Pembangunan 1.500 Huntara di Aceh Timur: Langkah Pemulihan Desa Terisolir

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Upaya pemulihan pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah Aceh Timur pada akhir November 2025 kini memasuki babak baru yang sangat krusial. Desa Sahraja di Kecamatan Pante Bidari, yang sebelumnya terisolir akibat tumpukan lumpur, mulai menunjukkan aktivitas pembangunan hunian sementara atau huntara bagi warga terdampak.
Pembangunan ini menjadi simbol harapan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat luapan air dan material lumpur yang merusak struktur bangunan di kawasan tersebut. Pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan warga segera mendapatkan tempat bernaung yang layak sebelum hunian permanen dapat direalisasikan.
Memahami Konsep Huntara dalam Siklus Pascabencana
Dalam manajemen bencana, hunian sementara (huntara) didefinisikan sebagai tempat tinggal sementara yang dibangun untuk menampung warga sebelum rumah permanen selesai dibangun atau diperbaiki. Huntara di Desa Sahraja dirancang untuk memberikan perlindungan standar dari cuaca serta menjamin sanitasi yang memadai bagi para pengungsi.
Komandan Rayon Militer (Danramil) 20/Pante Bidari, Muhammad Irwan, menegaskan bahwa pembangunan ini adalah bagian integral dari tahap pemulihan fisik wilayah. Langkah ini diambil setelah tahap tanggap darurat selesai, di mana fokus beralih dari sekadar penyelamatan nyawa menuju stabilisasi kehidupan sosial ekonomi warga.
Target dan Spesifikasi Pembangunan di Desa Sahraja
Proyek pembangunan di Desa Sahraja ini tidak main-main karena ditargetkan mencakup pembangunan sekitar 1.500 unit huntara bagi keluarga yang terdampak banjir. Jumlah unit yang masif ini mencerminkan betapa luasnya dampak banjir bandang yang terjadi pada November 2025 di kawasan Kecamatan Pante Bidari.
Mengenai tenggat waktu, Muhammad Irwan menyampaikan bahwa seluruh unit huntara tersebut ditargetkan selesai pada momen Idul Fitri atau sekitar Maret 2026. Jadwal ini disusun sedemikian rupa agar masyarakat dapat merayakan hari besar keagamaan di hunian yang lebih stabil dibandingkan tenda pengungsian.
Peran Krusial TNI dalam Pembukaan Akses Jalan
Salah satu kendala utama dalam pemulihan Desa Sahraja adalah lokasinya yang terisolir akibat akses jalan yang tertutup lumpur tebal setinggi puluhan sentimeter. Sejak awal bencana, personil TNI telah dikerahkan secara intensif untuk melakukan pembersihan material banjir guna membuka kembali jalur distribusi logistik.
Saat ini, jalan menuju Desa Sahraja sudah dapat dilalui, yang mempermudah alat berat dan material bangunan masuk ke lokasi pembangunan huntara. Keberhasilan pembukaan akses ini menjadi kunci utama mengapa pembangunan fisik huntara baru bisa dilaksanakan secara masif pada periode sekarang.
Tantangan Geografis dan Faktor Cuaca di Lokasi
Pembangunan di daerah terpencil seperti Desa Sahraja menghadapi tantangan logistik yang cukup berat, terutama terkait jarak dari pusat perkotaan dan kondisi infrastruktur. Rudi Jasa, salah seorang warga Dusun Sarah Gala, mengungkapkan bahwa pengiriman material seringkali terhambat apabila hujan deras mengguyur wilayah Aceh Timur.
Kondisi jalan yang masih dalam tahap perkerasan akan menjadi sangat licin dan berlumpur saat hujan, sehingga kendaraan pengangkut material tidak dapat melaju. Hal inilah yang menyebabkan progres pembangunan di desa ini cenderung lebih lambat dibandingkan desa-desa lain yang memiliki aksesibilitas lebih baik.
