Rahasia Tofane: Mengapa Trek Downhill Olimpiade Wanita Cortina Sangat Ideal

Table of Contents

Women’s Olympic downhill: Why Tofane, Cortina’s famed track, is ‘the most perfect’


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - CORTINA D’AMPEZZO, Italia — Trek Olympia delle Tofane di Cortina memiliki daya pikat khusus bagi para atlet ski downhill, terutama menjelang balapan Olimpiade wanita. Jalur ini dianggap 'yang paling sempurna' dan menarik perhatian bintang-bintang top dunia.

Bahkan Lindsey Vonn, yang baru saja pulih dari cedera lutut parah, bertekad untuk start pada hari Minggu di ajang Olympic downhill. Tekadnya mencerminkan betapa istimewanya Cortina di hati banyak peski, sebuah tempat yang tak ingin mereka lewatkan.

Para pendatang baru pun cepat akrab dengan fitur-fitur dan seluk-beluk trek ini, mengenal nama-nama ikonik seperti Schuss, lompatan, dan tikungan menantang. Setiap veteran mengingat sensasi pertama menuruni bukit awal, melaju di antara puncak Dolomites yang megah.

Mereka meluncur melalui celah bebatuan raksasa yang dikenal sebagai Schuss, lalu langsung menuruni dinding dengan gradien 65 persen. Bagian ini terasa seperti turunan curam yang menguji batas kemampuan setiap atlet.

Daya Tarik Menantang Olympia delle Tofane

“Cortina, terlihat sangat indah, tapi bisa sangat menyulitkanmu,” kata Breezy Johnson, atlet downhill Amerika yang memiliki sejarah campur aduk dengan trek ini. Dia mencatat balapan tercepatnya dan finis 10 besar pertamanya di sini pada tahun 2017.

Daya Tarik Menantang Olympia delle Tofane

Namun, Cortina juga menjadi tempat Johnson mengalami robekan ligamen anterior cruciatum pada tahun 2022, membuatnya absen dari Olimpiade Beijing. Pengalamannya menyoroti bahwa keindahan trek ini datang dengan risiko besar, menuntut presisi tinggi.

Olympia delle Tofane membentang sepanjang 1,6 mil dengan penurunan vertikal 2.500 kaki, menawarkan tantangan sekaligus potensi bahaya. Mikaela Shiffrin pun pernah terjatuh di sini pada balapan downhill 2023, menyebabkan dua ligamen lututnya terkilir.

Cedera itu membuatnya absen enam minggu dan melewatkan 11 balapan, menghancurkan peluangnya menjadi juara umum. Meski demikian, setahun kemudian Shiffrin mengunggah video ski bebas di Tofane bersama Tina Maze, menulis tentang belajar dari kesalahan dan tidak membiarkan rasa takut mendikte pengalaman yang dicintai.

Ketahanan Lindsey Vonn dan Keunggulan Kompetitif

Trek ini membangkitkan pemikiran dan emosi besar, seperti terlihat dari kisah Vonn dan medali Olimpiade yang dipertaruhkan. Vonn, juara berusia 41 tahun, kembali pada 2024 setelah operasi penggantian lutut kanan parsial, mendominasi musim ini yang disebutnya sebagai yang terakhir.

Meski lutut kirinya baru cedera akibat kecelakaan di Crans-Montana, Swiss, ia tetap bertekad untuk berlaga di Cortina, tempat ia meraih 12 kemenangan dan podium Piala Dunia pertamanya. Ia percaya pada kualitas salju Cortina yang kering, mencengkeram, dan cepat. Ini juga merupakan salah satu dari sedikit lokasi Olimpiade yang rutin menjadi tuan rumah Piala Dunia, menjadikannya sangat familiar bagi para atlet.

Para pembalap ski sudah sangat mengenal setiap tikungan dan undulasi trek, dari lompatan Duca d’Aosta hingga tikungan buta Delta dan Gran Curvone. Bella Wright, atlet Amerika, menyebutnya “trek downhill yang paling sempurna” karena perpaduan meluncur, tikungan teknis, dan lompatan menarik.

Jackie Wiles, pemimpin tim kecepatan AS, menambahkan bahwa trek ini cocok untuk gaya peski Amerika yang unggul di tikungan terbuka dan mengalir cepat. Familiaritas ini, menurut Wiles, akan menjadikan balapan ini salah satu yang paling kompetitif dalam sejarah Olimpiade, di mana setiap atlet membawa strategi terbaiknya.



Ditulis oleh: Siti Aminah

Baca Juga

Loading...