West Ham: Mengapa Gol Dibatalkan Offside Meski Bola dari Lawan? Memahami 'Deliberate Play'
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Kebingungan sering melanda penggemar sepak bola ketika sebuah gol dianulir karena offside, terutama dalam situasi di mana bola tampak berasal dari pemain lawan dan bukan umpan rekan setim. Fenomena ini sangat jelas terlihat pada pertandingan West Ham United di kandang melawan Nottingham Forest, Selasa malam, yang berakhir dengan kekalahan 2-1 bagi The Hammers dan menyisakan banyak tanda tanya.
Insiden kontroversial tersebut melibatkan gol yang awalnya dianggap sah oleh West Ham, namun kemudian dibatalkan oleh VAR karena offside, memicu perdebatan luas. Momen ini menyoroti kompleksitas interpretasi aturan offside yang melibatkan konsep kunci 'deliberate play' atau permainan yang disengaja oleh pemain bertahan, sebuah nuansa yang sering kali disalahpahami.
Detil Insiden West Ham vs Nottingham Forest
Kronologi kejadian di London Stadium bermula ketika winger West Ham, Crysencio Summerville, menyentuh bola ke depan lapangan, memulai sebuah serangan yang menjanjikan. Bola tersebut kemudian membentur bek Forest, Nikola Milenkovic, yang melakukan tekel blokir dalam upaya untuk menghentikan pergerakan.
Pantulan bola dari Milenkovic secara tak terduga mengarah ke Taty Castellanos dari West Ham, yang saat itu berada dalam posisi offside dari sentuhan awal Summerville. Sekitar sepuluh detik setelah insiden tersebut, West Ham mengira Summerville telah mencetak gol yang sah, memicu selebrasi singkat sebelum intervensi VAR membatalkannya.
Prinsip Dasar Offside dan Sentuhan Tim-Mates
Penting untuk diingat bahwa fase offside secara fundamental dikunci oleh sentuhan terakhir dari rekan satu tim, bahkan jika itu bukan sebuah umpan langsung yang ditujukan kepada pemain. Dalam kasus West Ham ini, ketika Summerville memainkan bola ke depan, Castellanos sudah berada dalam posisi offside secara aktif.
Aturan ini menegaskan bahwa seorang pemain tidak boleh mendapatkan keuntungan dari posisi offside hanya karena bola pantulan yang tidak disengaja dari rekan setimnya. Oleh karena itu, jika tidak ada faktor lain yang mereset offside, posisi Castellanos tetap dianggap offside sejak awal fase tersebut, terlepas dari siapa yang menyentuh bola berikutnya.
Membedah Konsep Krusial: 'Deliberate Play'
Di sinilah letak inti perdebatan dan interpretasi aturan yang paling sering menimbulkan kebingungan, yaitu mengenai apa yang disebut sebagai 'deliberate play' atau permainan yang disengaja oleh seorang pemain bertahan. Konsep ini adalah pengecualian yang dapat mengatur ulang fase offside, sehingga memungkinkan gol tersebut untuk dianggap sah meskipun penyerang awalnya offside.
Menurut panduan resmi dari International Football Association Board (IFAB), para pembuat aturan tidak menganggap 'deliberate play' hanya sebatas niat untuk menyentuh bola. Sebaliknya, harus ada ekspektasi realistis akan hasil yang terkontrol dari sentuhan pemain bertahan tersebut, menunjukkan adanya keputusan yang sadar dan terarah dalam tindakan mereka.
Milenkovic yang melakukan blok atau tekel dalam upaya untuk menghalau bola tidak memenuhi kriteria 'deliberate play' dalam definisi ini. Hal ini disebabkan Milenkovic tidak dapat mengetahui secara pasti ke mana arah bola akan berakhir setelah benturan tersebut, sehingga tindakannya dianggap sebagai tindakan yang tidak terkontrol dan reaktif semata.
Perbedaan Antara Blok Tak Sengaja dan Permainan Sengaja
Blokir bola atau tekel yang hanya mengubah arah bola tanpa kontrol yang jelas, seperti yang dilakukan Milenkovic, tidak dianggap sebagai 'deliberate play'. Tujuannya adalah untuk menggagalkan serangan lawan, bukan untuk menguasai atau mengoper bola dengan intensi tertentu.
Baca Juga: Nottingham Forest Pecat Nuno: Akhir Era di City Ground?
Sebaliknya, 'deliberate play' yang mengarah ke lawan biasanya terjadi dalam bentuk umpan yang salah sasaran atau sapuan bola (clearance) yang meleset dan tidak sesuai target yang diharapkan. Dalam situasi ini, pemain bertahan memiliki kontrol dan niat untuk memainkan bola, meskipun hasilnya tidak menguntungkan timnya.
Filosofi di Balik Aturan 'Deliberate Play'
Logika fundamental di balik aturan ini adalah bahwa seorang penyerang tidak boleh mendapatkan keuntungan dari posisi offside jika pemain bertahan hanya melakukan tugasnya dengan baik dan tanpa membuat kesalahan mendasar. Aturan ini dirancang untuk mencegah penyerang memanfaatkan pantulan atau keberuntungan dari tindakan defensif yang sah dan tak terhindarkan.
