Kontroversi 'Open to Work' Prilly Latuconsina di LinkedIn: Reaksi Publik

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Selebritas Prilly Latuconsina baru-baru ini menjadi sorotan tajam publik Indonesia setelah aksinya mengaktifkan fitur “open to work” di platform profesional LinkedIn. Tindakan ini, yang kemudian terungkap sebagai bagian dari kampanye merek atau teknik pemasaran, memicu gelombang kemarahan luas. Banyak warganet merasa Prilly seolah mempermainkan kondisi orang-orang yang sedang berjuang keras mencari pekerjaan di tengah sulitnya lapangan kerja.
Aksi 'Open to Work' yang Memicu Reaksi
Prilly Latuconsina, yang dikenal luas sebagai aktris dan pengusaha muda, membuat heboh jagat maya dengan unggahan LinkedIn-nya. Unggahan tersebut menunjukkan Prilly seolah mencari posisi di bidang marketing, lengkap dengan fitur “open to work” yang lazim digunakan para pencari kerja. Aksi ini segera menarik perhatian, mengingat statusnya sebagai figur publik sukses.
Namun, respons positif berbalik arah ketika terungkap bahwa unggahan tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran sebuah merek. Publik merasa tertipu dan menganggap Prilly tidak sensitif terhadap realita pengangguran di Indonesia. Banyak komentar pedas bermunculan, menuduh sang artis memanfaatkan kesulitan orang lain demi keuntungan komersial.
Klarifikasi dan Permohonan Maaf Prilly
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Prilly Latuconsina akhirnya angkat bicara dan menyampaikan permohonan maaf. Ia mengakui bahwa aksinya di LinkedIn adalah sebuah kampanye brand atau teknik marketing yang bertujuan menarik perhatian. Prilly menyatakan penyesalannya atas kesalahpahaman dan kemarahan yang timbul akibat unggahan tersebut.
Dalam klarifikasinya, Prilly menjelaskan bahwa ia tidak berniat mempermainkan perasaan pencari kerja. Ia menyadari bahwa penggunaan fitur “open to work” dalam konteks kampanye marketing telah menyinggung banyak pihak yang sedang menghadapi tantangan riil dalam mencari pekerjaan. Permohonan maafnya disampaikan dengan harapan dapat meredakan ketegangan dan mengembalikan citra positifnya di mata publik.
Debat Publik: Etika Pemasaran dan Empati Sosial
Insiden ini sontak memicu debat lebih luas mengenai etika dalam teknik pemasaran dan pentingnya empati sosial, terutama bagi figur publik. Di satu sisi, beberapa pihak memahami bahwa kampanye marketing seringkali memerlukan strategi yang out-of-the-box untuk menarik perhatian. Mereka melihat ini sebagai bentuk inovasi dalam beriklan yang berhasil mendapatkan engagement masif.
Di sisi lain, mayoritas publik menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan konteks sosial dan sensitivitas. Penggunaan isu ketenagakerjaan, terutama di negara dengan tingkat pengangguran yang masih signifikan, dianggap terlalu berisiko dan bisa menimbulkan kerugian reputasi. Kasus Prilly ini menjadi pelajaran berharga bagi para pemasar dan selebritas untuk lebih berhati-hati dalam merancang strategi yang melibatkan isu-isu sensitif masyarakat.
Ditulis oleh: Agus Pratama