Perang Iran Berlanjut: Warga Amerika Diimbau Tinggalkan Timur Tengah
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Iran dan beberapa kota lainnya pada hari Rabu, menandai hari kelima perang yang semakin intensif. Menyusul eskalasi ini, warga Amerika disarankan untuk segera meninggalkan wilayah Timur Tengah karena meningkatnya kekhawatiran keamanan.
Departemen Pertahanan AS juga telah merilis identitas empat dari enam prajurit yang tewas dalam konflik Iran ini. Insiden ini menyoroti risiko yang dihadapi personel militer di tengah ketegangan regional.
Serangan Udara dan Eskalasi Aksi Militer
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada hari Rabu menghantam Teheran serta target lainnya di Iran. Eskalasi ini terjadi setelah serangan awal pada hari Sabtu oleh AS dan Israel terhadap Teheran, di mana Presiden Donald Trump menyatakan dimulainya operasi tempur besar-besaran terhadap Iran.
Menurut Associated Press, militer Israel melaporkan bahwa salah satu jet tempur siluman F-35 miliknya berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur YAK-130 Angkatan Udara Iran yang berawak di atas Teheran pada hari Rabu. Insiden ini menandai peningkatan signifikan dalam konfrontasi udara antara kedua belah pihak.
Pada pukul 8:15 pagi ET, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa serangan pada Selasa malam terhadap sebuah kapal perang merupakan serangan pertama terhadap musuh sejak Perang Dunia II. Hegseth dengan tegas menyatakan, "Angkatan laut Iran kini berada di dasar Teluk Persia," mengisyaratkan kerusakan parah pada aset maritim Iran.
Dalam perkembangan lain, pertahanan udara Israel juga diaktifkan untuk mencegat rudal-rudal Iran yang ditembakkan ke berbagai target di seluruh negeri. Ledakan keras terdengar di sekitar Yerusalem, menunjukkan jangkauan luas dari serangan balasan tersebut.
Identifikasi Korban Militer AS dan Peringatan Keamanan Regional
Pentagon mengonfirmasi bahwa empat dari enam personel militer AS yang tewas dalam perang Iran gugur akibat serangan drone di Kuwait. Keempat prajurit Cadangan Angkatan Darat tersebut tewas pada hari Minggu ketika sebuah drone menghantam pusat komando di Port Shuaiba, Kuwait.
Mereka semua ditugaskan di Komando Dukungan ke-103 di Des Moines, Iowa. Para korban diidentifikasi sebagai Sersan Declan Coady, 20, dari Des Moines, Iowa, yang secara anumerta dipromosikan dari spesialis; Sersan Kelas 1 Nicole Amor, 39, dari White Bear Lake, Minnesota; Sersan Kelas 1 Noah Tietjens, 42, dari Bellevue, Nebraska; dan Kapten Cody Khork, 35, dari Winter Haven, Florida. Identitas dua prajurit lainnya yang gugur belum dirilis.
Dalam perkembangan terkait, Departemen Luar Negeri AS pada pukul 1:26 pagi ET telah memerintahkan staf non-darurat dan keluarga mereka yang bekerja di konsulat di Lahore dan Karachi, Pakistan, untuk meninggalkan negara itu karena masalah keamanan. Namun, staf di kedutaan besar di ibu kota Islamabad tidak terpengaruh oleh perintah ini.
Pakistan, yang berbatasan panjang dengan Iran di barat, memiliki minoritas Syiah yang signifikan, yang menambah kompleksitas situasi regional. Sekitar 10 orang tewas di Karachi pada hari Minggu setelah para demonstran mencoba menyerbu konsulat di kota terbesar Pakistan tersebut, menyoroti meningkatnya kerusuhan sipil.
Dampak Regional dan Korban Sipil
Konflik ini telah menyebabkan kerugian jiwa yang signifikan di berbagai negara di Timur Tengah. Associated Press melaporkan bahwa serangan AS-Israel telah menewaskan sedikitnya 787 orang di Iran, berdasarkan data dari Red Crescent Society, sementara 11 orang tewas di Israel sejak konflik dimulai.
Kuwait melaporkan pada hari Rabu bahwa seorang anak perempuan berusia 11 tahun tewas akibat serpihan yang jatuh saat pasukan Kuwait mencegat "target udara musuh." Selain itu, tiga orang tewas di Uni Emirat Arab dan satu orang di Bahrain, menunjukkan meluasnya dampak konflik.
Pada tanggal 4 Maret 2026, asap terlihat membumbung dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan lingkungan Al Lailaki di pinggiran selatan Beirut, dengan Bandara Internasional kota terlihat di latar belakang. Gambar ini yang diperoleh dari IBRAHIM AMRO / AFP via Getty Images, menunjukkan dampak luas dari operasi militer.
Latar Belakang dan Tujuan Operasi AS
Serangan awal pada hari Sabtu oleh AS dan Israel terhadap Teheran juga mengakibatkan tewasnya pemimpin negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, dan beberapa pejabat tinggi lainnya. Kematian Khamenei telah menimbulkan pertanyaan besar mengenai kepemimpinan Iran dan meningkatkan risiko ketidakstabilan regional.
Presiden Donald Trump telah menguraikan empat tujuan utama untuk operasi ini. Tujuan-tujuan tersebut meliputi penghentian upaya Iran untuk memperoleh senjata nuklir, serta "memastikan bahwa rezim Iran tidak dapat terus mempersenjatai, mendanai, dan mengarahkan pasukan teroris di luar perbatasannya."
Ini adalah kedua kalinya dalam delapan bulan pemerintahan Trump menyerang Republik Islam selama pembicaraan mengenai program nuklirnya. Serangan ini menunjukkan pendekatan yang agresif terhadap kebijakan luar negeri Iran.
Respon Iran dan Kondisi Politik Internal
Ayatollah Ahmad Khatami, seorang anggota Majelis Ahli, badan yang bertugas memilih pemimpin baru, memberikan komentar penting pada pukul 7:45 pagi ET. Komentarnya yang disiarkan di televisi pemerintah, menyatakan, "Pilihan-pilihan telah menjadi jelas."
Associated Press mencatat bahwa pejabat tinggi lainnya juga telah mengindikasikan bahwa keputusan mengenai pemimpin baru mungkin akan segera diambil. Situasi ini menunjukkan ketidakpastian dan perebutan kekuasaan internal di Iran pasca-kematian pemimpin tertingginya.
Berita ini disusun dari laporan FOX Local sebelumnya dan Associated Press, dengan pelaporan dari San Jose, California, dan Washington, D.C. Konflik yang berkembang ini terus menjadi perhatian global.
Ditulis oleh: Siti Aminah
