Mitos vs Fakta: Apakah Muhammadiyah Sunni atau Syiah? Ini Kebenarannya

Table of Contents

Apakah Muhammadiyah Sunni atau Syiah?


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pertanyaan mengenai apakah Muhammadiyah merupakan pengikut Sunni atau Syiah sering kali muncul di tengah masyarakat Indonesia yang beragam. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di tanah air, Muhammadiyah secara tegas menyatakan identitasnya sebagai gerakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau Sunni.

Organisasi ini didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1912 dengan visi memurnikan ajaran Islam di Indonesia. Gerakan ini berfokus pada pengembalian segala praktik ibadah kepada sumber aslinya, yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah (hadis sahih).

Identitas Teologis Muhammadiyah dalam Lanskap Islam

Berdasarkan Anggaran Dasar dan Khittah perjuangannya, Muhammadiyah menganut paham teologi yang bersumber pada ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Identitas Sunni ini terlihat jelas dari cara organisasi ini menghormati seluruh Khulafaur Rasyidin tanpa membeda-bedakan posisi politik mereka di masa lalu.

Berbeda dengan paham Syiah yang memiliki konsep kemaksuman imam, Muhammadiyah menekankan bahwa tidak ada manusia yang maksum setelah wafatnya Rasulullah. Hal ini menjadi pembeda fundamental yang menempatkan Muhammadiyah dalam barisan besar umat Islam Sunni dunia.

Identitas Teologis Muhammadiyah dalam Lanskap Islam

Secara internasional, Muhammadiyah juga diakui oleh lembaga-lembaga Islam dunia seperti Al-Azhar di Mesir sebagai bagian dari pilar Sunni. Kerja sama lintas negara yang dilakukan Muhammadiyah selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip moderasi Islam (Wasathiyah) yang menjadi ciri khas Ahlus Sunnah.

Kontribusi Muhammadiyah dalam Sektor Pendidikan dan Sosial

Selain urusan teologis, Muhammadiyah dikenal luas karena kontribusinya dalam membangun ribuan institusi pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Melalui institusi-institusi ini, Muhammadiyah berusaha mencetak generasi yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki integritas moral yang kuat.

Dalam lingkungan pendidikan tinggi Muhammadiyah, diskusi mengenai standar akademik dan dunia kerja juga sering menjadi sorotan utama mahasiswa. Topik-topik mengenai kualitas transkrip nilai sering kali memicu perdebatan mengenai relevansinya terhadap daya serap industri kerja saat ini.

Muncul sebuah diskusi menarik pada September 2019 di mana seorang mahasiswa bertanya apakah memiliki satu matakuliah dengan nilai D akan mempersulit pencarian kerja. Pertanyaan tersebut menjadi relevan mengingat banyak lulusan yang khawatir meskipun mereka memiliki IPK total lebih dari 3.

Menanggapi hal tersebut, para ahli karier menekankan bahwa mayoritas perusahaan lebih melihat IPK kumulatif dan kemampuan praktis daripada satu nilai mata kuliah saja. Selama indeks prestasi tetap kompetitif, satu nilai rendah biasanya tidak menjadi hambatan besar dalam proses seleksi administrasi.

Dengan demikian, Muhammadiyah terus berupaya menjawab tantangan zaman baik dari sisi identitas keagamaan maupun kesiapan sumber daya manusia. Melalui pemahaman Sunni yang progresif, organisasi ini tetap menjadi pilar stabilitas dan kemajuan bagi bangsa Indonesia.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah Muhammadiyah termasuk golongan Sunni?

Ya, Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) yang menekankan pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Apa perbedaan utama Muhammadiyah dengan Syiah?

Muhammadiyah tidak mengakui konsep kemaksuman imam dan otoritas mutlak garis keturunan tertentu dalam kepemimpinan agama, yang merupakan ciri khas ajaran Syiah.

Apakah nilai D di transkrip menyulitkan cari kerja?

Umumnya tidak, asalkan IPK kumulatif tetap di atas standar (misalnya 3,00) dan pelamar memiliki keahlian yang relevan dengan posisi yang dilamar.

Siapa pendiri Muhammadiyah?

Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta.



Ditulis oleh: Budi Santoso

Baca Juga

Loading...