Jusuf Kalla: Prabowo Siap Jadi Penengah Konflik Timur Tengah

Table of Contents
Dikunjungi Dubes Iran, Jusuf Kalla: Prabowo Siap Jadi Penengah Konflik
Jusuf Kalla: Prabowo Siap Jadi Penengah Konflik Timur Tengah

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk bertindak sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan setelah Kalla menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di kediamannya di Jakarta.

Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 19:22 WIB tersebut membahas situasi terkini di Iran, termasuk perlawanan serta jatuhnya korban sipil. Boroujerdi menekankan pentingnya dukungan dari umat Islam, khususnya dari Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Peran Indonesia dalam Mediasi Konflik

Kalla menegaskan bahwa meskipun Prabowo siap menjadi penengah, upaya mediasi ini hanya dapat dijalankan dengan persetujuan penuh dari pihak-pihak yang bertikai. Pemerintah dan masyarakat Indonesia pada prinsipnya senantiasa mendukung setiap upaya perdamaian global. Diskusi lebih lanjut mengenai kemungkinan mediasi ini akan bergantung pada kesediaan semua pihak yang terlibat.

Dalam kesempatan terpisah, Duta Besar Iran untuk Indonesia juga menerima surat dukacita dari Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Megawati, yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa sesuai dengan amanat UUD 1945.

Surat tersebut diserahkan oleh Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Bidang Luar Negeri PDI-P Ahmad Basarah di Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Jakarta, pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 15.20 WIB. Hasto menjelaskan bahwa sikap PDI Perjuangan didasari oleh ideologi Pancasila dan doktrin politik luar negeri bebas aktif.

Peran Indonesia dalam Mediasi Konflik

Dampak Serius Konflik Timur Tengah

Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik, turut menyoroti potensi dampak serius jika perang di Timur Tengah terus berlanjut. Mantan anggota Komisi I DPR periode 2010-2017 ini memaparkan lima ancaman utama yang bisa timbul.

Pertama, potensi kekacauan politik di kawasan Timur Tengah akibat pembentukan front bersama antara Israel, AS, dan negara-negara basis militer AS. Hal ini berisiko memicu penolakan domestik dan mengancam stabilitas politik internal negara-negara Teluk.

Kedua, konflik ini dapat menggeser keseimbangan kekuatan militer di kawasan, berpotensi menjadikan Israel kekuatan dominan jika militer Iran berhasil dijatuhkan. Kondisi ini dapat menjadi mimpi buruk bagi negara-negara tetangga yang telah mengalami serangan rudal Israel sebelumnya.

Ketiga, dominasi Israel dikhawatirkan akan memicu perluasan agresi militer di kawasan, mengingat ambisi "Israel Raya" yang kerap disuarakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mahfuz memperingatkan bahwa kehancuran Iran bisa memuluskan ambisi ini, menjadikan wilayah seperti Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, dan Arab Saudi sebagai sasaran lanjutan.

Keempat, Mahfuz menyoroti dampak ekonomi global berupa krisis yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz dan Selat Baab el-Mandab selama perang berlangsung. Selat Hormuz merupakan jalur 20-30 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia, sedangkan Selat Baab el-Mandab di Laut Merah mencakup 12 persen pasokan minyak dan 10-15 persen perdagangan maritim dunia, yang keduanya sangat vital bagi rantai pasok energi global.

Terakhir, terdapat potensi terciptanya perang asimetris baru, di mana Iran dapat mengelola jaringan proksi dan penganut Syiah yang tersebar di banyak negara untuk melawan kepentingan Israel dan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Konflik berkepanjangan ini menggarisbawahi urgensi bagi komunitas internasional, termasuk Indonesia, untuk terus mengupayakan solusi damai.



Ditulis oleh: Siti Aminah

Baca Juga

Loading...