Konflik Iran-Israel Memanas: 8 Negara Tutup Ruang Udara dan Dampak Penerbangan Global

Table of Contents
Airspace closed, airlines halt flights as US, Israel attack, Iran responds | Aviation News | Al Jazeera
Konflik Iran-Israel Memanas: 8 Negara Tutup Ruang Udara dan Dampak Penerbangan Global

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Gelombang serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu ledakan kekerasan regional yang memaksa penutupan ruang udara di sebagian besar Timur Tengah sejak Sabtu. Eskalasi militer ini menyebabkan gangguan besar pada jaringan penerbangan sipil dunia karena wilayah tersebut merupakan jalur krusial antara Eropa dan Asia.

Setidaknya delapan negara secara resmi mengumumkan penutupan wilayah udara mereka segera setelah konflik meletus. Negara-negara tersebut meliputi Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Dampak Penutupan Ruang Udara Regional

Suriah juga turut melaporkan penutupan sebagian wilayah udara di bagian selatan sepanjang perbatasannya dengan Israel selama 12 jam. Langkah-langkah darurat ini diambil guna menghindari risiko jatuhnya korban dari maskapai komersial di tengah baku tembak rudal.

Penutupan ini terjadi pasca serangan yang dilakukan AS dan Israel yang diklaim sebagai tindakan preventif untuk menghancurkan industri rudal serta angkatan laut Iran. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk melakukan eliminasi total terhadap aset strategis militer Teheran.

Pihak Iran, yang sebelumnya masih terlibat negosiasi program nuklir dengan AS hingga saat serangan terjadi, segera menjanjikan balasan yang keras. Teheran melancarkan serangan balasan ke Israel serta beberapa negara Teluk Arab yang menjadi pangkalan aset militer Amerika Serikat.

Dampak Penutupan Ruang Udara Regional

"Semua aset dan kepentingan Amerika serta Israel di Timur Tengah kini telah menjadi target yang sah," tegas seorang pejabat senior Iran kepada Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa tidak ada lagi batasan atau 'garis merah' setelah agresi ini, sehingga segala kemungkinan balasan dapat terjadi.

Gangguan Maskapai dan Rute Internasional

Gangguan ini memaksa maskapai penerbangan global untuk membatalkan atau mengalihkan ribuan jadwal penerbangan dari destinasi di seluruh Timur Tengah. Kondisi ini memperparah krisis penerbangan dunia karena jalur udara Rusia dan Ukraina juga masih ditutup akibat perang yang sedang berlangsung.

Kementerian Transportasi Rusia telah menginstruksikan maskapai nasional mereka untuk menangguhkan seluruh penerbangan menuju Iran dan Israel. Sementara itu, Air India secara resmi menyatakan akan menghindari seluruh wilayah udara Timur Tengah untuk sementara waktu demi keamanan penumpang.

Sejumlah maskapai besar lainnya seperti Lufthansa, Air France, KLM, British Airways, dan Qatar Airways juga mengumumkan penghentian operasional ke wilayah konflik. Perusahaan lain yang terdampak termasuk Turkish Airlines, Virgin Atlantic, Japan Airlines, hingga maskapai berbiaya rendah seperti Wizz Air dan Indigo.

Ali Hashem dari Al Jazeera melaporkan dari Doha bahwa serangan gabungan ini telah menciptakan dua konflik paralel yang saling tumpang tindih. Situasi ini memperdalam instabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hashem memperingatkan bahwa krisis ini bisa menjadi sangat rumit dan saling terkait dalam skala yang sangat besar. Hal ini berpotensi mengubah lanskap geopolitik dan mobilitas udara di kawasan Timur Tengah dalam jangka waktu yang lama.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Negara mana saja yang menutup ruang udaranya?

Negara yang menutup ruang udara antara lain Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan sebagian wilayah selatan Suriah.

Mengapa maskapai menghindari wilayah Timur Tengah?

Maskapai menghindari wilayah tersebut karena adanya serangan udara aktif antara AS-Israel dan Iran, serta penutupan ruang udara oleh otoritas penerbangan setempat demi keselamatan.

Apa dampak konflik ini terhadap penerbangan rute Eropa-Asia?

Rute Eropa-Asia menjadi semakin terbatas dan mahal karena selain Timur Tengah, ruang udara Rusia dan Ukraina juga sudah lebih dulu ditutup akibat perang.



Ditulis oleh: Rudi Hartono

Baca Juga

Loading...