Ini menegaskan bahwa offside tetap berlaku jika pemain bertahan secara pasif mencoba menghentikan bola, bahkan jika bola memantul ke penyerang yang berada dalam posisi terlarang. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi integritas permainan dan memastikan keadilan bagi tim bertahan yang menjalankan tugasnya.
Studi Kasus Lain: Final Liga Champions 2022
Salah satu insiden pembatalan gol paling terkenal yang mengilustrasikan penerapan aturan 'deliberate play' serupa terjadi pada final Liga Champions 2022 antara Real Madrid dan Liverpool. Kala itu, gol Karim Benzema dianulir karena offside dalam situasi yang sangat mirip, menunjukkan konsistensi interpretasi aturan.
Dalam pertandingan tersebut, penyerang Madrid, Federico Valverde, menyentuh bola dan baik Ibrahima Konate maupun Fabinho dari Liverpool melakukan tekel blokir. Bola kemudian memantul ke arah Karim Benzema yang mencetak gol, namun ia berada dalam posisi offside sejak sentuhan Valverde, dan pantulan dari tekel blokir tidak mereset offside-nya.
Peran VAR dan Kontroversi yang Tak Terhindarkan
Keputusan offside semacam ini memang selalu kontroversial dan seringkali menyakitkan bagi tim yang mengalaminya, memicu frustrasi di kalangan penggemar dan pemain di seluruh dunia. Meskipun demikian, inilah cara para pembuat aturan sepak bola bermaksud agar aturan tersebut diterapkan secara konsisten di seluruh kompetisi tanpa pandang bulu.
Kehadiran Video Assistant Referee (VAR) memainkan peran krusial dalam meninjau insiden semacam ini dengan akurasi yang lebih tinggi, memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada interpretasi aturan yang tepat. VAR membantu mengurangi kesalahan manusia dalam situasi yang sangat cepat dan rumit, meskipun tidak selalu menghilangkan perdebatan atau kekecewaan.
Implikasi Strategis bagi Tim
Pemahaman mendalam tentang aturan 'deliberate play' ini juga memiliki implikasi strategis bagi tim, baik dalam menyerang maupun bertahan. Hal ini mendorong pemain untuk lebih cermat dalam menentukan posisi dan tindakan mereka di lapangan, agar tidak terjebak dalam perangkap offside atau secara tidak sengaja menguntungkan lawan.
Memahami perbedaan halus antara 'deliberate play' yang disengaja dan pantulan tak disengaja adalah kunci untuk mengapresiasi keputusan sulit seperti yang terjadi pada gol West Ham. Insiden ini menunjukkan betapa detail dan rumitnya aturan offside modern dalam sepak bola, yang terus berkembang demi menjaga semangat sportivitas dan keadilan dalam setiap pertandingan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu 'deliberate play' dalam aturan offside sepak bola?
'Deliberate play' adalah tindakan pemain bertahan yang secara sadar memainkan bola dengan harapan hasil yang terkontrol, seperti umpan atau sapuan, meskipun mungkin salah sasaran. Ini bukan hanya sentuhan tak disengaja atau reaktif, dan jika terjadi, dapat mereset posisi offside pemain lawan.
Mengapa tekel blokir atau pantulan tak sengaja dari bek tidak dianggap sebagai 'deliberate play'?
Tekel blokir atau pantulan tak sengaja tidak dianggap 'deliberate play' karena pemain bertahan tidak memiliki ekspektasi realistis akan hasil yang terkontrol dari tindakannya. Mereka hanya bereaksi untuk menghalau bola, dan arah pantulan seringkali tidak dapat diprediksi, sehingga tidak memenuhi definisi permainan sengaja.
Kapan 'deliberate play' oleh bek bisa mereset posisi offside pemain lawan?
'Deliberate play' oleh bek akan mereset posisi offside pemain lawan jika bek tersebut dengan sengaja memainkan bola (misalnya, umpan balik yang salah atau sapuan yang meleset) dan bola tersebut mengarah ke penyerang yang sebelumnya offside. Dalam situasi ini, penyerang tidak lagi dianggap offside karena mendapatkan bola dari tindakan sengaja pemain bertahan.
Apa peran VAR dalam keputusan offside yang melibatkan 'deliberate play'?
VAR (Video Assistant Referee) berperan penting dalam meninjau insiden offside yang kompleks ini dengan cermat. VAR menganalisis rekaman video dari berbagai sudut untuk menentukan apakah tindakan pemain bertahan dapat diklasifikasikan sebagai 'deliberate play' sesuai panduan IFAB, memastikan keputusan yang akurat dan konsisten.
Apakah ada contoh terkenal lain dari gol yang dianulir karena aturan 'deliberate play' ini?
Ya, salah satu contoh paling terkenal adalah gol Karim Benzema untuk Real Madrid melawan Liverpool di final Liga Champions 2022. Gol tersebut dianulir karena Benzema berada dalam posisi offside, dan pantulan bola dari tekel blokir pemain Liverpool tidak dianggap sebagai 'deliberate play' yang mereset offside.