Perang AS-Israel vs Iran: Negara Bantu Warga Terdampar di Timur Tengah

Table of Contents
US-Israel war with Iran: How countries dey help stranded citizens for Middle East  - BBC News Pidgin
Perang AS-Israel vs Iran: Negara Bantu Warga Terdampar di Timur Tengah

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pemerintah di seluruh dunia telah mulai mengambil langkah-langkah darurat untuk memastikan keselamatan warganya di Timur Tengah. Ini terjadi seiring dampak konflik yang semakin meluas dan intens antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Beberapa negara, termasuk Ghana, Inggris, dan Amerika Serikat, telah memulai proses untuk mengeluarkan warganya dari zona konflik. Sementara itu, sejumlah negara lain telah berhasil mengevakuasi warganya sepenuhnya, dengan pemerintah seperti Nigeria hanya mengeluarkan himbauan keselamatan sembari terus memantau situasi.

Awal Mula Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Pada Sabtu, 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Serangan ini menargetkan infrastruktur rudal, situs militer, dan kepemimpinan Iran secara strategis.

Ironisnya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak tahun 1989, dilaporkan meninggal dunia selama gelombang serangan pertama. Iran segera membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk, yang kemudian meluas ke target non-militer, termasuk situs sipil dan fasilitas energi.

Akibat konflik yang memanas ini, ribuan penerbangan ke dan dari wilayah tersebut telah dibatalkan atau ditangguhkan, menyebabkan penutupan wilayah udara secara luas. Gangguan perjalanan ini menjadi salah satu yang terbesar sejak pandemi COVID-19, menimbulkan kekhawatiran global terhadap keselamatan warga negara asing.

Upaya Evakuasi Global: Negara-negara Beraksi

Seiring dengan meningkatnya ketegangan, berbagai negara telah mengaktifkan rencana darurat untuk membawa pulang warganya yang terjebak di wilayah tersebut. Skala operasi ini mencerminkan urgensi dan keparahan situasi yang dihadapi oleh komunitas internasional.

Inggris Memimpin Dengan Penerbangan Khusus

Pemerintah Inggris dijadwalkan akan menerbangkan beberapa warga negara Inggris yang terdampar dari Timur Tengah kembali ke tanah air pada hari Rabu. Ini dilakukan karena serangan rudal dan drone Iran terhadap wilayah Teluk terus melumpuhkan penerbangan komersial.

Sebuah pesawat carteran akan berangkat dari Bandara Internasional Muscat di Oman pada pukul 23:00 waktu setempat (19:00 GMT), dengan kursi diprioritaskan untuk warga yang paling rentan. Sejak perang antara AS-Israel dan Iran dimulai pada hari Sabtu, lebih dari 130.000 warga Inggris telah mendaftarkan minat mereka untuk mendapatkan bantuan evakuasi.

Amerika Serikat: Peringatan Dini dan Ribuan yang Kembali

Amerika Serikat juga mengirimkan penerbangan carteran untuk mengevakuasi warga Amerika dari Uni Emirat Arab, Yordania, dan Arab Saudi. Departemen Luar Negeri AS pada hari Senin mendesak warga Amerika untuk "segera pergi" dari Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Tepi Barat dan Gaza yang diduduki, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Yaman karena "risiko keamanan yang serius".

Departemen Luar Negeri menyatakan bahwa mereka secara aktif berupaya mengamankan pesawat militer dan penerbangan carteran bagi warga Amerika yang ingin meninggalkan Timur Tengah. Dylan Johnson dari Departemen Luar Negeri mengatakan di X, "Kami berhubungan langsung dengan hampir 3.000 warga Amerika di luar negeri," dan mendesak warga untuk menghubungi jalur bantuan departemen untuk bantuan.

Awal Mula Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Dalam pernyataan terpisah, departemen tersebut melaporkan bahwa 9.000 warga AS telah berhasil kembali ke rumah dari wilayah tersebut, bahkan membantu pemesanan penerbangan dari negara-negara di mana perjalanan udara komersial masih menjadi pilihan. Diperkirakan antara 500.000 hingga satu juta warga negara AS tinggal di Timur Tengah, dan pemerintah AS meminta warganya untuk memeriksa "pembaruan keamanan terbaru" dengan kedutaan dan konsulat terdekat, serta merilis hotline untuk bantuan evakuasi.

