Perbandingan Sholat NU dan Muhammadiyah: Panduan Lengkap Perbedaan Tata Caranya
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Perbedaan tata cara sholat antara warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan fenomena keberagaman ekspresi Islam yang umum ditemukan di Indonesia. Perbedaan ini berakar pada metodologi pengambilan hukum Islam atau istinbath al-ahkam yang berbeda antara kedua organisasi tersebut.
Secara umum, NU cenderung mengikuti Madzhab Syafi'i dalam aspek fiqh ibadah harian. Di sisi lain, Muhammadiyah menekankan pada pemurnian ajaran (tarjih) yang merujuk langsung pada dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah yang dipandang paling kuat.
Perbedaan Penggunaan Doa Qunut pada Sholat Subuh
Salah satu perbedaan yang paling sering terlihat oleh publik adalah penggunaan doa Qunut saat melaksanakan sholat Subuh. Warga NU secara konsisten membacakan doa Qunut pada rakaat kedua sebelum melakukan sujud pertama.
Bagi NU, Qunut Subuh adalah sunnah ab'adh yang didasarkan pada riwayat hadis kuat menurut pandangan madzhab Syafi'i. Sebaliknya, warga Muhammadiyah biasanya tidak membacakan doa Qunut dalam sholat Subuh karena menganggap dalilnya tidak mencapai derajat yang mewajibkan pelaksanaannya.
Pelafalan Basmalah dalam Sholat Jahar
Perbedaan selanjutnya terletak pada cara melafalkan Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) saat membaca Surat Al-Fatihah dalam sholat yang suaranya dikeraskan. Imam sholat dari kalangan NU umumnya membaca Basmalah secara jahar atau bersuara keras.
Hal ini dilakukan karena Basmalah dianggap sebagai bagian integral dari ayat pertama surat Al-Fatihah. Namun, warga Muhammadiyah lebih sering membaca Basmalah secara sirr atau pelan sebelum melanjutkan ayat pertama dengan suara keras.
Varian Doa Iftitah dan Penempatan Tangan
Dalam hal doa Iftitah, warga NU umumnya menggunakan bacaan 'Allahu Akbar Kabira' yang cukup panjang dan komprehensif. Sementara itu, warga Muhammadiyah sering menggunakan versi doa 'Allahumma ba'id baini' yang merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Posisi tangan saat bersedekap juga menunjukkan sedikit perbedaan visual dalam pelaksanaannya di lapangan. Warga NU sering meletakkan tangan di bawah dada atau tepat di atas pusar, sedangkan warga Muhammadiyah biasanya meletakkannya tepat di atas dada.
Jumlah Rakaat Sholat Tarawih dan Witir
Saat bulan Ramadan, perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih menjadi topik yang sering dibahas oleh masyarakat. NU melaksanakan sholat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat Witir sebagai bentuk pelestarian tradisi sahabat Nabi.
Muhammadiyah secara konsisten melaksanakan 8 rakaat Tarawih ditambah dengan 3 rakaat Witir. Meskipun jumlah rakaatnya berbeda, kedua ormas ini tetap mengakui keabsahan ibadah masing-masing sebagai bagian dari khazanah Islam.
Persatuan dalam Keberagaman Fiqh
Penting untuk dicatat bahwa perbedaan-perbedaan di atas hanyalah bersifat furu'iyah atau cabang, bukan masalah pokok akidah. Kedua belah pihak saling menghormati dan tetap dapat menjalankan ibadah secara berdampingan di masjid-masjid Indonesia.
Keberagaman ini justru memperkaya wawasan keislaman masyarakat dalam memahami konteks hukum Islam yang luas. Memahami perbedaan ini membantu meningkatkan toleransi antarumat beragama dan memperkuat ukhuwah islamiyah di tanah air.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah sholat orang NU sah jika makmum pada imam Muhammadiyah?
Ya, sholatnya tetap sah karena perbedaan tersebut hanya pada masalah cabang (furu'iyah) dan bukan pada rukun sholat yang utama.
Apa perbedaan utama doa Iftitah NU dan Muhammadiyah?
NU umumnya menggunakan doa 'Allahu Akbar Kabira...', sedangkan Muhammadiyah umumnya menggunakan doa 'Allahumma ba'id baini...'.
Mengapa warga NU menggunakan Qunut Subuh?
NU menggunakan Qunut Subuh karena mengikuti Madzhab Syafi'i yang menganggapnya sebagai sunnah ab'adh berdasarkan hadis riwayat Anas bin Malik.
Apakah Muhammadiyah melarang doa Qunut?
Muhammadiyah tidak melarang secara mutlak, namun dalam putusan tarjihnya tidak mencantumkan Qunut Subuh sebagai amalan rutin karena penilaian kekuatan dalil yang berbeda.
Ditulis oleh: Budi Santoso