Serangan AS ke Venezuela Menjepit FIFA di Tengah Isu Piala Dunia
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Berita mengejutkan datang dari kancah internasional saat militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Venezuela pada hari Sabtu, namun Dewan FIFA tidak menunjukkan aktivitas apa pun.
Keheningan ini terjadi meskipun AS adalah tuan rumah utama acara global mereka, sementara presidennya, Donald Trump, bahkan mengkhawatirkan salah satu negara tuan rumah bersama, Meksiko, dengan menyebut Claudia Sheinbaum “sangat takut pada kartel” dan menyatakan “sesuatu harus dilakukan dengan Meksiko”.
Ironi Penghargaan Perdamaian FIFA
Tindakan tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang pandangan Presiden FIFA Gianni Infantino, mengingat federasi itu kini begitu terikat dengan kepemimpinannya.
Tidak ada yang berani membahas isu ini dengan Infantino, meskipun FIFA baru saja menganugerahkan “penghargaan perdamaian perdana” kepada Trump sebulan sebelumnya, sebuah ironi yang begitu kentara.
Pencabutan nilai penghargaan itu – meskipun video presentasinya sudah bagus – tidak hanya dapat diprediksi, melainkan tak terhindarkan. FIFA telah diperingatkan; tiga hari sebelum penghargaan, Trump mengatakan serangan militer ke Venezuela akan “segera dimulai”.
Ini menjadikan Venezuela negara ketujuh yang menjadi sasaran serangan administrasi Trump dalam tahun pertamanya menjabat. Argumen FIFA saat itu, menanggapi kritik video bernuansa Maga yang sangat politis, adalah bahwa mereka merasa menjadi satu-satunya badan yang dikritik karena “mencoba mempromosikan perdamaian”.
Namun, serangan terhadap Venezuela kini menjadi respons nyata, seolah menegaskan bahwa dalam konteks ini, perang adalah kedamaian. Di balik sindiran tentang penghargaan perdamaian Infantino, ada poin yang jauh lebih serius tentang kehidupan dan kematian, yang menyentuh esensi FIFA dan Piala Dunia.
Pertanyaan Moralitas Tuan Rumah
Ini adalah pertanyaan filosofis dan moral tentang apakah turnamen sebesar itu seharusnya diselenggarakan oleh negara yang baru-baru ini melancarkan agresi militer. Infantino mungkin merasa lega karena tidak perlu terlalu memusingkan hal ini, mengingat respons yang cenderung lunak dari pemerintah Barat dan Partai Demokrat, serta konteks pemerintahan Nicolas Maduro yang memperkeruh perdebatan.
Namun, sungguh mencengangkan bahwa badan transnasional yang harusnya sangat peka terhadap geopolitik seperti FIFA, tidak memiliki pedoman jelas mengenai isu ini. Situasi ini menjadi lebih relevan ketika Infantino sendiri dengan sengaja semakin menjerumuskan FIFA ke dalam pusaran geopolitik.
Lebih buruk lagi, jika FIFA memiliki pedoman, kedekatan Presiden FIFA dengan Trump akan membuat situasi semacam itu semakin problematis. Dalam diskusi seperti ini, sebagaimana terjadi pada Rusia 2018 dan Qatar 2022, seringkali muncul relativisme moral tentang tanggung jawab historis negara.
Infantino bahkan pernah melakukannya sendiri, mendesak Eropa untuk meminta maaf atas “3.000 tahun sejarah” dalam pidato kontroversialnya menjelang Piala Dunia 2022, namun standar yang sama tampaknya tidak berlaku sekarang. Sifat geopolitik berarti negara akan selalu terlibat konflik; tuan rumah Piala Dunia sebelumnya terlibat dalam 18 konflik — tergantung definisi — pada saat turnamen mereka.
Baca Juga: Nonton Live Streaming VNL Women's 2025: Italia vs AS di Vidio
Misalnya, Inggris 1966 terlibat dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Pemberontakan Dhofar, dan Darurat Aden, sementara Italia di bawah Benito Mussolini tidak menginvasi Abyssinia sampai setahun setelah Piala Dunia 1934. Amerika Serikat saat ini terlibat dalam delapan konflik, melampaui rekor sebelumnya yaitu lima konflik pada Piala Dunia USA 1994.
Perbedaan Agresi Aktif dan Keterlibatan
Meskipun akademisi mungkin berargumen bahwa beberapa konflik ini adalah konsekuensi invasi sebelumnya, ada perbedaan antara keterlibatan saat ini dan agresi aktif. Definisi PBB tentang tindakan agresi, sebagaimana diartikulasikan dalam Resolusi Majelis Umum 3314 tahun 1974, adalah “penggunaan kekuatan bersenjata oleh suatu Negara terhadap kedaulatan, integritas teritorial atau kemerdekaan politik Negara lain”.
Kelompok advokasi hak asasi manusia sepak bola FairSquare menggambarkannya sebagai tindakan yang “tidak diprovokasi, tidak diundang, dan tidak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB”. Berdasarkan definisi tersebut, daftar calon tuan rumah Piala Dunia yang terlibat dalam agresi aktif jauh lebih pendek, menjadikan kasus AS-Venezuela sebagai kasus ketiga yang khas.
Kasus-kasus lain termasuk invasi AS ke Panama pada 1989, yang banyak memiliki kemiripan dengan Venezuela dan terjadi setelah penganugerahan Piala Dunia 1994, serta invasi awal Rusia ke Ukraina pada 2014, tiga tahun setelah turnamen 2018 dianugerahkan. Invasi terakhir memang memicu seruan politisi Eropa untuk mencabut status tuan rumah Rusia, namun tidak membuahkan hasil.
