Ancaman Iran di Selat Hormuz, Kedubes AS Riyadh Dihantam Drone

Table of Contents
Iran ancam 'bakar' kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, Kedubes AS di Riyadh diserang drone - BBC News Indonesia
Ancaman Iran di Selat Hormuz, Kedubes AS Riyadh Dihantam Drone

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah seorang pejabat Iran memperingatkan akan "membakar" kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, beriringan dengan serangan drone terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Insiden-insiden ini menandai eskalasi konflik regional yang terus meluas dan memicu kekhawatiran global.

Ebrahim Jabbari, penasihat Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyampaikan peringatan tersebut melalui siaran televisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz kini dalam status tertutup, memperingatkan bahwa kapal-kapal yang mencoba melintas akan menghadapi respons serius dari Iran.

Ancaman Vital di Selat Hormuz

Jabbari juga menuduh AS "haus akan minyak di wilayah ini" dan mengancam Iran akan "menyerang jalur pipa mereka" serta tidak mengizinkan ekspor minyak dari kawasan tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, menjadi titik transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan "serangan terberat" terhadap Iran "masih akan datang", tanpa memberikan rincian taktis. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk melancarkan "operasi tempur skala besar" terhadap Iran, menyebutnya sebagai "kesempatan terakhir dan terbaik" untuk menghentikan rezim yang berkuasa.

Serangan Drone di Riyadh dan Kilang Minyak

Pernyataan ini muncul setelah Kedutaan Besar AS di Riyadh dihantam dua drone yang mengakibatkan "kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil pada bangunan", seperti dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan Saudi. Otoritas AS di Arab Saudi lantas mengeluarkan pemberitahuan kepada warganya untuk membatasi perjalanan tidak penting ke instalasi militer.

Trump mengisyaratkan akan melakukan serangan balasan "segera" atas insiden Riyadh dan kematian enam anggota militer AS serta 18 lainnya yang terluka dalam konflik yang memanas ini. Selain itu, kilang Ras Tanura yang dioperasikan Aramco di Arab Saudi, dengan kapasitas 550.000 barel per hari, terpaksa ditutup sementara pada Selasa setelah citra satelit Vantor menunjukkan api dan bekas bangunan hangus.

Ancaman Vital di Selat Hormuz

Pada Senin (02/03), Iran juga menyasar sektor energi di Qatar, menyebabkan perusahaan energi QatarEnergy menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah fasilitasnya di Ras Laffan dan Mesaieed diserang. Arab Saudi sebelumnya telah mengecam serangan tersebut sebagai "serangan terang-terangan dan pengecut" pada Sabtu (28/02).

Meluasnya Konflik: Lebanon, Israel, dan Inggris

Konflik juga merembet ke Lebanon dan Israel setelah kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, menembakkan roket ke wilayah Israel yang menewaskan sembilan warga sipil. Israel membalas dengan rudal ke Lebanon, menewaskan 31 orang, sementara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memerintahkan evakuasi lebih dari 50 desa di Lebanon.

Hizbullah menyatakan serangan mereka adalah pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS dan Israel. Kelompok itu menyebutnya sebagai "tindakan pembelaan diri yang sah", dan mengkonfirmasi peluncuran "rentetan roket dan sejumlah besar drone" ke situs pertahanan rudal Israel.

Militer Israel menegaskan serangan balasan mereka bertujuan "melawan keputusan Hizbullah bergabung" dalam konflik dan tidak akan membiarkan kelompok tersebut menjadi ancaman. Sementara itu, di tengah ketegangan regional, Pangkalan Angkatan Udara UK (RAF) di Siprus juga menjadi sasaran "diduga serangan drone" pada Minggu malam.

Dampak Ekonomi Global

Eskalasi konflik ini telah berdampak signifikan pada perekonomian global, terlihat dari melonjaknya harga minyak dunia setelah insiden serangan kapal di dekat Selat Hormuz pada 2 Maret 2026. Harga saham maskapai penerbangan di Asia Pasifik juga anjlok karena serangan Iran menghantam bandar udara di negara-negara tetangga.

Anggota Dewan Kerja Sama Teluk telah menuduh Iran melanggar kedaulatan mereka, menggarisbawahi gangguan ekonomi yang meluas di seluruh wilayah. Kampanye militer AS, menurut Presiden Trump, dapat berlangsung selama berpekan-pekan, menandakan bahwa prospek perdamaian di kawasan ini masih jauh.



Ditulis oleh: Sri Wahyuni

Baca Juga

Loading...