapi juga diikuti dengan perubahan fundamental dalam penawaran kopi hitamnya.

Arkha dengan bangga mengumumkan pengalihan fokus pada metode penyeduhan kopi asli Indonesia, yaitu tubruk, yang kini disajikan sebagai 'tubruk saring'.

“Kita mengambil sikap untuk menghapus menu itu beserta metode espresso-nya,” jelas Arkha, menggarisbawahi pergeseran dari dominasi kopi ala Barat.

Ia melanjutkan, “Sebenarnya Indonesia itu punya metode yang cukup terkenal, yaitu tubruk. Makanya kita menggantinya dengan tubruk, atau bahasa kami 'tubruk saring'. Jadi metodenya tubruk, tapi ampasnya disaring,” memadukan tradisi dengan kenyamanan modern.

Pendekatan 'tubruk saring' ini dipilih untuk menghasilkan ekstraksi kopi yang kuat dan bersih, menawarkan pengalaman minum kopi yang intens tanpa ampas.

Arkha optimis bahwa rasa kopi tubruk yang diracik dengan tepat dapat menghasilkan profil yang mirip dengan 'Americano', sekaligus menonjolkan kekayaan biji kopi lokal.

“Iya, yang mendekati (Americano) adalah tubruk karena menghasilkan ekstraksi yang cukup strong, tergantung pengaturannya,” tutur Arkha, menekankan fleksibilitas metode ini.

“Kita ingin memperkenalkan kembali seduhan yang bisa menjadi identitas Indonesia sendiri. Makanya, kami menyebutnya lebih simpel saja, black coffee. Just black coffee, not anything,” imbuhnya, menegaskan misi pelestarian budaya.

Selain penamaan 'black coffee', Arkha juga menawarkan varian 'black ice', yang uniknya terinspirasi dari judul lagu legendaris grup band rock AC/DC.

Pilihan nama-nama ini secara jelas menunjukkan keinginan Arkha untuk menciptakan identitas menu yang kuat dan tidak terikat pada konvensi global.

Jejak Sejarah Americano: Dari Hinaan Italia Menjadi Ikon Amerika

Dalam kesempatan ini, Arkha juga memberikan edukasi kepada para pelanggannya mengenai sejarah dan asal-usul di balik nama 'Americano'.

Transformasi Menu: Dari Americano ke Identitas Kopi Nusantara

Ia menjelaskan bahwa minuman kopi yang kini populer itu dulunya merupakan istilah 'ejekan' dari barista Italia.

“Americano kan dasarnya espresso dikasih air,” terang Arkha, menjelaskan komposisi dasarnya.

“Dan kalau kita telusuri sejarahnya, itu kan awalnya bahan hinaan dari orang Italia untuk tentara Amerika yang tidak bisa minum espresso,” lanjutnya, merujuk pada masa Perang Dunia II ketika tentara AS sering meminta espresso diencerkan.

Meskipun berawal dari konotasi negatif, seiring waktu 'Americano' justru berkembang menjadi salah satu jenis kopi favorit dan identitas budaya bagi Amerika.

Fakta sejarah ini yang kemudian memicu pertanyaan reflektif dari Arkha tentang relevansi penggunaan nama asing di tengah kekayaan budaya kopi Indonesia.

“Tapi pada akhirnya itu menjadi sebuah identitas bangsa mereka. Nah, itu yang membuat saya berpikir, kenapa kita harus pakai identitas orang lain,” kata Arkha, menyuarakan panggilan untuk lebih mengedepankan jati diri bangsa.

Pemikiran untuk tidak menggunakan nama 'Americano' sebenarnya sudah ada sejak awal Titilaras beroperasi.

“Sebenarnya menu itu sudah saya ganti dari awal buka di sini,” beber Arkha, menunjukkan bahwa keputusan ini bukanlah respons mendadak.

“Kita biasanya cuma tawarin ke pelanggan, mau kopi pakai susu atau tanpa susu? Kalau tanpa susu, kita sebutnya black coffee atau black ice. Black ice terinspirasi lagunya AC/DC. Bukan karena salah nama atau tulisan, emang sengaja,” imbuhnya, memperkuat kesan sengaja dan berkarakter.

Respon Publik, Solidaritas, dan Potensi Gerakan Nasional Kopi

Langkah berani Arkha untuk menghapus 'Americano' dan menggantinya dengan menu lokal telah ia unggah di berbagai platform media sosial, memicu gelombang respons.

Berbagai tanggapan, baik dukungan maupun perdebatan, muncul dari warganet serta pelaku industri kopi di Indonesia.

“Alhamdulillah, beberapa coffee shop dan kedai menghubungi saya secara pribadi ingin ikut gerakan ini,” ungkap Arkha dengan nada positif, menyoroti adanya solidaritas dari sesama pengusaha.

Ia menambahkan, “Saya bilang silakan selama itu positif. Ini mengedukasi juga bahwa ketika kita menyebut nama sebuah negara dalam menu, secara tidak langsung kita menggaungkan nama itu,” menekankan aspek edukasi dan kesadaran budaya.

Inisiatif Titilaras ini tidak hanya sekadar perubahan menu, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang bagaimana bisnis kecil dapat berpartisipasi dalam diskursus global.

Hal ini juga membuka peluang untuk mempromosikan kekayaan kopi dan metode penyeduhan tradisional Indonesia ke khalayak yang lebih luas.

Gerakan ini berpotensi menjadi semacam manifesto bagi kedai kopi lokal untuk mengadopsi identitas yang lebih 'Indonesia', memperkuat pasar domestik, dan mengurangi ketergantungan pada tren global.

Arkha menunjukkan bahwa kewirausahaan dapat menjadi platform efektif untuk menyuarakan nilai-nilai dan menginspirasi perubahan dalam skala yang lebih besar.

Kedai Kopi sebagai Cerminan Kesadaran Sosial

Fenomena ini menegaskan bahwa kedai kopi tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi atau ruang sosial, tetapi juga dapat menjadi cerminan kesadaran sosial dan politik pemiliknya.

Keputusan seperti yang diambil Arkha dapat memicu percakapan mendalam di antara pelanggan dan komunitas.

Langkah Arkha Tri Maryanto di Titilaras, Solo, adalah contoh nyata bagaimana sebuah keputusan bisnis kecil dapat menjadi megafon untuk isu-isu besar.

Melalui secangkir kopi, ia tidak hanya menyajikan minuman, tetapi juga sebuah pernyataan identitas, protes, dan ajakan untuk bangga pada warisan budaya sendiri.



Ditulis oleh: Rudi Hartono

Baca Juga

Loading...