Ben Johnson: Rahasia Kebangkitan Chicago Bears di Musim Pertama
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - CHICAGO – Pada tanggal 21 Januari 2025, Ben Johnson secara resmi memulai perjalanannya sebagai pelatih kepala Chicago Bears, disambut dengan antusiasme tinggi di Halas Hall. Kehadirannya yang dinanti-nantikan itu menandai babak baru bagi tim yang sebelumnya mengalami musim 2024 yang sulit.
Johnson tiba sebagai kandidat pelatih paling dicari dalam beberapa tahun, dikenal sebagai otak di balik serangan terbaik NFL saat menjadi koordinator ofensif Detroit Lions. Ia berdiri di hadapan Lombardi Trophy Super Bowl XX, mengakui tantangan besar di depannya.
Transformasi Budaya dan Energi Tim
Hanya setahun kemudian, Chicago Bears telah merasakan perubahan fundamental di bawah kepemimpinan Johnson, yang berhasil membangkitkan kembali gairah sepak bola kota tersebut. Teriakan "good, better, best" setelah pertandingan menjadi seruan kemenangan yang ikonik, dengan kaosnya laku keras di pasaran.
Tim ini dijuluki "Cardiac Bears" berkat serangkaian comeback dramatis, menarik perhatian publik secara luas. Pertandingan playoff divisi mereka melawan Los Angeles Rams menjadi acara primetime paling banyak ditonton di Amerika, dengan rata-rata 45,4 juta penonton.
Meskipun Bears akhirnya kalah dalam pertandingan tersebut karena intersepsi krusial dari Caleb Williams di perpanjangan waktu, semangat dan kebanggaan telah kembali. Kapten tim, Kevin Byard III, menyatakan harapan bahwa mereka telah memberikan sesuatu yang bisa dibanggakan kota Chicago.
Filosofi Detail dan Kepemimpinan yang Kuat
Johnson merupakan salah satu dari lima finalis penghargaan NFL Coach of the Year, yang pada akhirnya jatuh kepada pelatih Patriots, Mike Vrabel. Keberhasilannya dibangun di atas filosofi bahwa “tidak ada detail yang terlalu kecil,” sebuah prinsip yang ditegaskan oleh mantan koordinator ofensifnya, Declan Doyle.
Sejak hari pertamanya di Halas Hall, energi intens Johnson, perhatiannya terhadap detail, dan komitmennya pada hubungan dengan quarterback serta kemampuannya menumbuhkan mentalitas pantang menyerah adalah kunci. Semua kualitas ini terbukti dalam comeback postseason terbesar dalam sejarah waralaba melawan Green Bay Packers di babak wild-card.
Johnson juga menekankan pentingnya ruang ganti, menegaskan bahwa melayani para pemain adalah prioritas utama. Bek Andrew Billings menyoroti bahwa Johnson sangat tegas dan "tidak membiarkan hal [sial] berlalu begitu saja."
Membentuk Hubungan Kuat dengan Quarterback
Hubungan antara play caller dan quarterback adalah inti dari filosofi Johnson, yang ia yakini harus dibangun melalui interaksi empat mata. Caleb Williams, sang quarterback, awalnya menggambarkan hubungan mereka sebagai "fra-GEE-lay" atau rapuh, karena Johnson memberikan banyak tekanan dan tantangan sejak awal.
Johnson menetapkan target tinggi bagi Williams, termasuk tingkat penyelesaian operan 70% dan melakukan perubahan pada teknik footwork-nya. Pelatih quarterback Bears, J.T. Barrett, menegaskan bahwa pembinaan awal sangat menentukan arah karier seorang quarterback muda.
Seiring waktu, dengan hasil positif di lapangan, kepercayaan dan loyalitas antara Johnson dan Williams mulai tumbuh dan menguat. Williams menyadari bahwa apa yang dikatakan dan direncanakan Johnson benar-benar berhasil di lapangan hijau.
Dampak Jangka Panjang dan Harapan Masa Depan
Keberhasilan Ben Johnson di tahun pertamanya bersama Chicago Bears tidak hanya tercermin dari pencapaian di lapangan, tetapi juga dari kebangkitan semangat di seluruh organisasi dan basis penggemar. Meskipun musim berakhir dengan kekalahan pahit, fondasi yang kuat untuk masa depan telah diletakkan.
Filosofi kepelatihan yang mendalam, perhatian pada detail, serta kemampuan Johnson dalam membangun tim dan mengembangkan pemain muda seperti Caleb Williams, menjanjikan prospek cerah bagi Bears. Kebangkitan mereka telah menarik perhatian nasional dan menunjukkan potensi besar di bawah kepemimpinan barunya.
Ditulis oleh: Eko Kurniawan