Analisis Gaya Politik dan Komunikasi Donald Trump: Populisme dan Ego Tinggi

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi publik setelah melontarkan pernyataan tajam kepada seorang jurnalis perempuan saat ditanya mengenai isu Epstein. Dalam insiden tersebut, Trump menyebut sang jurnalis sebagai reporter terburuk dan mengkritik sikapnya yang dianggap tidak ramah.
Trump bahkan secara terbuka menyatakan bahwa lembaga media yang mempekerjakan jurnalis tersebut seharusnya merasa malu. Serangan verbal ini menambah daftar panjang perselisihan Trump dengan awak media yang kerap menjadi viral dan menuai kecaman dari berbagai penjuru dunia.
Karakteristik News Maker dan Ego yang Tinggi
Sebagai figur sentral di panggung politik global, Trump merupakan sosok 'news maker' yang selalu diburu oleh para pencari berita. Meski memiliki hubungan yang tegang dengan media, para jurnalis tetap konsisten mengikuti setiap gerak-geriknya dalam konferensi pers maupun acara kenegaraan.
Banyak pengamat menilai perilaku konfrontatif Trump berakar dari kadar ego yang sangat tinggi. Karakter ini membuatnya cenderung mengabaikan norma-norma kehidupan, profesi jurnalisme, bahkan aturan hukum internasional yang dianggap menghalangi prinsip personalnya.
Strategi Politik Populisme dan Delegitimasi Media
Gaya komunikasi Trump mencerminkan karakteristik politisi yang berhaluan populisme ekstrem. Sebagai aktor populis, ia tidak hanya menyerang kelompok minoritas atau imigran, tetapi juga menjadikan media massa sebagai sasaran utama serangan politiknya.
Aktor populis di berbagai negara cenderung melabeli media besar sebagai musuh atau 'antek asing'. Strategi ini bertujuan untuk memberikan stigma buruk agar masyarakat meragukan kontrol sosial yang dilakukan media, sehingga ambisi politik sang aktor dapat berjalan tanpa hambatan.
Media Sosial Sebagai Saluran Tanpa Sensor
Karena ketidakpercayaannya pada media konvensional, Trump beralih menggunakan media sosial sebagai sarana menyuarakan ambisinya secara leluasa. Platform digital memberikan ruang baginya untuk berkomunikasi secara langsung tanpa melalui proses kurasi etika atau sensor jurnalistik.
Namun, gaya komunikasi yang provokatif ini akhirnya berujung pada pemblokiran akun miliknya oleh platform media sosial raksasa. Hal ini terjadi karena unggahannya dianggap mengandung hasutan berlebihan yang berpotensi memicu kekacauan di tengah masyarakat.
Teori Penetrasi Sosial dan Hambatan Komunikasi
Dalam perspektif teori komunikasi, perilaku Trump dapat dianalisis menggunakan teori penetrasi sosial yang mengibaratkan kepribadian seperti lapisan bawang. Hubungan yang cair idealnya mampu menembus lapisan luar hingga ke tahap intim, namun Trump dikenal memiliki lapisan 'bawang' yang sangat tebal.
Kekakuan ini membuat pihak lain sulit menjalin komunikasi yang substantif dengannya. Bahkan, jurnalis yang sudah dikenalnya selama 10 tahun sekalipun dilaporkan tetap kesulitan menembus hambatan komunikasi dan ego besar yang menyelimuti kepribadian sang mantan presiden.
Kombinasi antara ego tinggi, gaya politik populis, dan pola komunikasi yang buruk telah memicu berbagai skandal hukum bagi Trump. Tidak hanya di dalam negeri, pemimpin-pemimpin negara sekutu di Eropa pun kerap merasa kewalahan menghadapi gaya diplomasinya yang tidak konvensional.
Normalisasi hubungan antara kepresidenan Amerika Serikat dengan media massa serta pemimpin dunia diprediksi baru akan membaik jika status kepresidenan tidak lagi melekat pada Trump. Alternatif lainnya adalah adanya transformasi mendasar dalam gaya politik dan komunikasi yang ia terapkan selama ini.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa Donald Trump sering menyerang jurnalis?
Donald Trump menggunakan strategi politik populisme yang cenderung mendelegitimasi media massa sebagai kontrol sosial agar agenda politiknya tidak terganggu oleh kritik jurnalistik.
Apa itu teori penetrasi sosial dalam konteks Donald Trump?
Teori ini mengibaratkan kepribadian sebagai lapisan bawang; Trump dianggap memiliki lapisan yang sangat tebal sehingga sulit bagi orang lain, termasuk jurnalis senior, untuk menjalin komunikasi yang cair dan intim.
Mengapa Trump lebih memilih media sosial daripada media konvensional?
Media sosial memungkinkan Trump menyampaikan pesan secara langsung kepada pendukungnya tanpa sensor, kurasi etika, atau kontrol dari institusi media massa.
Ditulis oleh: Siti Aminah