Serangan Rudal Iran Hantam Aset Militer AS di Berbagai Negara Teluk
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Iran meluncurkan serangan rudal besar-besaran terhadap aset militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk Arab pada Sabtu malam. Langkah agresif ini merupakan balasan langsung atas serangan gabungan skala besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah kedaulatan Iran sebelumnya.
Pemerintah Iran melalui kantor berita Fars mengonfirmasi bahwa target serangan mencakup fasilitas militer di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Wilayah-wilayah tersebut selama ini menjadi tuan rumah bagi berbagai pangkalan udara dan infrastruktur strategis milik militer Amerika Serikat.
Eskalasi Militer di Kawasan Teluk
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bahwa seluruh target militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah telah dihantam oleh rudal-rudal kuat mereka. IRGC menegaskan bahwa operasi militer ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai pihak musuh berhasil dikalahkan secara telak.
Pihak militer Iran juga secara resmi menyatakan bahwa seluruh aset Amerika Serikat di kawasan tersebut kini dianggap sebagai target yang sah. Pernyataan ini muncul tak lama setelah Donald Trump menyebutkan bahwa operasi tempur besar-besaran di Iran telah dimulai secara resmi.
Dampak Serangan di Uni Emirat Arab dan Bahrain
Setidaknya satu orang dilaporkan tewas di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, setelah beberapa rudal yang diluncurkan dari Iran berhasil dicegat. Kantor berita negara setempat mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa tersebut meskipun sistem pertahanan udara telah berupaya maksimal menghalau serangan.
Di Bahrain, pemerintah melaporkan adanya serangan rudal yang secara spesifik menargetkan markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat. Otoritas Bahrain mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan serta keamanan nasional kerajaan mereka.
Pertahanan Udara di Kuwait dan Qatar
Ledakan keras dilaporkan terdengar di Kuwait, yang merupakan lokasi dari markas besar Komando Pusat (CENTCOM) militer Amerika Serikat. Al Jazeera Arabic mengonfirmasi adanya aktivitas militer yang intens di wilayah tersebut sesaat setelah sirene peringatan udara berbunyi nyaring.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa sistem pertahanan mereka telah berhasil menggagalkan beberapa serangan rudal yang mengarah ke wilayah Doha. Semua proyektil berhasil dicegat sebelum mencapai daratan Qatar sesuai dengan rencana keamanan yang telah disiapkan sebelumnya oleh pemerintah.
Dampak Transportasi dan Diplomasi Regional
Akibat eskalasi konflik yang memanas, negara-negara seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab secara resmi telah menutup ruang udara mereka. Keputusan ini diambil untuk menjamin keselamatan penerbangan sipil di tengah meningkatnya risiko aktivitas rudal dan intersepsi udara di kawasan tersebut.
Hingga saat ini, Oman menjadi satu-satunya anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang tidak menjadi sasaran serangan militer dari pihak Iran. Oman selama ini dikenal memegang peran kunci sebagai mediator diplomatik antara Teheran dengan Washington serta negara-negara Barat lainnya.
Gagalnya Upaya Perdamaian di Timur Tengah
Menteri Luar Negeri Oman sebelumnya sempat menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai terkait pengayaan uranium Iran sudah berada dalam jangkauan. Namun, serangan gabungan yang diluncurkan AS dan Israel beberapa jam kemudian membuat proses negosiasi tersebut kini dinyatakan berakhir sepenuhnya.
Di Doha, laporan lapangan menunjukkan adanya setidaknya selusin ledakan yang diduga kuat berasal dari rudal pertahanan Patriot yang mencegat serangan masuk. Situasi di seluruh kawasan Teluk kini berada pada titik terendah seiring dengan meluasnya medan pertempuran dalam konflik Iran-Israel ini.
Ditulis oleh: Doni Saputra
