Tradisi Mandi Grujug Sumur Pengantin Indramayu: Berkah di Jumat Kliwon
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Puluhan warga Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, berbondong-bondong menuju Sumur Pengantin di kompleks Masjid Pusaka Baiturrahman pada Jumat (27/2/2026). Mereka melaksanakan ritus mandi 'grujug', sebuah tradisi turun-temurun yang diyakini membawa keberkahan, terutama saat bertepatan dengan Jumat Kliwon, 9 Ramadan 1447 Hijriah.
Akar Sejarah dan Keistimewaan Sumur Pengantin
Sumur yang dikenal sebagai Sumur Pengantin atau Sumur Masjid Pusaka ini dipercaya sudah ada sejak tahun 1470-an, mendahului berdirinya Masjid Pusaka Dermayu yang diperkirakan berdiri sekitar 1510. Keistimewaan sumur ini terletak pada airnya yang jernih dan tak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang, serta tidak pernah meluap di musim hujan.
Nang Sadewo, Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia sekaligus kepala pengelola Museum Bandar Cimanuk, menjelaskan fenomena ini. “Yang istimewa, airnya tidak pernah asat (kering), dan musim hujan pun kemarau tidak pernah meluap, segitu saja. Ini menjadi simbol bahwa Islam adalah agama rahmatan lil'alamin,” ujarnya.
Makna dan Harapan Peserta Mandi Grujug
Tradisi mandi grujug lazim dilakukan setiap Jumat, terutama Jumat Kliwon, serta pada momen-momen istimewa seperti 1 Suro (1 Muharam). Mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu, anak-anak, serta lansia, yang datang dengan beragam harapan.
Orang tua memanjatkan doa agar terhindar dari penyakit atau segera diberi kesembuhan, sementara anak-anak dimandikan dengan harapan lekas berjalan, lancar berbicara, atau memiliki nafsu makan yang baik. Sadewo menegaskan, “Ini adalah kekayaan ritus masyarakat muslim di pesisir yang menggabungkan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam.”
Perpaduan Budaya dan Kepercayaan
Tradisi mandi grujug disebut-sebut telah berlangsung sejak masa penyebaran Islam oleh para wali di tanah Jawa. Bagi warga, ritus ini bukan sekadar ritual semata, melainkan naluri spiritual yang tumbuh alami dan mendalam.
“Ini naluri masyarakat. Mereka datang tanpa diundang, karena percaya akan keberkahannya,” tambah Sadewo. Di antara kerumunan, Arini (43) dan Kurni'ah (51) adalah contoh partisipan yang rutin datang, berharap keberkahan hidup, keselamatan, dan kesehatan bagi diri serta keluarga. Kurni'ah bahkan membawa pulang dua galon air sumur untuk diminum dan keperluan keluarga, menunjukkan kuatnya keyakinan akan khasiatnya.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu Tradisi Mandi Grujug?
Mandi Grujug adalah ritual mandi tradisional yang dilakukan oleh warga Desa Dermayu, Indramayu, di Sumur Pengantin, Masjid Pusaka Baiturrahman, dengan keyakinan untuk mendapatkan keberkahan dan memenuhi berbagai harapan.
Kapan Tradisi Mandi Grujug biasanya dilaksanakan?
Tradisi ini lazim dilakukan setiap hari Jumat, terutama saat bertepatan dengan Jumat Kliwon, serta pada momen-momen istimewa lainnya seperti 1 Suro (1 Muharam).
Di mana lokasi Sumur Pengantin berada?
Sumur Pengantin merupakan sumur tua yang terletak di kompleks Masjid Pusaka Baiturrahman, Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu.
Mengapa warga melakukan Tradisi Mandi Grujug?
Warga melakukan tradisi ini untuk memohon keberkahan hidup, kesehatan, kesembuhan dari penyakit, serta harapan baik bagi anak-anak seperti cepat berjalan, lancar berbicara, atau memiliki nafsu makan yang baik. Jumat Kliwon diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa.
Siapa Nang Sadewo dan perannya dalam tradisi ini?
Nang Sadewo adalah Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia sekaligus kepala pengelola Museum Bandar Cimanuk. Beliau merupakan narasumber yang menjelaskan sejarah, makna, dan keunikan tradisi Mandi Grujug serta Sumur Pengantin.
Ditulis oleh: Eko Kurniawan
