Sejarah Supersemar 11 Maret: Latar Belakang dan Detik-Detik Kelahirannya

Table of Contents
Ada Apa Tanggal 11 Maret? Inilah Latar Belakang Lahirnya Peristiwa Supersemar - GalaJabar
Sejarah Supersemar 11 Maret: Latar Belakang dan Detik-Detik Kelahirannya

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Tanggal 11 Maret menjadi momen krusial dalam catatan sejarah Indonesia sebagai hari lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar. Peristiwa ini menandai titik balik politik nasional pasca-insiden Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang mengguncang stabilitas negara.

Latar belakang lahirnya Supersemar bermula dari keterpurukan ekonomi yang dialami Indonesia di penghujung era Orde Lama. Tingkat inflasi yang luar biasa tinggi menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak tajam dan tidak terkendali di seluruh sektor.

Krisis Ekonomi dan Tuntutan Rakyat (Tritura)

Kondisi ekonomi diperparah dengan banyaknya pejabat pemerintahan saat itu yang terindikasi melakukan praktik korupsi. Situasi ini memicu kemarahan publik yang merasa pemerintah gagal mengelola negara dan kesejahteraan rakyat jelata.

Puncaknya, pada 10 Januari 1966, berbagai elemen masyarakat mulai dari mahasiswa hingga pelajar menggelar demonstrasi besar-besaran. Mereka bersatu menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat atau Tritura guna mendesak perubahan total pada kebijakan pemerintah.

Tiga poin utama dalam Tritura mencakup pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, dan penurunan harga pangan. Namun, Presiden Soekarno hanya merespons dua tuntutan, yaitu reformasi kabinet dan upaya stabilisasi harga bahan pokok.

Ketidakmauan pemerintah untuk membubarkan PKI menimbulkan kekecewaan mendalam bagi kelompok anti-komunis di tanah air. Hal tersebut memicu gelombang aksi massa yang terus berlanjut hingga mencapai eskalasi tertinggi pada Maret 1966.

Ketegangan di Istana Merdeka Jakarta

Krisis Ekonomi dan Tuntutan Rakyat (Tritura)

Tepat pada 11 Maret 1966, massa kembali mengepung area sekitar Istana Merdeka Jakarta di tengah situasi politik yang memanas. Saat itu, Presiden Soekarno sedang memimpin rapat kabinet di dalam Istana Negara untuk membahas persoalan bangsa.

Suasana berubah mencekam ketika Komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur menemukan keberadaan pasukan tidak dikenal di halaman Istana. Ia segera menulis nota peringatan mengenai adanya 'pasukan liar' tersebut untuk disampaikan kepada Presiden Soekarno.

Awalnya, Brigjen Sabur memberikan nota tersebut kepada Pangdam V Jaya Brigjen Amir Mahmud agar diteruskan kepada presiden. Namun, karena nota tersebut sempat tidak digubris, Sabur memutuskan untuk menyampaikannya secara langsung kepada Soekarno.

Laporan mengenai kehadiran pasukan bersenjata di sekitar istana membuat Presiden Soekarno merasa terancam dan panik seketika. Beliau segera memutuskan untuk menghentikan rapat cabinet dan menyerahkan kepemimpinan sidang kepada Wakil Perdana Menteri IV Leimena.

Evakuasi ke Bogor dan Misteri Pasukan Liar

Presiden Soekarno kemudian bergegas meninggalkan Jakarta menuju Istana Bogor dengan menggunakan helikopter untuk alasan keamanan. Beliau didampingi oleh Wakil Perdana Menteri I Soebandrio serta Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh.

Berdasarkan catatan Eros Djarot dalam buku 'Misteri Supersemar' (2006), 'pasukan liar' tersebut sebenarnya adalah personel Kostrad. Pasukan ini sengaja menggunakan pakaian bebas tanpa atribut resmi guna menghindari kepanikan massal saat bertugas.

Tujuan utama dari pengerahan pasukan tersebut adalah untuk mengamankan dan menangkap Soebandrio di lingkungan kabinet. Soebandrio dicurigai memiliki keterlibatan kuat dalam peristiwa G30S yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pelarian Soekarno ke Bogor dan situasi yang tidak menentu inilah yang kemudian menjadi awal mula perundingan lahirnya Supersemar. Surat perintah tersebut akhirnya mengubah peta kekuatan politik Indonesia dan menandai berakhirnya dominasi rezim Soekarno.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa kepanjangan dari Supersemar?

Supersemar merupakan singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret.

Apa saja tiga tuntutan dalam Tritura?

Isi Tritura adalah pembubaran PKI, reformasi atau perombakan Kabinet Dwikora, dan penurunan harga kebutuhan pangan.

Siapa saja yang mendampingi Soekarno saat dievakuasi ke Bogor?

Presiden Soekarno didampingi oleh Wakil Perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh.

Siapa 'pasukan liar' yang terlihat di sekitar Istana pada 11 Maret 1966?

Pasukan tersebut adalah pasukan Kostrad berpakaian preman yang bertujuan menangkap Soebandrio.



Ditulis oleh: Dewi Lestari

Baca Juga

Loading...