Thomas Frank: Manajer Terburuk Tottenham dalam 2 Dekade? Statistik Mengejutkan Terungkap
Table of Contents
Tottenham Hotspur sekali lagi harus menelan pil pahit setelah tersingkir dari FA Cup pada hari Sabtu. Kekalahan meyakinkan 2-1 dari Aston Villa semakin menambah penderitaan dalam masa jabatan Thomas Frank yang penuh tekanan di klub London Utara ini. Eliminasi dari turnamen piala tersebut kini menggarisbawahi performa buruk Spurs, yang hanya berhasil meraih satu kemenangan dari tujuh pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi. Situasi ini menempatkan Frank di bawah tekanan yang sangat besar di Tottenham, dengan berbagai laporan yang menunjukkan bahwa mantan pelatih kepala Brentford itu bisa saja diberhentikan dari tugasnya dalam beberapa minggu mendatang. Thomas Frank ditunjuk sebagai manajer Spurs kurang dari 200 hari yang lalu, menggantikan Ange Postecoglou yang sebelumnya memimpin klub. Namun, statistik terbaru kini secara gamblang menunjukkan seberapa jauh klub telah merosot di bawah taktik pelatih asal Denmark ini, dan mengapa mereka mungkin akan mencari manajer ketiga dalam waktu kurang dari setahun.
Statistik yang Memberatkan Thomas Frank
Menyusul kekalahan dari Aston Villa pada hari Sabtu, Thomas Frank mencatat 12 kemenangan, delapan hasil imbang, dan 12 kekalahan dari total 31 pertandingannya sebagai juru taktik Tottenham. Rekor ini menghasilkan rata-rata poin per pertandingan (PPG) yang sangat buruk, yaitu hanya 1.32. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan penurunan 13% dari rata-rata 1.52 poin per pertandingan yang dicapai oleh pendahulunya, Ange Postecoglou. Lebih jauh lagi, statistik Frank ini juga secara signifikan lebih buruk dibandingkan dengan para manajer yang datang sebelum mereka berdua, menandakan kemunduran yang mencolok.Mengukur Kegagalan: Perbandingan dengan Pendahulu Ikonik
Bahkan, rata-rata PPG Thomas Frank merepresentasikan hasil terburuk bagi manajer permanen Spurs dalam lebih dari dua dekade terakhir. Ini secara resmi mematahkan rekor 1.35 PPG yang dipegang oleh Juande Ramos selama masa jabatannya yang kurang beruntung antara tahun 2007 dan 2008, menempatkan Frank dalam kategori yang mengkhawatirkan. Jarak perbandingan semakin melebar ketika melihat kembali ke 'Era Emas' di bawah kepemimpinan Mauricio Pochettino, yang berhasil mencatat rata-rata 1.84 PPG. Bahkan jika dibandingkan dengan pendekatan yang lebih pragmatis dari José Mourinho (1.77 PPG) dan Antonio Conte (1.78 PPG), performa Frank tetap jauh tertinggal, menunjukkan kurangnya dampak positif yang signifikan. Ketidakmampuan Frank untuk menemukan konsistensi dalam performa timnya juga membuatnya tertinggal di belakang Nuno EspÃrito Santo, yang rata-rata mencetak 1.65 PPG sebelum pemecatannya pada tahun 2021. Dengan demikian, rekor Frank saat ini tidak hanya buruk secara mandiri, tetapi juga sangat mengkhawatirkan dalam konteks sejarah manajerial klub.Tekanan yang Tak Tertahankan di London Utara
Sejak kedatangannya, Frank diharapkan dapat membawa stabilitas dan peningkatan, namun hasilnya justru sebaliknya. Para penggemar dan pengamat mulai mempertanyakan apakah filosofi dan metode kepelatihannya cocok untuk ambisi besar Tottenham. Kinerja di bawah tekanan menjadi faktor krusial bagi setiap manajer di klub sebesar Tottenham. Statistik yang ada secara jelas menunjukkan bahwa Thomas Frank, dalam setengah musim pertamanya di klub, tampaknya tidak memiliki perlengkapan yang memadai untuk menangani tekanan pekerjaan tersebut atau untuk memotivasi skuadnya agar tampil lebih baik secara konsisten. Klub yang berambisi untuk bersaing di papan atas Liga Primer dan di kompetisi Eropa membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menanamkan mentalitas pemenang. Sayangnya, di bawah Thomas Frank, Tottenham justru menunjukkan tanda-tanda keraguan dan kurangnya arah yang jelas di lapangan.Apa Selanjutnya bagi Tottenham?
Apakah Tottenham pada akhirnya akan bertindak setelah kekalahan hari Sabtu masih harus dilihat. Namun, setiap indikasi dari paruh pertama musim Frank di klub menunjukkan bahwa pelatih asal Denmark itu mungkin tidak cocok untuk tuntutan tinggi di Spurs. Sebagai hasilnya, ia saat ini menyandang predikat sebagai manajer Tottenham terburuk dalam 20 tahun terakhir, sebuah statistik yang sangat sulit untuk dipulihkan. Tekanan untuk membuat keputusan penting kini ada di pundak manajemen klub, yang harus menimbang antara kesabaran dan kebutuhan mendesak akan perubahan demi masa depan klub. Klub mungkin akan berada di pasar untuk mencari manajer ketiga dalam waktu kurang dari setahun, sebuah siklus yang mengkhawatirkan bagi stabilitas jangka panjang. Keputusan yang akan diambil dalam beberapa minggu ke depan akan sangat menentukan arah Tottenham di sisa musim ini dan seterusnya, dengan harapan untuk mengakhiri periode yang penuh gejolak ini.Baca Juga
Loading...