Pengalaman Liga Bawah: Fondasi Penting Manajer Muda Inggris di Premier League

Table of Contents

'Why young British managers need lower league experience'


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Reaksi media dan beberapa pendukung Chelsea terhadap penunjukan Liam Rosenior baru-baru ini telah menarik perhatian luas. Di luar ingar-bingar permainan selama beberapa tahun, terlihat jelas tren keraguan dan bahkan negativitas terhadap penunjukan manajer Inggris oleh klub papan atas.

Liam Rosenior, yang dikenal oleh Tony Pulis sejak menjadi pemain muda di Bristol City lebih dari 25 tahun lalu, menghadapi banyak pertanyaan terkait pengalamannya hingga gaya berpakaiannya. Meskipun demikian, awal kiprahnya di Chelsea sangat luar biasa dengan lima kemenangan dari tujuh pertandingan, menunjukkan potensi yang besar.

Tantangan dan Perbandingan di Kasta Tertinggi

Satu-satunya kekalahan Rosenior terjadi di kedua leg semifinal Carabao Cup melawan Arsenal. Walaupun tersingkir adalah pukulan, penting untuk diingat bahwa bos Arsenal, Mikel Arteta, telah memegang jabatan selama lebih dari enam tahun, didukung finansial besar dan loyalitas klub yang luar biasa.

Arteta telah membangun tim yang menjadi salah satu yang terbaik di Inggris dan Eropa, sebuah kontras besar dengan situasi Liam yang baru memulai. Perbedaan besar dalam keadaan mereka tidak menghentikan kritik terhadap pendekatan Liam di pertandingan-pertandingan tersebut, namun dia telah menghabiskan hampir satu dekade bekerja keras untuk mendapatkan pengalaman yang layak atas kesempatan ini.

Pelajaran dari Liga Bawah dan Eropa

Pengalaman Liam di liga-liga yang lebih rendah dan di Eropa telah mengajarkan kekejaman manajemen serta reaksi yang didapat dari setiap kekalahan. Tony Pulis, mantan manajer yang pernah bekerja di setiap level profesional di Inggris, menekankan bagaimana liga-liga bawah mengajarkan tekanan mendalam baik saat menang maupun kalah.

Kemampuan untuk mengabaikan kebisingan dari media dan mengelola diri sendiri adalah aset terbesar Pulis dalam menghadapi tekanan pekerjaan sehari-hari. Liam Rosenior akan membutuhkan kemampuan tersebut sepuluh kali lipat di klub elit Inggris, di mana pengawasan sangat mendalam dan konstan.

Krisis Manajer Lokal di Premier League

Tantangan dan Perbandingan di Kasta Tertinggi

Saat ini, hanya ada enam manajer permanen asal Inggris di Premier League, jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan liga-liga besar Eropa lainnya, ditambah Michael Carrick di Manchester United hingga akhir musim. Tony Pulis sangat berharap Rosenior mendapatkan waktu dan dukungan yang sama seperti Arteta di Arsenal, demi masa depan sepak bola nasional.

Eddie Howe telah membuktikan di Newcastle, bahwa dengan waktu dan dukungan, manajer Inggris bisa sukses, dan Keith Andrews di Brentford juga menunjukkan nilainya. Keberhasilan para manajer lokal ini penting sebagai mentor bagi pelatih muda Inggris dan Irlandia agar dapat mencapai level tertinggi.

Pergeseran Era: Dari Dominasi Inggris ke Pengaruh Global

Dulu, pada era 1980-an dan 1990-an, klub-klub Inggris banyak dikelola oleh manajer Inggris seperti Bob Paisley, Brian Clough, Alex Ferguson, Bobby Robson, dan George Graham. Mereka, bersama para 'over-achiever' seperti Bobby Gould di Wimbledon dan John Sillett di Coventry, diberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka.

Namun, di akhir 1990-an, kedatangan Arsene Wenger di Arsenal membuka pintu bagi masuknya manajer asing ke Inggris. Sejak itu, banyak manajer top dunia seperti Mauricio Pochettino, Jose Mourinho, Pep Guardiola, dan Claudio Ranieri telah membawa kesuksesan besar, meningkatkan kompetisi di Premier League.

Pentingnya Pengalaman Nyata di Luar Akademi

Pulis, yang mendapatkan semua kualifikasi kepelatihan utamanya pada usia 21 tahun, percaya bahwa pengalaman di liga bawah sangat krusial. Perjalanan kariernya sendiri dimulai dari liga-liga yang lebih rendah, di mana ia naik kasta secara bertahap dan mengasah kekuatan serta mengatasi kelemahannya setiap minggu.

Saat ini, sepak bola akademi sering dianggap sebagai lahan pembibitan baru bagi pelatih muda, namun Pulis berpendapat bahwa mereka harus merasakan faktor 'menang' di luar pengembangan usia muda. Mengelola di akademi ibarat 'shadow boxing', di mana tidak ada tekanan suporter, intervensi manajemen, atau tuntutan pemain yang ingin pergi.

Pengalaman langsung di sepak bola pria, di mana pekerjaan manajer bergantung pada performa tim dan ada kritik dari penonton serta media, sangatlah berbeda. Manajer seperti Jim Smith, Ron Atkinson, Sam Allardyce, dan Harry Redknapp semuanya mengawali karier dari liga-liga bawah sebelum mencapai puncak, membuktikan nilai pengalaman tersebut.

Sepak bola akademi cenderung terlalu banyak teori, padahal yang dibutuhkan pelatih muda adalah praktik untuk memahami situasi manajemen yang sebenarnya. Melatih untuk mengembangkan itu penting, tetapi ketika berada di posisi yang panas, melatih untuk menang adalah hal yang sangat berbeda.

Tony Pulis, dalam wawancaranya dengan Chris Bevan dari BBC Sport, sangat berharap lebih banyak manajer Inggris diberi kesempatan di Premier League. Ia juga berharap promosi dari Championship bukanlah satu-satunya rute realistis untuk mencapai impian tersebut, dan manajer harus dinilai berdasarkan prestasi, bukan persepsi awal.



Ditulis oleh: Doni Saputra

Baca Juga

Loading...