Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.000 Akibat Eskalasi Geopolitik Global
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Nilai tukar Rupiah di pasar spot diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026. Mata uang Garuda sebelumnya telah terdepresiasi sebesar 0,14 persen hingga menyentuh level Rp16.949 per dollar AS pada penutupan Senin.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, memproyeksikan Rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah. Ia memperkirakan mata uang domestik akan berada di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dollar AS akibat penguatan indeks dollar global.
Dampak Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Menurut Ibrahim, penguatan indeks dollar AS dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga energi dunia. Kondisi tersebut memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.
Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga 30 persen dan telah menembus angka 100 dollar AS per barel pada pekan ini. Angka tersebut mendekati level tertinggi yang pernah terjadi saat awal konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022 silam.
"Harga minyak melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui 100 dollar per barel," ujar Ibrahim saat memberikan keterangan resminya. Kenaikan tajam ini dipicu oleh serangan udara Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas minyak Iran pada akhir pekan lalu.
Teheran merespons tindakan tersebut dengan meluncurkan serangan rudal balasan ke berbagai fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah. Situasi semakin memanas setelah muncul laporan serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran energi strategis bagi Asia.
Risiko Fiskal dan Tekanan Ekonomi China
Selain faktor konflik, pasar global sedang menyoroti data inflasi indeks harga konsumen (CPI) China yang tumbuh 1,3 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,9 persen dan menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Dari sisi domestik, lonjakan harga minyak yang menembus 92 dollar AS per barel mengancam ketahanan fiskal Indonesia. Harga tersebut telah melampaui asumsi makro APBN 2026 yang sebelumnya ditetapkan di kisaran 70 dollar AS per barel.
Jika harga minyak terus merangkak mendekati 100 dollar AS, defisit APBN berpotensi membengkak hingga Rp6,8 triliun. Bahkan, rasio defisit anggaran terhadap PDB dikhawatirkan mendekati 4 persen, melampaui batas 3 persen yang diatur Undang-Undang Keuangan Negara.
Langkah Strategis Pemerintah Indonesia
Menghadapi situasi ini, pemerintah dinilai perlu segera melakukan efisiensi anggaran negara dengan memprioritaskan belanja sektor kebutuhan dasar. Prioritas utama harus diarahkan pada bidang pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan program pengentasan kemiskinan secara tepat sasaran.
Langkah strategis lainnya adalah mempercepat program konversi energi menuju sumber daya baru terbarukan seperti tenaga surya, air, dan angin. Upaya ini dianggap krusial untuk mengurangi ketergantungan nasional terhadap konsumsi minyak solar dan diesel yang harganya terus melambung.
Terakhir, penguatan stimulus ekonomi melalui deregulasi birokrasi perlu ditingkatkan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Penyederhanaan aturan diharapkan dapat mempermudah aktivitas dunia usaha di tengah tekanan ekonomi global yang kian tidak menentu.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa prediksi nilai tukar Rupiah pada 10 Maret 2026?
Rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dollar AS.
Faktor apa yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak?
Kenaikan harga minyak dipicu oleh serangan udara Israel dan AS ke fasilitas minyak Iran, serta gangguan keamanan di Selat Hormuz.
Bagaimana dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN Indonesia?
Kenaikan harga minyak di atas asumsi makro dapat menyebabkan defisit APBN membengkak hingga Rp6,8 triliun dan melampaui batas defisit 3 persen dari PDB.
Ditulis oleh: Agus Pratama
