Terungkap! Ini Penyebab Kematian Massal 961 Ikan Dewa di Kuningan

Table of Contents

Nyaris Seribu Ekor Ikan Dewa di Kuningan Mati, Disparbud Jabar Ungkap Hasil Investigasi | Republika Online


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Sebanyak 961 ekor Ikan Dewa (Tor Soro) dilaporkan mati secara massal di kolam Balong Girang, Kelurahan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Fenomena tragis ini terjadi secara bertahap dalam kurun waktu dua pekan, mulai 29 Januari hingga 12 Februari 2026.

Kematian ikan yang sering dikaitkan dengan mitos prajurit Prabu Siliwangi ini memicu respons cepat dari otoritas terkait. Dinas Perikanan Kabupaten Kuningan segera melakukan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi penyebab kematian yang sangat masif tersebut.

Hasil Diagnosa Klinis dan Gejala Penyakit

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Indra Sofyan, mengungkapkan hasil pengamatan lapangan terhadap ikan yang mati maupun yang masih hidup. Ia menyebutkan bahwa ikan-ikan tersebut tampak sangat lemas, pasif, dan ditemukan banyak luka merah pada permukaan tubuhnya.

Kondisi fisik ikan menunjukkan kerusakan pada bagian insang yang memucat hingga memutih serta sisik yang mudah terkelupas dari kulitnya. Indra menjelaskan bahwa tanda-tanda ini merupakan indikasi kuat adanya gangguan serius pada sistem pernapasan dan fisiologis ikan.

"Gejala ini menunjukkan ada gangguan di pernapasan, integumen serta penurunan kondisi fisiologis ikan," ujar Indra dalam pernyataan resminya pada Jumat (13/2/2026). Temuan ini menjadi dasar bagi tim ahli untuk memetakan faktor eksternal yang merusak ekosistem kolam.

Serangan Parasit Cacing Jangkar dan Masalah Pakan

Selain diagnosa klinis, tim investigasi menemukan adanya infestasi parasit jenis cacing jangkar atau Lernaea sp pada tubuh ikan. Parasit ini menempel kuat pada kulit, insang, hingga rongga mulut, yang mengakibatkan luka mekanis pada jaringan tubuh ikan.

Luka yang diakibatkan oleh cacing jangkar tersebut berpotensi besar membuka jalan bagi infeksi sekunder dari bakteri atau jamur. Hal inilah yang diduga mempercepat laju kematian ikan dalam jumlah besar di Balong Girang dalam waktu singkat.

Faktor manajemen pemeliharaan juga menjadi sorotan utama dalam investigasi yang dilakukan oleh Dinas Perikanan Kuningan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola, ditemukan adanya kelalaian dalam pemberian pakan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya.

Indra menegaskan bahwa ikan tidak diberi pakan secara rutin, sehingga kondisi tubuh ikan menjadi tidak proporsional dan rentan terhadap penyakit. Ketidakteraturan asupan nutrisi ini menurunkan sistem imun ikan dalam menghadapi serangan parasit di lingkungan kolam.

Kini, pihak berwenang terus memantau kondisi Balong Girang guna memastikan tidak ada penyebaran parasit lebih lanjut ke lokasi lain. Langkah mitigasi dan edukasi kepada pengelola kolam menjadi prioritas utama untuk melestarikan populasi Ikan Dewa yang tersisa.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa penyebab utama kematian 961 Ikan Dewa di Kuningan?

Kematian disebabkan oleh infestasi parasit cacing jangkar (Lernaea sp) serta pola pemberian pakan yang tidak rutin dan tidak berkualitas.

Kapan peristiwa kematian massal ini terjadi?

Peristiwa terjadi secara bertahap mulai dari tanggal 29 Januari hingga 12 Februari 2026.

Di mana lokasi spesifik kejadian tersebut?

Lokasi kejadian berada di kolam Balong Girang, Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Apa saja gejala fisik yang ditemukan pada ikan yang mati?

Ikan tampak lemas, terdapat luka merah di tubuh, insang pucat atau memutih, dan sisik mudah terkelupas.



Ditulis oleh: Siti Aminah

Baca Juga

Loading...