Mengenal Metode Rukyatul Hilal: Cara NU Menentukan Awal Bulan Hijriah
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), secara konsisten menggunakan metode rukyatul hilal untuk menetapkan awal bulan pada kalender Hijriah. Metode ini menjadi acuan utama warga Nahdliyin dalam menentukan waktu ibadah penting seperti awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Secara harfiah, rukyatul hilal merupakan aktivitas mengamati visibilitas hilal atau bulan sabit muda saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan. Jika hilal berhasil terlihat, maka malam tersebut dinyatakan sebagai awal bulan baru dalam penanggalan Islam.
Sinergi Antara Rukyat dan Perhitungan Hisab
Meskipun mengutamakan observasi fisik, NU tidak serta-merta meninggalkan metode hisab atau perhitungan astronomis secara matematis. Lembaga Falakiyah PBNU menggunakan hisab sebagai alat bantu untuk memprediksi posisi hilal dan menentukan kapan pengamatan lapangan harus dilakukan.
Ketua Lembaga Falakiyah PBNU sering menekankan bahwa hisab berfungsi sebagai pemandu, sementara rukyat berperan sebagai penentu secara syar'i. Sinergi kedua metode ini memastikan tingkat akurasi yang tinggi dalam setiap keputusan yang diambil oleh organisasi.
Dalam pelaksanaannya, tim ahli dari NU tersebar di puluhan titik pengamatan strategis dari Aceh hingga Papua. Para perukyat ini dilengkapi dengan peralatan modern seperti teleskop yang terintegrasi dengan sistem komputer untuk memperkuat bukti visual.
Hasil dari pengamatan lapangan tersebut kemudian dilaporkan secara resmi dalam Sidang Isbat yang dipimpin oleh Kementerian Agama RI. Laporan ini menjadi bagian dari musyawarah bersama organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam lainnya di tingkat nasional.
Penerapan Kriteria Baru MABIMS
Sejak beberapa tahun terakhir, NU juga telah mengadopsi kriteria baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria ini menetapkan standar visibilitas hilal yang lebih ketat dibandingkan aturan lama untuk menyelaraskan kalender di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan standar MABIMS, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Parameter ini didasarkan pada data ilmiah yang menunjukkan batas minimal hilal dapat terlihat secara optik maupun mata telanjang.
Jika pada saat pemantauan hilal tidak terlihat karena faktor cuaca atau posisi bulan masih di bawah kriteria, NU melakukan istikmal. Hal ini berarti bulan yang sedang berjalan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal bulan baru jatuh pada lusa.
Pendekatan NU dalam menggunakan metode rukyatul hilal ini berakar pada tradisi keagamaan yang kuat dan interpretasi hadis Nabi Muhammad SAW. Dengan landasan hukum yang jelas, umat Muslim dapat menjalankan ibadah dengan rasa tenang dan penuh keyakinan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa NU lebih memilih metode rukyat daripada hisab?
NU memilih metode rukyat karena mengikuti instruksi dalam hadis Nabi untuk berpuasa dan berhari raya saat melihat hilal, namun tetap menggunakan hisab sebagai alat bantu ilmiah.
Apa itu kriteria MABIMS yang digunakan NU?
Kriteria MABIMS adalah standar kesepakatan menteri agama empat negara yang menetapkan hilal harus setinggi minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat agar bisa dianggap sah sebagai bulan baru.
Apa yang dilakukan NU jika hilal tidak terlihat karena mendung?
Jika hilal tidak terlihat akibat cuaca buruk atau mendung, NU akan melakukan istikmal atau menggenapkan jumlah hari dalam bulan tersebut menjadi 30 hari.
Ditulis oleh: Agus Pratama