Negara-negara Eropa dan Asia Pasifik Bergerak Cepat

Departemen Luar Negeri Irlandia mengumumkan bahwa sebuah penerbangan Emirates akan berangkat dari Dubai menuju Dublin pada Rabu malam. Penerbangan ini akan membawa penumpang yang penerbangannya dibatalkan selama akhir pekan, yang menurut Menteri Luar Negeri Irlandia Helen McEntee adalah "perkembangan positif," dan menyatakan bahwa departemennya "berhubungan erat dengan maskapai tersebut".

Pada hari Selasa, Prancis menyatakan kesiapan untuk memulangkan warganya yang paling berisiko di Timur Tengah, baik melalui penerbangan komersial maupun militer, seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jean-Noël Barrot kepada penyiar BFM TV. Seorang pejabat pemerintah Prancis menyebutkan bahwa sekitar 400.000 warga negara Prancis terdampak oleh situasi tersebut.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang bernegosiasi dengan maskapai penerbangan untuk membantu 115.000 warga Australia yang terdampar di Timur Tengah. Wong menambahkan bahwa evakuasi akan sulit dilakukan mengingat sebagian besar wilayah udara tetap ditutup. Sementara itu, Spanyol telah memulai evakuasi warganya dari Timur Tengah, seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares pada hari Selasa.

Pemerintah Jerman menyatakan bahwa sebagian besar dari sekitar 30.000 warga Jerman yang terdampar di wilayah tersebut akan dipulangkan oleh industri pariwisata, menegaskan bahwa repatriasi militer adalah pilihan terakhir. Italia sendiri telah berhasil memulangkan 127 warganya yang terdampar di Oman atau yang berpindah dari Dubai, tiba di bandara Roma Fiumicino pada Senin malam, dengan bantuan dari kedutaan besar Italia.

Respons Negara-negara Afrika: Nigeria dan Ghana

Kementerian Luar Negeri Nigeria segera merilis himbauan bagi warganya di wilayah konflik sejak awal ketegangan. Himbauan tersebut meminta mereka untuk membatasi pergerakan, mematuhi arahan keamanan dan keselamatan dari otoritas lokal, serta menjaga kewaspadaan.

Pemerintah Nigeria menyatakan akan terus memantau situasi untuk memastikan tidak ada warga Nigeria yang terancam bahaya. Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Ablakwa, mengatakan bahwa saat ini mereka membantu warga Ghana yang terdampar melarikan diri melalui beberapa penyeberangan perbatasan strategis, dan telah mengumpulkan database semua warga Ghana di negara-negara yang terkena dampak, termasuk mereka yang sedang dalam kunjungan singkat atau transit.

Tantangan di Tengah Penutupan Wilayah Udara

Penutupan wilayah udara dan pembatalan penerbangan menjadi tantangan utama bagi semua upaya evakuasi. Kondisi ini membuat proses repatriasi menjadi lebih rumit dan memakan waktu, memaksa negara-negara untuk mencari solusi kreatif seperti penerbangan carteran dan koridor darurat.

Pemerintah terus berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas internasional untuk membuka kembali rute penerbangan yang aman. Fokus utama tetap pada keselamatan warga negara, terutama mereka yang berada di daerah berisiko tinggi.

Masa Depan Warga Negara yang Terdampak

Situasi di Timur Tengah tetap dinamis dan penuh ketidakpastian, sehingga upaya evakuasi dan bantuan akan terus berlanjut. Prioritas utama adalah memastikan setiap warga negara dapat kembali dengan aman ke negara asalnya.

Komunitas internasional terus memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap warga sipil. Solidaritas global diharapkan dapat membantu meringankan penderitaan mereka yang terjebak di tengah gejolak ini.



Ditulis oleh: Sri Wahyuni

Baca Juga

Loading...