Kisah Suryana, Mualaf Penjaga Wihara Tertua Indramayu Simbol Toleransi
/data/photo/2026/02/08/698881349f894.jpeg)
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Vihara Dharma Rahayu atau An Tjeng Bio yang berdiri di tepi Sungai Cimanuk, Kelurahan Lemahmekar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi sorotan menjelang perayaan Imlek. Tempat ibadah yang dibangun sejak tahun 1848 ini bukan sekadar pusat religi, melainkan simbol nyata toleransi antarumat beragama di wilayah tersebut.
Di balik kemegahan arsitektur kunonya, terdapat sosok Suryana (60), seorang pria yang mendedikasikan hidupnya sebagai juru kunci sekaligus penjaga wihara. Uniknya, Suryana adalah seorang mualaf yang tetap memegang teguh komitmen untuk merawat warisan budaya leluhurnya meski memiliki keyakinan yang berbeda.
Pengabdian Sembilan Tahun di Wihara Tertua
Suryana telah mengabdikan dirinya di Vihara Dharma Rahayu selama kurang lebih sembilan tahun terakhir dengan penuh tanggung jawab. Pria keturunan Tionghoa ini memutuskan memeluk agama Islam sejak usia 30 tahun, namun perbedaan keyakinan tidak menyurutkan niatnya menjaga kelestarian wihara.
"Saya ini mualaf (Muslim) dari usia 30 tahun, sekarang sudah usia 60-an," ujar Suryana saat ditemui di lokasi, Minggu (8/2/2026). Baginya, merawat wihara tertua di Indramayu tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada tradisi dan akar budaya keluarga besarnya.
Sebagai warga asli yang tinggal di sekitar wihara, ia merasa terpanggil untuk melestarikan bangunan bersejarah yang menjadi ikon kota. Suryana terlibat aktif dalam berbagai kegiatan perawatan rutin, mulai dari menjaga kebersihan fasilitas hingga memastikan kenyamanan para pengunjung yang datang.
Simbol Toleransi Menjelang Perayaan Imlek
Menjelang Tahun Baru Imlek, kesibukan Suryana meningkat seiring dengan persiapan ritual yang dilakukan oleh para pengurus dan umat. Ia terjun langsung membantu proses pembersihan klenteng dan ikut memandikan patung dewa-dewi menggunakan air kembang sesuai tradisi tahunan.
Suryana menegaskan bahwa nilai-nilai toleransi harus senantiasa dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat demi keharmonisan bersama. Kehadirannya di wihara disambut hangat oleh umat yang datang beribadah, menunjukkan adanya rasa saling menghargai yang mendalam di lingkungan tersebut.
"Karena saya juga orang Tionghoa, ya sebagai bentuk merawat warisan leluhur," tambahnya menjelaskan alasan di balik pengabdiannya. Kerja sama yang harmonis antara Suryana dan pengurus wihara lainnya menjadi bukti bahwa keberagaman keyakinan bukan menjadi penghalang dalam menjaga nilai-nilai kebudayaan.
Melalui sosok Suryana, Vihara Dharma Rahayu terus berdiri tegak tidak hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga sebagai mercusuar toleransi di Indramayu. Dedikasinya membuktikan bahwa menjaga warisan sejarah adalah tanggung jawab kolektif yang melampaui batas-batas identitas keagamaan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa Suryana dan apa perannya di Vihara Dharma Rahayu?
Suryana adalah seorang pria berusia 60 tahun beragama Islam (mualaf) yang bekerja sebagai juru kunci dan penjaga di Vihara Dharma Rahayu, Indramayu.
Kapan Vihara Dharma Rahayu didirikan?
Vihara Dharma Rahayu, yang juga dikenal sebagai An Tjeng Bio, didirikan pada tahun 1848, menjadikannya salah satu wihara tertua di Indramayu.
Mengapa Suryana tetap merawat wihara meskipun dia seorang Muslim?
Suryana merupakan keturunan Tionghoa dan menganggap pengabdiannya sebagai bentuk menjaga warisan leluhur serta wujud nyata toleransi beragama.
Di mana lokasi Vihara Dharma Rahayu?
Vihara ini berlokasi di tepi Sungai Cimanuk, Kelurahan Lemahmekar, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ditulis oleh: Doni Saputra