Panduan Lengkap: Prof. Sri Mulyati dan Relevansi Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual

Table of Contents

Prof. Sri Mulyati dan Relevansi Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual Manusia
Panduan Lengkap: Prof. Sri Mulyati dan Relevansi Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Prof. Sri Mulyati dikenal sebagai intelektual muslim yang berhasil menjembatani kedalaman ajaran tasawuf dengan dinamika kehidupan modern yang serba cepat. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mendedikasikan hidupnya untuk memastikan spiritualitas Islam tetap relevan di tengah arus perubahan zaman.

Kehadirannya menjadi oase bagi masyarakat yang seringkali merasa terasing akibat pemisahan antara nilai agama dan realitas kehidupan nyata. Beliau wafat pada tahun 2023, namun warisan pemikirannya tetap menjadi rujukan utama bagi para akademisi dan praktisi sufisme di Indonesia.

Peran Akademik dan Kiprah Organisasi

Di ruang kuliah UIN Jakarta, Prof. Sri tidak sekadar mengajarkan teori sufisme melainkan membangun kesadaran akan pembinaan jiwa. Beliau menempatkan tasawuf dalam lanskap akademik yang kokoh sehingga ajaran ini dapat diterima secara rasional oleh generasi muda.

Kiprahnya meluas hingga ranah organisasi sosial keagamaan sebagai Ketua Fatayat NU selama dua periode, yakni pada tahun 1989 hingga 2000. Pengalaman kepemimpinan ini membuktikan bahwa kedalaman spiritual tidak menghalangi seseorang untuk aktif dalam dinamika sosial-politik nasional.

Beliau juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua I Muslimat NU dan menjadi anggota LBM PBNU hingga akhir hayatnya. Perjalanan organisasional tersebut menunjukkan komitmen kuat Prof. Sri dalam memperjuangkan kepentingan umat melalui jalur struktural.

Memahami Tarekat Muktabarah di Indonesia

Peran Akademik dan Kiprah Organisasi

Dalam karya monumentalnya yang berjudul "Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia", Prof. Sri mengurai makna mendalam tentang jalan menuju Tuhan. Beliau menjelaskan konsep wasilah dan rabithah sebagai metode pembinaan ruhani yang terstruktur dan memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Tarekat dipandang sebagai sistem pendidikan spiritual yang memiliki metodologi dan etika, bukan sekadar praktik individual tanpa bimbingan. Melalui bukunya, ia menegaskan bahwa gerakan tasawuf telah bertransformasi menjadi komunitas dengan identitas yang kuat layaknya madzhab fikih.

Integrasi Syariat dan Kehidupan Sosial

Prof. Sri Mulyati menolak keras anggapan bahwa tasawuf identik dengan uzlah atau mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Baginya, pandangan tersebut adalah reduksi sejarah karena banyak sufi besar justru tampil sebagai penggerak sosial dan pembaharu zaman.

Beliau menekankan pentingnya integrasi antara syariat sebagai fondasi normatif, tarekat sebagai latihan batin, dan hakikat sebagai pencerahan makna. Ketiganya merupakan satu kesatuan organik yang harus berjalan selaras sesuai dengan prinsip akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Di tengah krisis spiritual manusia modern, tasawuf menawarkan ketenangan jiwa atau sakinah sebagai penyeimbang tekanan psikologis akibat kompetisi global. Spiritualitas bukan merupakan bentuk pelarian, melainkan energi moral untuk menghadapi realitas dengan integritas dan kejernihan hati.

Selain itu, Prof. Sri memberi perhatian besar pada peran perempuan dalam dunia tasawuf melalui pendekatan historis dan sosiologis yang tajam. Ia membuktikan bahwa perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam perkembangan tarekat dan pendidikan spiritual di Nusantara sejak masa lampau.

Melalui buku "Tasawuf Nusantara", ia mengulas corak sufisme Indonesia yang inklusif, adaptif, dan moderat dalam berinteraksi dengan budaya lokal. Warisan pemikiran Prof. Sri Mulyati mengajak kita untuk menjadi pribadi yang aktif berkarya di dunia sambil tetap menjaga hubungan mendalam dengan Sang Khalik.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa Prof. Sri Mulyati?

Beliau adalah Guru Besar Tasawuf di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Ketua Umum Fatayat NU (1989–2000) yang fokus pada integrasi sufisme dengan kehidupan modern.

Apa buku paling terkenal karya Prof. Sri Mulyati?

Salah satu karya monumentalnya adalah 'Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia' yang diterbitkan oleh Kencana pada tahun 2006.

Bagaimana pandangan beliau tentang tasawuf dan kehidupan sosial?

Beliau menolak anggapan bahwa tasawuf adalah cara untuk mengasingkan diri (uzlah). Sebaliknya, beliau meyakini tasawuf adalah energi untuk aktif dalam pengabdian sosial dan profesionalitas.

Mengapa pemikiran beliau relevan di tengah krisis spiritual modern?

Karena ajaran tasawuf yang beliau sampaikan menawarkan ketenangan jiwa (sakinah) dan orientasi hidup yang transenden bagi manusia yang mengalami tekanan psikologis di era teknologi.



Ditulis oleh: Agus Pratama

Baca Juga

Loading...