Reaksi Rusia dan China Pasca Serangan AS-Israel di Iran

Table of Contents
AS-Israel serang Iran, di mana Rusia dan China? - BBC News Indonesia
Reaksi Rusia dan China Pasca Serangan AS-Israel di Iran

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/02) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah memicu perhatian global. Fokus kini tertuju pada respons dua sekutu kunci Teheran, yaitu Rusia dan China.

Kedua negara adidaya ini memiliki ikatan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat dengan Iran. Konflik terbaru ini menjadi ujian signifikan seberapa jauh mereka akan memberikan dukungan konkret.

Sikap Rusia: Retorika Kuat, Dukungan Terbatas

Respons Moskow terhadap serangan AS-Israel ke Iran terdengar sangat lantang, namun dukungan konkret yang diberikan tampak terbatas. Sikap ini mencerminkan kemarahan dan solidaritas, tetapi juga kehati-hatian agar tidak terseret langsung ke konfrontasi, menurut Sergei Goryashko dari BBC News Russian.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan "kekecewaan mendalam" atas eskalasi menjadi "agresi terbuka" setelah adanya perundingan. Ia menambahkan Moskow terus menjalin kontak dengan petinggi Iran dan negara-negara Teluk terdampak.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam "agresi tanpa provokasi" serta menuding praktik pembunuhan politik terhadap pemimpin berdaulat. Presiden Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa pada Minggu (01/03) kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyebut insiden itu "pelanggaran moralitas manusia dan hukum internasional."

Meski begitu, Kremlin menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump, bahkan berterima kasih atas mediasi Washington di Ukraina. Peskov menegaskan Rusia "pada dasarnya hanya mempercayai dirinya sendiri" dan akan selalu membela kepentingan nasionalnya.

Batasan Intervensi Rusia

Kepentingan nasional ini menjelaskan mengapa dukungan Rusia terhadap Iran lebih banyak bersifat retoris, meskipun Teheran adalah sekutu penting sejak invasi Ukraina. Perjanjian kemitraan strategis Rusia-Iran (17 Januari 2025) bukanlah pakta pertahanan bersama, hanya janji berbagi informasi dan latihan gabungan.

Sikap Rusia: Retorika Kuat, Dukungan Terbatas

Hubungan ekonomi terbatas pada US$4-5 miliar (Rp67,5-84,4 triliun), namun ikatan militer berkembang dengan pengiriman Yak-130 dan Mi-28 ke Iran. Pengiriman sistem pertahanan udara Verba senilai €500 juta (Rp9,85 triliun) dari Rusia dilaporkan tertunda.

Rusia yang sibuk di Ukraina, tampaknya enggan atau tak mampu memberikan lebih dari dukungan diplomatik dan kerja sama teknis militer. Bagi Moskow, Iran penting agar tidak runtuh, tetapi tidak cukup untuk diperjuangkan dalam konfrontasi langsung.

Pendekatan China: Ekonomi dan Diplomasi

Pemerintah China juga mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, sejalan dengan penentangannya terhadap strategi perubahan rezim AS. Inti hubungan China-Iran adalah kemitraan ekonomi saling menguntungkan, dilaporkan Shawn Yuan dari BBC World Service Global China Unit.

China adalah mitra dagang terbesar dan pelanggan energi terpenting Iran, menopang ekonomi Teheran di tengah sanksi AS dengan membeli lebih dari 80% minyak Iran pada 2025. Perjanjian strategis 25 tahun (2021) juga menjanjikan investasi miliaran dolar China untuk infrastruktur Iran.

Secara historis, pendekatan China terhadap ketegangan di Timur Tengah adalah menahan diri yang penuh perhitungan. Dalam pertikaian sebelumnya, Beijing menyerukan "menahan diri" sambil menyalahkan "campur tangan eksternal" AS.

Strategi Keseimbangan Regional China

China berperan sebagai penyokong diplomatik bagi Teheran melalui hak veto di PBB, tetapi tidak pernah menawarkan intervensi militer langsung. Strategi Tiongkok bertujuan menjaga AS tetap terjebak di Timur Tengah tanpa memicu keruntuhan total kawasan yang dapat melambungkan harga minyak.

Bagi Beijing, munculnya rezim pro-Barat di Teheran akan menjadi kekalahan geopolitik besar, mengingat Iran adalah penyeimbang pengaruh AS dan anggota BRICS serta SCO. Tanpa invasi penuh AS-Israel, struktur politik dan militer Iran kemungkinan akan bertahan, memberi ruang bagi Beijing untuk memainkan "strategi jangka panjang."

China akan menjalin hubungan baik dengan siapa pun pengganti Khamenei, sementara Rusia akan mencari peluangnya sendiri, memprioritaskan kepentingan domestik dan perang di Ukraina.



Ditulis oleh: Doni Saputra

Baca Juga

Loading...