NU Ikut Imam Siapa? Mengenal Mazhab dan Haluan Keagamaan Nahdlatul Ulama
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki landasan keagamaan yang jelas dalam menentukan rujukan imamnya. Hal ini sering menjadi pertanyaan publik mengenai kepada siapa warga Nahdliyin menyandarkan otoritas hukum Islam mereka.
Secara organisatoris, NU secara tegas menyatakan diri sebagai pengikut paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Dalam praktiknya, NU merujuk pada empat mazhab besar dalam bidang fikih serta tokoh-tokoh tertentu dalam aspek akidah dan tasawuf.
Haluan Fikih: Berpegang pada Empat Mazhab Besar
Dalam bidang fikih atau hukum Islam, Nahdlatul Ulama memberikan kebebasan untuk mengikuti salah satu dari empat imam mazhab terkemuka. Empat imam tersebut adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali yang diakui otoritasnya secara global.
Meski mengakui keempatnya, mayoritas warga NU di Indonesia secara praktis lebih banyak mengikuti metode ijtihad dari Imam Syafi’i. Hal ini disebabkan oleh sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang didominasi oleh pengaruh ulama bermazhab Syafi'iyah.
Kiai Haji Hasyim Asy'ari, pendiri NU, menekankan pentingnya bermadzhab agar umat tidak tersesat dalam menafsirkan teks suci secara mandiri. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pemahaman agama di tengah keragaman interpretasi dalil yang sangat luas.
Aspek Akidah dan Tasawuf dalam Tradisi NU
Untuk urusan akidah atau tauhid, NU mengikuti jejak pemikiran Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Kedua tokoh ini dikenal sebagai perumus paham teologi yang moderat dan mampu mensinkronkan antara wahyu dengan akal sehat.
Pilihan terhadap dua imam akidah ini bertujuan untuk menghindari pemahaman yang ekstrem, baik dari kelompok tekstualis maupun kelompok yang terlalu liberal. Doktrin Asy'ariyah dan Maturidiyah dianggap paling relevan dengan karakter masyarakat Indonesia yang inklusif.
Sementara dalam bidang tasawuf atau penyucian jiwa, NU merujuk pada Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. Kedua imam ini dipilih karena ajaran tasawuf mereka dianggap seimbang dan tidak meninggalkan syariat Islam yang bersifat lahiriah.
Melalui rujukan imam-imam tersebut, NU berhasil membangun kerangka keagamaan yang kokoh dan konsisten selama satu abad terakhir. Hal ini membuat praktik keagamaan warga NU tetap relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan Islam.
Secara keseluruhan, sistem bermadzhab di NU bukan hanya soal mengikuti individu, melainkan mengikuti metodologi ilmiah yang telah teruji. Langkah ini menjadi kunci mengapa NU tetap menjadi organisasi yang stabil dan memiliki pengaruh besar di tanah air.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa mazhab fikih utama yang diikuti warga NU?
Meskipun NU mengakui empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali), secara praktis mayoritas warga NU mengikuti Mazhab Imam Syafi'i.
Siapa tokoh rujukan akidah dalam Nahdlatul Ulama?
Dalam bidang akidah, NU merujuk pada pemikiran Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
Siapa imam tasawuf yang menjadi rujukan NU?
Untuk bidang tasawuf, NU mengikuti ajaran Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi yang memadukan tasawuf dengan syariat.
Ditulis oleh: Siti Aminah