Serangan Drone Iran Guncang Kedubes AS, Trump Janjikan Respons Segera
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam menyusul serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas Amerika Serikat serta sejumlah negara Teluk. Presiden Donald Trump segera menyatakan bahwa Amerika Serikat akan merespons serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dan tewasnya enam personel militernya.
Arab Saudi mengonfirmasi bahwa Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh diserang dua drone pada Selasa dini hari (4/3). Kementerian Pertahanan Arab Saudi melalui unggahan di X menyebut insiden ini menyebabkan kebakaran terbatas dan sejumlah kerusakan material.
Serangan Terkoordinasi di Kedutaan AS dan Wilayah Teluk
Saksi mata melaporkan terdengar ledakan keras dan terlihat asap tipis dari kompleks kedutaan di Riyadh. Akibatnya, Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan “berlindung di tempat” bagi warga negaranya di Riyadh, Jeddah, dan Dhahran, serta merekomendasikan untuk menghindari fasilitas kedutaan.
Tak hanya di Riyadh, kompleks Kedutaan Besar AS di Kuwait juga dilaporkan terkena serangan pada Senin (3/3) dan terpaksa ditutup. Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan peringatan serupa bagi warganya untuk tidak mendatangi Kedutaan di Kuwait.
Otoritas Saudi menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari gelombang rudal dan drone yang meluas ke berbagai negara Teluk sejak Senin malam (3/3). Militer Israel mengklaim sedang mencegat gelombang besar rudal dari Iran yang menargetkan lokasi seperti Yerusalem.
Uni Emirat Arab dan Qatar turut melaporkan keberhasilan pencegatan rudal balistik di wilayah mereka. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menambahkan bahwa mereka berhasil mencegat dan menghancurkan delapan proyektil di dekat Riyadh dan Al Kharj.
Televisi pemerintah Iran, IRIB, secara terang-terangan menyatakan bahwa Iran juga menargetkan Yordania, Kuwait, dan Bahrain dalam serangan tersebut. Hal ini semakin memperjelas eskalasi yang melibatkan beberapa negara di kawasan tersebut.
Respons Amerika Serikat dan Serangan Balik
Presiden Donald Trump menegaskan Amerika Serikat akan memberikan respons segera atas serangan Kedubes AS dan tewasnya enam anggota militer AS akibat serangan Iran. Komando Pusat AS sebelumnya pada Senin sore (3/3) telah mengonfirmasi kematian personel militernya tersebut.
Dalam wawancara dengan NewsNation pada Senin (3/3), Trump menyatakan, “Anda akan segera tahu” bagaimana AS akan membalas tanpa merinci langkah spesifik. Ia juga menegaskan bahwa pengerahan pasukan darat di Iran tidak akan diperlukan untuk respons ini.
Sementara itu, ibu kota Iran, Teheran, dilaporkan kembali digempur serangan udara pada Selasa pagi, menurut laporan media pemerintah. Sekitar 12 rudal dilaporkan menghantam kawasan Pardis, pinggiran Teheran, dengan gambar kepulan asap beredar di media sosial.
Belum jelas pihak yang melancarkan serangan ini, namun militer Israel menyatakan di X bahwa mereka “melakukan serangan terarah secara simultan terhadap target militer di Teheran dan Beirut.” Ledakan juga dilaporkan terjadi di Karaj, dekat Teheran, dan di Isfahan, Iran bagian tengah.
Dampak Konflik dan Proses Suksesi Iran
Konflik yang meluas ini telah mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital untuk pengiriman minyak, gas, dan pupuk dunia. Jika situasi tidak terkendali, dampaknya berpotensi menekan perekonomian global secara signifikan.
Di Iran, Majelis Ahli mengumumkan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru akan segera dilakukan menyusul tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2). Majelis ini berwenang menunjuk dan memberhentikan pemimpin tertinggi, jabatan politik dan keagamaan tertinggi di Iran.
Di tengah proses suksesi ini, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat menegaskan bahwa pergantian rezim di Iran bukanlah tujuan konflik Washington. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance menyatakan fokus utama adalah menghancurkan program nuklir Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Vance menggarisbawahi tujuan Presiden Donald Trump adalah memastikan “rezim teroris Iran tidak membangun bom nuklir.” Meskipun Trump sebelumnya menarik AS dari kesepakatan nuklir JCPOA, ia juga menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan Anda.”
Ditulis oleh: Rizky Ramadhan