Strategi Relokasi untuk Mitigasi Banjir Masa Depan
Pemerintah dan pihak terkait tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mempertimbangkan aspek mitigasi bencana jangka panjang melalui kebijakan relokasi. Warga yang semula menempati kawasan rawan seperti Dusun Sarah Gala direncanakan akan dipindahkan ke lahan yang memiliki elevasi atau ketinggian lebih tinggi.
Relokasi ini sangat penting mengingat lokasi lama berada di zona berisiko tinggi terhadap banjir luapan sungai yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Dengan memindahkan pemukiman ke tempat yang lebih aman, risiko kerugian jiwa dan materi di masa depan dapat diminimalisir secara signifikan.
Progres di Lapangan: Perataan Tanah dan Persiapan Unit
Berdasarkan pengamatan di lapangan, sejumlah petak tanah di area relokasi telah diratakan menggunakan alat berat untuk membentuk fondasi dasar unit huntara. Pekerjaan ini melibatkan koordinasi antara teknisi bangunan, personil TNI, dan relawan lokal yang bahu-membahu mempercepat proses konstruksi.
Setiap petak tanah disiapkan dengan ukuran yang seragam untuk memastikan tata ruang pemukiman sementara ini teratur dan mudah dipantau. Langkah awal perataan tanah ini sangat krusial agar struktur bangunan huntara nantinya tetap stabil dan tidak mudah tergerus oleh aliran air permukaan.
Dukungan Kolaboratif dan Harapan Masyarakat
Keberhasilan proyek 1.500 unit huntara ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, relawan, dan partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Rudi Jasa mewakili warga menyampaikan apresiasi yang besar atas bantuan yang terus mengalir meskipun lokasi desa mereka cukup sulit dijangkau.
Masyarakat berharap agar pengerjaan ini tidak mengalami kendala teknis yang berarti sehingga target Maret 2026 benar-benar dapat tercapai. Dengan adanya hunian sementara ini, psikologi warga yang sempat terguncang akibat bencana diharapkan dapat berangsur pulih seiring kembalinya kehidupan rumah tangga yang mandiri.
Kesimpulan: Menuju Kemandirian Pascabencana
Pembangunan huntara di Desa Sahraja merupakan bukti nyata komitmen pemulihan pascabencana yang komprehensif di wilayah Aceh Timur. Meskipun dihadapkan pada tantangan geografis dan cuaca, kerja keras tim di lapangan terus menunjukkan perkembangan positif yang konsisten.
Semangat gotong royong antara TNI, pemerintah, dan warga menjadi modal utama dalam membangun kembali kehidupan yang lebih baik di lokasi yang lebih aman. Semoga langkah ini menjadi awal dari pembangunan berkelanjutan yang lebih tangguh terhadap ancaman bencana alam di masa yang akan datang.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu Huntara?
Huntara atau Hunian Sementara adalah bangunan tempat tinggal sementara yang disediakan bagi korban bencana sebelum mereka memiliki hunian tetap (Huntap).
Berapa jumlah huntara yang dibangun di Desa Sahraja?
Target pembangunan huntara di Desa Sahraja, Aceh Timur, mencapai kurang lebih 1.500 unit.
Kapan target penyelesaian pembangunan huntara tersebut?
Pembangunan ditargetkan selesai pada bulan Maret 2026 atau bertepatan dengan momen hari raya Idul Fitri.
Mengapa pembangunan huntara di Desa Sahraja dianggap lambat?
Pembangunan tergolong lambat karena lokasi desa yang jauh dari perkotaan, akses jalan yang sulit, serta kendala cuaca hujan yang menghambat transportasi material.
Mengapa warga Dusun Sarah Gala harus direlokasi?
Relokasi dilakukan karena lokasi lama berada di area yang sangat rawan banjir, sehingga warga dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi untuk alasan keamanan.
Ditulis oleh: Sri Wahyuni