Marhaban Ya Ramadhan: Wajibkah Mengucapkan Atau Cukup di Hati Saja, Bestie?

Table of Contents

Tradisi Menyambut Ramadhan

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Hai, Bestie! Gimana nih perasaanmu jelang Ramadhan? Udah mulai mood buat puasa, tarawih, dan ngabuburit belum? Pasti banyak di antara kita yang lagi semangat-semangatnya menyambut bulan penuh berkah ini. Nah, di tengah euforia itu, sering banget kan kita dengar atau mengucapkan kalimat "Marhaban Ya Ramadhan"? Kalimat sambutan yang syahdu ini seolah jadi soundtrack wajib setiap kali Ramadhan tiba.

Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran, "Eh, sebenarnya mengucapkan 'Marhaban Ya Ramadhan' itu wajib nggak sih dalam Islam?" Atau jangan-jangan, selama ini kita ngucapin cuma karena ikut-ikutan tren dan takut dibilang nggak gaul kalau nggak ngucapin? Tenang, kamu nggak sendiri kok! Pertanyaan ini wajar banget muncul. Yuk, kita bedah tuntas bareng-bareng biar nggak penasaran lagi. Dijamin, setelah ini kamu makin mantap menyambut Ramadhan, entah dengan ucapan atau dengan segenap jiwa dan raga!

Marhaban Ya Ramadhan: Sambutan Penuh Cinta atau Kewajiban Agama?

Sebelum kita jauh membahas soal wajib atau tidak, mari kita pahami dulu apa sih arti "Marhaban Ya Ramadhan" ini. Secara bahasa, "Marhaban" berasal dari kata rahb yang berarti luas, lapang, atau menyambut dengan tangan terbuka. Jadi, "Marhaban Ya Ramadhan" bisa diartikan sebagai "Selamat datang, Ramadhan, kami menyambutmu dengan lapang dada." Wah, puitis banget ya?

Di Indonesia, ucapan ini udah jadi semacam tradisi turun-temurun. Rasanya kurang afdol kalau mau puasa tapi nggak ada ucapan "Marhaban Ya Ramadhan" dari tetangga, teman kantor, atau grup chat keluarga. Bahkan, ada juga yang sampai pasang Twibbon Ramadhan biar makin meriah. Ini menunjukkan betapa kuatnya budaya kita dalam menyambut Ramadhan dengan suka cita. Ibaratnya, Ramadhan itu tamu agung yang kedatangannya selalu dinanti dan disambut meriah.

Sambutan Ramadhan

Tapi, apakah "sambutan meriah" ini harus dalam bentuk ucapan? Apakah ada dalil khusus yang mewajibkan kita berujar "Marhaban Ya Ramadhan"? Yuk, kita intip dari kacamata fiqih!

Sudut Pandang Fiqih: Gimana Kata Para Ulama, Nih?

Nah, ini dia bagian yang paling kita tunggu-tunggu! Dari sekian banyak literatur dan pendapat ulama, mayoritas sepakat bahwa mengucapkan "Marhaban Ya Ramadhan" itu bukanlah sebuah kewajiban syar'i yang jika ditinggalkan akan mendatangkan dosa. Alhamdulillah, jadi lega kan?

Lho, terus masuk kategori apa dong?

  • Tidak Wajib: Artinya, nggak ada dalil Al-Qur'an atau hadis sahih yang secara eksplisit memerintahkan kita untuk mengucapkan kalimat tersebut.
  • Sunnah atau Dianjurkan (Mustahab): Meskipun tidak wajib, mengucapkan salam atau tahniah (ucapan selamat) dalam momen kebaikan seperti datangnya Ramadhan ini sangat dianjurkan. Ini adalah bentuk ekspresi kegembiraan dan syukur atas karunia Allah SWT yang mempertemukan kita kembali dengan bulan suci. Nabi Muhammad SAW sendiri kerap memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang datangnya Ramadhan.
  • Mubah (Boleh): Ini adalah kategori paling umum. Mengucapkan "Marhaban Ya Ramadhan" itu boleh-boleh saja, asalkan niatnya baik, yaitu untuk berbagi kebahagiaan dan mengingatkan sesama akan keutamaan bulan Ramadhan.

Ulama Berdiskusi

Bahkan, para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa memberi ucapan selamat atas datangnya kebaikan, termasuk bulan Ramadhan, adalah mustahab (dianjurkan). Jadi, kalau kamu ngucapin, dapat pahala kebaikan dan silaturahmi. Kalau nggak ngucapin secara lisan tapi hati sudah siap sedia, ya nggak apa-apa juga. Yang penting, seperti pesan Ketua NU Aceh, mari patuhi penetapan awal Ramadhan dan sambut dengan amalan terbaik.

Esensi di Balik Ucapan: Bukan Sekadar Kata-kata, Tapi Rasa!

