Pengurangan Poin Leicester City: 'Lolos' dari Sanksi Berat atau Aturan yang 'Konyol'?
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Keputusan English Football League (EFL) pada hari Kamis untuk mengonfirmasi pengurangan enam poin bagi Leicester City atas pelanggaran aturan Profit dan Keberlanjutan (PSR) telah memicu beragam reaksi di kalangan penggemar.
Hukuman ini, yang jauh lebih ringan dari spekulasi awal pengurangan 10 poin atau lebih, telah memunculkan perdebatan sengit mengenai keadilan, efektivitas aturan, dan masa depan klub.
Reaksi Penggemar: Antara Kelegaan dan Kekecewaan Mendalam
Banyak pendukung Leicester, seperti Rishul, menyatakan rasa lega atas hasil ini yang dianggap "jauh lebih baik dari yang diperkirakan." Mereka menyadari bahwa klub memang melanggar aturan PSR, namun upaya mitigasi dianggap berhasil mengurangi besarnya hukuman.
Senada dengan itu, John F dan Glenn L juga melihatnya sebagai "penyelamatan yang beruntung" dan hasil yang "jauh lebih baik" dari perkiraan banyak penggemar. Fokus kini beralih pada upaya tim untuk mengamankan posisi dan memulai kembali dengan semangat baru di musim mendatang.
Namun, tidak semua penggemar sependapat dengan kelegaan ini. Stephen H, seorang penggemar Leicester selama lebih dari enam puluh tahun, menegaskan pentingnya menaati aturan dan menerima konsekuensinya.
Andy D secara blak-blakan menyalahkan kepemimpinan klub, Top dan John Rudkin, yang dianggap telah "menghancurkan klub" secara perlahan dalam beberapa musim terakhir. Ia merasa kemenangan Piala FA hanya "menutupi retakan besar" yang sudah ada.
Punckaj juga mengemukakan keprihatinan mendalam atas "kondisi menyedihkan" klub, menyoroti salah urus keuangan selama era Rodgers yang dianggap membawa klub "ke ambang divisi ketiga." Ia merasa Khun Top telah dikecewakan oleh Rudkin dan Whelan.
Perdebatan Atas Aturan Keberlanjutan Finansial dan Keadilan
Sian menyuarakan pandangan bahwa meskipun aturan PSR tampak jelas, sanksi yang diberikan terasa "agak konyol" karena berpotensi semakin mengurangi pendapatan klub melalui degradasi.
Ia mempertanyakan bagaimana hukuman tersebut justru membantu klub yang berjuang secara finansial untuk tetap bertahan, dan membedakannya dari klub kaya yang membayar gaji fantastis.
Sementara itu, beberapa penggemar seperti Paul W dan Tom G menyuarakan ketidakadilan dengan mempertanyakan status 115 dakwaan yang masih tertunda terhadap Manchester City.
Tom G juga menyoroti waktu penerapan hukuman yang "terlalu terlambat," seharusnya diterapkan musim lalu, yang kini menempatkan klub pada risiko degradasi ke League One.
Masa Depan Leicester City: Seruan Persatuan dan Pembangunan Kembali
Menghadapi tantangan ini, Jeff B menyerukan persatuan, mengingatkan pada masa-masa sulit sebelum memenangkan Premier League ketika "keluarga Foxes bersatu." Ia yakin tim akan bangkit kembali.
Phil C mengakui bahwa klub "terlalu boros" dalam mengejar mimpi, dengan "keputusan buruk" mengenai pemain, kontrak, dan gaji yang berdampak selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, ia tetap menghargai upaya klub untuk bersaing, namun mengakui banyak kesalahan telah dibuat.
Baik Phil C maupun John F menekankan pentingnya bagi tim untuk "bersatu" dan "mulai membangun kembali." Phil C juga berharap Khun Top telah "belajar pelajaran yang sangat pahit" dari insiden ini.
Glenn L melihat ini sebagai "uji asam" bagi para pemain, apakah mereka siap berjuang atau hanya "menyerah" sambil terus menerima gaji. Masa depan Leicester City kini berada di tangan tim untuk membuktikan semangat juang mereka.
Ditulis oleh: Rudi Hartono