Perang Iran-AS Memanas: Ratusan Drone Guncang Kuwait, Irak, Saudi, UEA

Table of Contents
Hundreds of drones target Kuwait, Iraq, Saudi Arabia, UAE amid Iran war | News | Al Jazeera
Perang Iran-AS Memanas: Ratusan Drone Guncang Kuwait, Irak, Saudi, UEA

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Rabu mengumumkan telah meluncurkan 230 drone yang menargetkan berbagai fasilitas militer dan sipil di Timur Tengah. Serangan ini secara spesifik menyasar instalasi yang menampung pasukan Amerika Serikat di Kuwait, Irak, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, menandai eskalasi signifikan dalam konflik regional.

Di tengah gempuran serangan ini, Kementerian Kesehatan Kuwait mengonfirmasi kematian seorang gadis berusia 11 tahun yang menjadi korban serpihan jatuh. Insiden tragis tersebut terjadi saat tim medis berupaya keras menyelamatkan nyawanya, namun ia meninggal karena luka-lukanya di Rumah Sakit Al-Amiri.

Eskalasi Serangan di Tengah Konflik Regional

IRGC mengklaim serangan drone ini sebagai “langkah kuat pertama” dalam perang yang sedang berlangsung. Deklarasi ini menyusul beberapa hari serangan Iran terhadap negara-negara Arab di Teluk sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan ofensif terkoordinasi mereka pada Sabtu lalu.

Konflik yang semakin memanas ini terjadi setelah serangan awal AS-Israel pada 28 Februari dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini telah memicu rentetan pembalasan dan semakin memperdalam ketegangan di seluruh wilayah tersebut.

Korban Sipil dan Dampak Kemanusiaan

Insiden di Kuwait menyoroti dampak mengerikan dari konflik ini terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Kementerian Kesehatan Kuwait secara detail menjelaskan upaya resusitasi yang dilakukan di ambulans dan terus berlanjut di rumah sakit, namun nyawa gadis malang itu tidak dapat tertolong.

Peristiwa ini menjadi pengingat pedih akan konsekuensi luas dari penggunaan senjata dalam konflik bersenjata modern. Bahkan di tengah serangan militer yang terarah, warga sipil seringkali menjadi korban yang paling rentan dan menderita.

Target di Irak: Dari Baghdad hingga Erbil

Di Irak, laporan Al Jazeera Arabic mengindikasikan bahwa sebuah drone menargetkan fasilitas dukungan logistik Kedutaan Besar AS di Baghdad. Fasilitas penting ini terletak di dekat Bandara Internasional Baghdad, sebuah lokasi strategis yang sering menjadi sasaran.

Serangan tersebut menyusul upaya serangan drone serupa yang berhasil digagalkan pada Selasa di dekat bandara yang sama, menurut sel media keamanan Irak. Insiden ini menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menargetkan kepentingan AS di negara tersebut.

Selain Baghdad, dua drone juga dikabarkan menargetkan sebuah pangkalan militer AS dan sebuah hotel di Erbil, di wilayah Kurdi Irak utara, menurut sumber keamanan Reuters. Serangan ini menunjukkan jangkauan luas dari operasi drone Iran di Irak.

Sebelumnya pada Selasa malam, sebuah bangunan di Sulaimaniyah, juga di wilayah Kurdi Irak, dihantam oleh serangan drone. Rekaman yang dibagikan secara daring dan diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan api membumbung tinggi dari bangunan tersebut di tengah laporan ledakan, menambah daftar insiden di Irak.

Eskalasi Serangan di Tengah Konflik Regional

Arab Saudi: Intersepsi dan Ancaman Infrastruktur Vital

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah drone di Provinsi Timur negara itu. Namun, rincian lebih lanjut mengenai asal drone atau apakah insiden tersebut menyebabkan kerusakan atau korban belum segera diberikan.

Kemudian di hari yang sama, sebuah proyektil dilaporkan menghantam kilang Ras Tanura di Arab Saudi, kilang minyak domestik terbesar yang dioperasikan oleh Saudi Aramco. Laporan Reuters ini muncul setelah Arab Saudi menutup operasi di kilang tersebut beberapa hari sebelumnya, menyusul kebakaran yang menurut pejabat disebabkan oleh puing-puing dari intersepsi dua drone Iran.

Uni Emirat Arab: Konsulat AS dan Pelabuhan dalam Jangkauan

Laporan serangan juga mencatat target di Uni Emirat Arab, termasuk konsulat AS di Dubai dan sebuah pelabuhan di kota Fujairah. Insiden-insiden ini menandakan bahwa Iran memperluas jangkauan serangannya ke seluruh wilayah Teluk.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan pertahanannya berhasil menembak jatuh tiga rudal balistik dan 121 drone, sementara delapan drone mendarat di dalam wilayah negara itu. Angka-angka ini menyoroti skala besar serangan dan efektivitas sistem pertahanan UEA.

Kedutaan Besar AS di Arab Saudi dan konsulat AS di UEA juga mengalami serangan drone pada Selasa. Sebagai respons, Departemen Luar Negeri AS pada Rabu mengizinkan personel pemerintah non-darurat untuk dievakuasi, menunjukkan peningkatan kekhawatiran keamanan.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot juga mengumumkan bahwa jet Rafale Prancis berhasil menetralisir drone Iran yang menargetkan UEA. Ratusan personel angkatan laut, angkatan udara, dan angkatan darat Prancis diketahui berbasis di negara tersebut, menegaskan keterlibatan sekutu dalam pertahanan regional.

Qatar: Penutupan Wilayah Udara dan Ancaman Terhadap Penerbangan

Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan bahwa mereka berhasil mencegat 10 drone dan dua rudal jelajah yang diluncurkan dari Iran. Negara ini, meskipun tidak menjadi target langsung pasukan AS, tetap terkena dampak signifikan dari konflik yang meluas.

Qatar Airways mengumumkan bahwa operasi penerbangannya “ditangguhkan sementara karena penutupan wilayah udara Qatar”. Penutupan ini menggarisbawahi gangguan parah yang ditimbulkan oleh serangan-serangan tersebut terhadap transportasi udara dan ekonomi regional.

Analisis Tren Serangan dan Implikasi Jangka Panjang

Meskipun Iran melancarkan serangkaian drone yang masif, Zein Basravi dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Doha, Qatar, mencatat bahwa volume dan frekuensi serangan di Teluk justru menunjukkan penurunan. Namun, ia menekankan bahwa jumlah serangan yang sedikit pun sudah cukup untuk menutup wilayah udara atau menyebabkan gangguan serius.

Oleh karena itu, bahkan jika Iran mampu mempertahankan tingkat serangan yang rendah, hal itu akan terus menjadi masalah bagi negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) yang terjebak dalam konflik ini. Situasi ini menciptakan ketidakpastian jangka panjang bagi stabilitas dan keamanan regional, menuntut kewaspadaan konstan dari semua pihak yang terlibat.



Ditulis oleh: Rudi Hartono

Baca Juga

Loading...