Jusuf Kalla Ungkap Alasan Iran Takkan Menyerah Hadapi Tekanan AS-Israel
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menyatakan keyakinannya bahwa Iran tidak akan menyerah dalam menghadapi tekanan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan bahwa kekuatan Iran dalam konflik yang memanas di Timur Tengah bersumber dari kombinasi faktor sejarah, ideologi, dan dukungan teknologi dari negara-negara lain.
Pernyataan ini disampaikan JK dalam sebuah acara “Ngobrol Seru” bersama Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, yang diselenggarakan di rumah pribadinya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/3/2026). Diskusi tersebut menyoroti kompleksitas dinamika geopolitik kawasan dan peran Iran sebagai aktor kunci.
Karakter Bangsa Persia: Akar Ketahanan Iran
Jusuf Kalla secara khusus menyoroti karakter bangsa Persia, yang merupakan cikal bakal negara Iran modern, sebagai fondasi utama keteguhan negara tersebut. Menurutnya, tradisi sejarah Iran menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang tidak mudah tunduk dan memiliki mental perlawanan yang kuat sejak zaman dahulu.
“Saya yakin Iran tidak akan menyerah. Dalam sejarahnya, Iran tidak pernah menyerah, sejak dulu itu Persia. Tidak pernah menyerah,” ujar JK dengan tegas. Pendirian historis ini telah membentuk identitas nasional yang resilien terhadap dominasi eksternal.
Selain faktor sejarah, aspek ideologis dan agama juga memainkan peran krusial dalam memperkuat mental perlawanan rakyat Iran. Keyakinan agama yang kuat membuat mereka tidak gentar menghadapi ancaman, bahkan menganggap kematian di medan perang sebagai bentuk syahid yang mulia.
“Apalagi mereka berdasar kepada agama. Sehingga kalaupun ada yang tewas, syahid. Jadi mereka tidak takut,” tambahnya, menjelaskan motivasi mendalam di balik semangat juang Iran.
Dukungan Teknologi Asing dan Kemampuan Serangan Presisi
Lebih lanjut, Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa kemampuan Iran untuk melancarkan serangan presisi tidak terlepas dari dukungan teknologi canggih dari luar negeri. Ia secara spesifik menyebut China sebagai penyedia sistem persenjataan dan teknologi satelit yang krusial bagi Teheran.
“Kalau roket itu walaupun jaraknya ribuan km bisa kena tempat yang dituju, itu butuh teknologi satelit yang rumit. Amerika punya tentu, tapi Iran sekarang pakai China punya. China kasih,” jelas JK. Bantuan teknologi ini memungkinkan Iran untuk menargetkan sasaran strategis dengan akurasi tinggi.
Dalam perbincangan itu, JK juga menyinggung peran Rusia yang selama ini dikenal memiliki hubungan militer erat dengan Iran. Keterlibatan Rusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui transfer teknologi atau pelatihan, semakin memperkuat posisi Iran di kancah militer regional.
Tanpa dukungan sistem navigasi dan satelit canggih, akurasi serangan jarak jauh akan sulit dicapai oleh Iran. Kolaborasi strategis dengan kekuatan global ini menjadi pilar penting dalam mempertahankan kemampuan ofensif mereka.
Strategi “Hujan Roket” dan Potensi Perang Drone
Jusuf Kalla turut mengulas strategi militer Iran yang kerap meluncurkan roket dalam jumlah besar secara bertubi-tubi, sebuah taktik yang dikenal sebagai “hujan roket”. Ia menjelaskan bahwa strategi ini bukan semata-mata didasarkan pada harga roket yang relatif lebih murah dibandingkan sistem pertahanan rudal seperti Patriot milik AS, melainkan pada kuantitas.
“Bukan soal murahnya, roket banyak sehingga tidak sempat terdeteksi oleh Patriot,” tegasnya. Dengan meluncurkan gelombang roket secara masif, tujuan utamanya adalah untuk melemahkan dan membebani sistem pertahanan lawan, memastikan sebagian serangan berhasil mencapai sasaran meskipun beberapa lainnya dapat dicegat.
Mengenai stok persenjataan, JK menyebut adanya analisis yang memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 3.000 roket. Dengan perkiraan peluncuran 100 roket per hari, persediaan tersebut dapat bertahan sekitar satu bulan, atau bahkan lebih lama tergantung intensitas konflik.
Namun, Jusuf Kalla juga mengingatkan bahwa risiko kehabisan pasokan persenjataan tidak hanya mengintai Iran, tetapi juga negara-negara lain yang terlibat. “Amerika juga begitu. Israel juga begitu. Bisa kekurangan supply,” katanya, menyoroti realitas perang modern yang sangat bergantung pada logistik dan rantai pasokan.
Di akhir analisisnya, JK memprediksi bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi besar untuk bergeser menuju perang berbasis drone. Efisiensi biaya operasional dan efektivitas drone dalam perang modern menjadikannya pilihan strategis yang menarik bagi semua pihak.
Dinamika pasokan senjata dan perkembangan teknologi militer akan menjadi faktor penentu utama arah konflik ke depan. Oleh karena itu, kemampuan adaptasi dan inovasi dalam teknologi pertahanan dan serangan akan sangat krusial bagi kelangsungan dominasi militer di kawasan tersebut.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa Jusuf Kalla yakin Iran tidak akan menyerah dalam menghadapi tekanan AS dan Israel?
Jusuf Kalla meyakini Iran tidak akan menyerah karena faktor sejarah panjang bangsa Persia yang tidak pernah tunduk, aspek ideologis dan agama yang menganggap mati syahid, serta dukungan teknologi militer dari negara lain seperti China dan Rusia.
Faktor sejarah apa yang disebutkan Jusuf Kalla terkait keteguhan Iran?
JK menyatakan bahwa karakter bangsa Persia yang kini menjadi Iran telah terbentuk sejak lama dan tidak pernah tunduk dalam sejarahnya, menunjukkan tradisi panjang sebagai bangsa yang tidak mudah menyerah.
Bagaimana Iran mendapatkan kemampuan serangan presisi yang disebutkan JK?
Menurut Jusuf Kalla, kemampuan serangan presisi Iran didukung oleh teknologi satelit dan sistem persenjataan dari China. Selain itu, peran Rusia yang memiliki hubungan militer erat dengan Iran juga disebut turut berkontribusi.
Apa itu strategi 'hujan roket' Iran yang dijelaskan oleh Jusuf Kalla?
Strategi 'hujan roket' adalah taktik Iran menembakkan roket dalam jumlah besar secara bertubi-tubi. Tujuannya bukan semata karena roket murah, melainkan untuk kuantitas yang dapat melemahkan dan membuat sistem pertahanan lawan seperti rudal Patriot kewalahan sehingga sebagian roket bisa mencapai sasaran.
Menurut Jusuf Kalla, ke arah mana konflik di Timur Tengah berpotensi bergeser di masa depan?
Jusuf Kalla melihat konflik ini berpotensi bergeser menjadi perang berbasis drone. Hal ini disebabkan oleh efisiensi biaya drone dan efektivitasnya dalam perang modern, serta ketergantungan pada suplai senjata dan teknologi.
Ditulis oleh: Maya Sari