Realpolitik modern mendikte bahwa tindakan serupa tidak akan terjadi sekarang, dan hubungan FIFA-AS sudah terlihat jauh lebih bias dibandingkan dengan sebagian besar tuan rumah sebelumnya, mungkin hanya kalah dari Qatar. Kelompok seperti FairSquare tetap percaya harus ada pelajaran dan tekanan untuk FIFA, menyatakan bahwa “agresi adalah kejahatan internasional tertinggi”.
Kritik Terhadap Tata Kelola FIFA
FairSquare, dalam pernyataannya kepada The Independent, mengatakan, “Jelas bahwa Trump berpikir ia dapat mengandalkan dukungan Infantino apapun yang ia lakukan, dan Infantino mungkin tidak khawatir selama FIFA mendapatkan miliaran keuntungannya. Ini adalah tragedi bagi permainan bahwa Piala Dunia kini berada di tengah quid pro quo yang kotor ini.”
Banyak pihak melihat peristiwa luar biasa ini sebagai cerminan dari masalah FIFA yang lebih umum, seperti implementasi VAR dan harga tiket, serta respons terlambat terhadap invasi Rusia ke Ukraina 2022. Sumber-sumber mengkritik FIFA di bawah Infantino karena mengambil banyak keputusan tanpa konsultasi yang tepat atau persiapan untuk risiko yang dapat diperkirakan.
Sebagai contoh, VAR tidak diuji coba dengan benar sebelum diterapkan, dan harga tiket Piala Dunia yang kontroversial disebut untuk mengembangkan permainan, meskipun FIFA tidak menanggapi surat FairSquare yang meminta bukti pengawasan dana. Demikian pula respons terhadap invasi Ukraina yang terlambat; FIFA awalnya mempertimbangkan ide tim Rusia bermain tanpa simbolisme, tetapi kemarahan politik Barat akhirnya mendorong penangguhan.
Dengan Polandia dan Swedia menolak bermain, argumen *force majeure* akhirnya digunakan untuk membenarkan penangguhan. Poin yang lebih luas, dan relevan dengan Venezuela, adalah bahwa FIFA tampak sama sekali tidak siap menghadapi situasi seperti ini, bahkan jika mereka memiliki keinginan untuk melakukannya, karena tidak ada batasan yang jelas.
Sebuah organisasi yang serius tentang tata kelola permainan di dunia yang semakin rumit harusnya mulai bergulat dengan semua ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya; Infantino telah membuat pernyataannya, Trump telah dipuji, sebuah penghargaan telah diberikan, dan pertunjukan terus berjalan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa serangan AS ke Venezuela menjadi masalah bagi FIFA?
Serangan ini menjadi masalah karena Amerika Serikat adalah tuan rumah utama Piala Dunia. Hal ini menimbulkan pertanyaan moral dan etika apakah negara yang terlibat dalam agresi militer aktif seharusnya menyelenggarakan acara global yang mempromosikan persatuan, terutama karena FIFA baru saja memberikan 'penghargaan perdamaian' kepada Presiden Trump.
Apa hubungan antara Gianni Infantino dan Donald Trump dalam konteks ini?
Presiden FIFA Gianni Infantino baru sebulan sebelumnya menganugerahkan 'penghargaan perdamaian perdana' kepada Donald Trump. Serangan AS ke Venezuela tak lama setelah itu secara langsung meruntuhkan makna penghargaan tersebut, menyoroti kedekatan Infantino dengan Trump dan implicasi geopolitik yang semakin dalam bagi FIFA.
Apakah ada preseden tuan rumah Piala Dunia yang terlibat dalam konflik?
Ya, ada preseden. Tuan rumah Piala Dunia sebelumnya telah terlibat dalam berbagai konflik, seperti Inggris pada 1966 (Konfrontasi Indonesia-Malaysia) dan AS pada 1994. Namun, ada perbedaan krusial antara 'keterlibatan saat ini' dan 'agresi aktif' yang tidak diprovokasi dan tidak disetujui PBB, di mana kasus AS-Venezuela menjadi kasus ketiga yang paling jelas dalam kategori terakhir, bersama invasi AS ke Panama 1989 dan invasi Rusia ke Ukraina 2014.
Bagaimana definisi 'tindakan agresi' menurut PBB dan FairSquare?
Menurut Resolusi Majelis Umum PBB 3314 tahun 1974, tindakan agresi adalah 'penggunaan kekuatan bersenjata oleh suatu Negara terhadap kedaulatan, integritas teritorial, atau kemerdekaan politik Negara lain'. Kelompok advokasi hak asasi manusia sepak bola FairSquare menambahkan bahwa tindakan tersebut harus 'tidak diprovokasi, tidak diundang, dan tidak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB'.
Bagaimana respons FIFA terhadap invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 dibandingkan dengan kasus Venezuela?
FIFA awalnya ragu-ragu dalam menanggapi invasi Rusia 2022, bahkan mempertimbangkan ide-ide seperti tim Rusia bermain tanpa simbolisme. Penangguhan akhirnya terjadi setelah adanya kemarahan politik yang kuat dari negara-negara Barat dan penolakan tim seperti Polandia dan Swedia untuk bermain, menggunakan argumen *force majeure*. Kasus Venezuela menunjukkan bahwa FIFA masih tampak tidak siap menghadapi situasi serupa tanpa tekanan eksternal yang signifikan.