Prediksi Usia Waduk Gajah Mungkur Tersisa 6 Tahun, Ini Bukti Citra Satelitnya

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Masa produktif Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah, diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar enam tahun lagi hingga tahun 2031 mendatang. Hal ini disebabkan oleh tingkat sedimentasi yang sangat parah serta batas usia efektif bangunan bendungan yang hanya mencapai 50 tahun.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengungkapkan peringatan tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi pada tahun 2025 silam. Beliau menyebutkan bahwa waduk yang telah beroperasi sejak tahun 1981 ini tengah menghadapi tantangan serius terkait kapasitas tampung airnya.
Penyusutan Kapasitas Tampung Akibat Sedimentasi
Pernyataan Menteri PU bukan tanpa dasar mengingat usia produktif waduk tersebut kini hanya menyisakan waktu yang sangat terbatas. Waduk Gajah Mungkur tercatat memiliki batas usia operasional efektif maksimal setengah abad sejak pertama kali diresmikan.
Dalam tinjauannya, Dody menyampaikan bahwa terjadi erosi masif pada dinding waduk yang memicu penumpukan material padat di dasar perairan. Kondisi ini membuat material di sekitar struktur waduk mulai terkikis dan mengurangi stabilitas jangka panjangnya.
"Tujuan kami ke Wonogiri adalah melihat kondisi Waduk Gajah Mungkur yang informasinya mengalami sedimentasi sangat parah," ujar Dody dalam keterangannya. Data teknis menunjukkan penurunan drastis pada volume air yang dapat ditampung oleh bendungan raksasa tersebut.
Pada awal pengoperasiannya, waduk ini didesain untuk menahan beban air lebih dari 500 juta meter kubik secara optimal. Namun, data tahun 2025 menunjukkan volume air yang tersisa hanya berada di angka 340 juta meter kubik saja.
Analisis Citra Satelit dan Perubahan Bentang Alam
Bukti nyata kerusakan ini terlihat jelas melalui citra satelit perubahan Waduk Gajah Mungkur yang memantau pergerakan air di Sungai Bengawan Solo. Perubahan signifikan tampak pada wilayah perairan yang berbatasan langsung dengan daerah Kepek dan Wurjantoro.
Perbandingan citra satelit antara tahun 1984 dan 2020 memperlihatkan penyusutan area genangan yang sangat mencolok di sejumlah titik. Pada rekaman tahun 1984, waduk masih tampak luas dengan lekukan perairan yang menjorok jauh ke arah daratan.
Memasuki tahun 2020, beberapa bagian teluk terlihat mulai mendalam dan menyempit akibat tumpukan lumpur yang mengeras di tepian. Fenomena pendangkalan ini mengonfirmasi terjadinya sedimentasi yang berlangsung terus-menerus selama tiga dekade terakhir.
Warna air yang tampak semakin gelap dalam citra terbaru juga mengisyaratkan tingginya konsentrasi endapan lumpur dari hulu. Kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan tingginya laju erosi lahan serta perubahan tata guna lahan di sekitar daerah aliran sungai.
Upaya Penyelamatan Melalui Teknologi Closure Dike
Penyempitan luas permukaan air berpotensi besar melumpuhkan fungsi utama waduk sebagai pengendali banjir dan sumber irigasi pertanian. Selain itu, sektor pembangkit listrik tenaga air dan perikanan lokal juga terancam kehilangan sumber daya utamanya.
Menanggapi krisis tersebut, Kementerian PU tengah mengerahkan upaya teknis guna memperpanjang usia fungsional bendungan terbesar di Wonogiri ini. Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah pembangunan sistem *closure dike* atau tanggul penutup.
Dody menjelaskan bahwa sistem ini diharapkan mampu menyaring sedimen dari Sungai Keduang sebelum masuk ke area utama bendungan. Jika tumpukan sedimen semakin tinggi, pemerintah berencana membangun unit *closure dike* baru secara berkala.
"Mengalirkan air Sungai Keduang ke *closure dike* adalah langkah krusial agar air yang masuk ke bendungan tetap bersih," tegas Dody. Meskipun menghadapi ancaman teknis, kawasan ini hingga kini masih menjadi destinasi wisata favorit bagi masyarakat sekitar Wonogiri.
Lanskap pemandangan yang asri dengan pepohonan hijau di sekitar bendungan tetap menjadi daya tarik utama bagi pengunjung setiap sore. Pemerintah berharap upaya normalisasi ini dapat menjaga fungsi ekologis dan ekonomi waduk demi kesejahteraan generasi mendatang.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kapan usia efektif Waduk Gajah Mungkur berakhir?
Usia efektif waduk diperkirakan berakhir pada tahun 2031, atau sekitar 50 tahun sejak mulai beroperasi pada 1981.
Apa penyebab utama penyusutan kapasitas Waduk Gajah Mungkur?
Penyebab utamanya adalah sedimentasi parah yang membawa material lumpur dari Sungai Keduang dan erosi lahan di wilayah hulu.
Apa solusi yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi sedimentasi tersebut?
Pemerintah membangun closure dike (tanggul penutup) untuk menyaring sedimen dari sungai agar air yang masuk ke bendungan utama lebih bersih.
Ditulis oleh: Budi Santoso