Jadi, Bestie, intinya bukan cuma di mulut doang. Esensi dari "Marhaban Ya Ramadhan" itu adalah persiapan hati dan jiwa untuk menyambut bulan yang mulia ini. Ibarat mau kedatangan tamu penting, kita pasti bersih-bersih rumah, siapin makanan enak, dan dandan rapi, kan? Nah, Ramadhan itu tamu paling penting. Jadi, yang harus kita siapkan adalah:

  • Niat Tulus: Niatkan puasa dan semua ibadah karena Allah SWT.
  • Taqwa: Mempersiapkan diri dengan meningkatkan ketakwaan, meninggalkan maksiat, dan memperbanyak amal saleh.
  • Perencanaan Ibadah: Mau khatam Al-Qur'an berapa kali? Mau sholat malam berapa rakaat? Mau sedekah ke siapa saja?
  • Memaafkan: Sebelum Ramadhan tiba, berlapang dada untuk saling memaafkan agar hati lebih bersih.

Hati Ikhlas

Ucapan "Marhaban Ya Ramadhan" itu hanyalah manifestasi dari perasaan syukur dan gembira kita. Tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita mengisi Ramadhan. Ucapan bisa jadi formalitas, tapi persiapan hati dan amalan itu yang substansi.

Jadi, Perlukah Kita Mengucapkannya?

Melihat dari penjelasan di atas, jawabannya adalah: sangat dianjurkan dan baik, tapi tidak wajib.

Mengucapkan "Marhaban Ya Ramadhan" adalah bentuk ekspresi kegembiraan, saling mengingatkan akan keutamaan bulan suci, dan mempererat tali silaturahmi. Nggak ada salahnya kok kalau kamu mau kirim pesan ke semua kontakmu, bikin status di media sosial, atau menyapa teman dengan ucapan ini. Itu semua adalah bentuk syiar Islam yang positif. Bahkan, beberapa instansi seperti Polsek Sliyeg pun turut memperkuat sinergi jelang Ramadhan sebagai bentuk persiapan dan penyambutan.

Doa Menyambut Ramadhan

Namun, jika kamu lebih memilih untuk menyambutnya dalam diam, dengan khusyuk berdoa dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya tanpa banyak kata, itu pun juga sangat mulia dan sah-sah saja. Yang terpenting adalah semangat dan niat kita untuk beribadah di bulan Ramadhan.

Intinya, jangan sampai kita jadi ribet atau berdebat hanya karena masalah ucapan ini ya, Bestie. Fokus kita harusnya pada bagaimana memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan, memperbanyak kebaikan, dan meraih ridha Allah SWT.

Outro: Yuk, Sambut Ramadhan dengan Hati yang Lapang!

Gimana, Bestie? Udah makin tercerahkan kan soal "Marhaban Ya Ramadhan" ini? Jadi, nggak perlu pusing-pusing lagi mikirin wajib atau nggak. Kalau mau ngucapin, silakan! Kalau mau fokus mempersiapkan diri dengan amalan, juga lebih baik! Yang penting, mari kita sambut Ramadhan dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan semangat ibadah yang membara.

Ramadhan adalah anugerah, kesempatan emas yang belum tentu bisa kita temui lagi tahun depan. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik yang pernah kita jalani. Selamat menunaikan ibadah puasa, Bestie! Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita. Aamiin!


Frequently Asked Questions (FAQ)

Q1: Apakah "Marhaban Ya Ramadhan" wajib diucapkan? A1: Tidak, mengucapkan "Marhaban Ya Ramadhan" tidak termasuk kewajiban syar'i dalam Islam. Namun, ini adalah bentuk ekspresi kegembiraan dan anjuran yang baik.

Q2: Apa makna dari ucapan "Marhaban Ya Ramadhan"? A2: "Marhaban Ya Ramadhan" berarti "Selamat datang, Ramadhan, kami menyambutmu dengan lapang dada." Ini adalah ucapan syukur dan kebahagiaan atas kedatangan bulan suci.

Q3: Adakah dalil khusus yang menganjurkan ucapan ini? A3: Tidak ada dalil khusus yang mewajibkan kalimat ini. Namun, secara umum, memberi tahniah (ucapan selamat) atas datangnya kebaikan, termasuk bulan Ramadhan, adalah hal yang dianjurkan (mustahab) dalam Islam, mengikuti praktik Nabi SAW yang mengabarkan gembira tentang Ramadhan.

Q4: Selain mengucapkan, apa lagi yang bisa dilakukan untuk menyambut Ramadhan? A4: Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti mempersiapkan niat tulus, meningkatkan takwa, membuat perencanaan ibadah (tilawah Al-Qur'an, qiyamul lail, sedekah), saling memaafkan, dan membersihkan diri dari dosa.

Q5: Kalau tidak mengucapkan, apakah pahala Ramadhan berkurang? A5: Tidak, pahala Ramadhan seseorang tidak akan berkurang hanya karena tidak mengucapkan "Marhaban Ya Ramadhan". Yang terpenting adalah niat dan amal ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan itu sendiri. Ucapan adalah bentuk ekspresi, bukan syarat sah ibadah.


AUTHOR: Fadhil Ramadhani

Baca Juga

Loading...