Lapas Kuningan: Warga Binaan Panen Raya Selada Bokor, Bekal Kemandirian Masa Depan

Table of Contents

Warga Binaan Lapas Kuningan Panen Perdana Selada Bokor


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Kuningan kembali menunjukkan potensi luar biasa mereka melalui keberhasilan budidaya selada bokor. Panen perdana ini menghasilkan total 15,2 kilogram sayuran segar, menandai capaian signifikan dalam program pembinaan yang inovatif.

Keberhasilan ini tidak hanya sekadar menghasilkan produk pertanian, tetapi juga menjadi bukti nyata efektivitas program kemandirian di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Kuningan. Inisiatif ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan memberikan bekal keterampilan esensial bagi WBP.

Pembinaan Produktif di Sarana Asimilasi dan Edukasi Pertanian

Program budidaya selada bokor ini dilaksanakan di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) pertanian Lapas Kuningan yang didesain khusus untuk kegiatan produktif. Area ini berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi WBP untuk belajar dan praktik langsung mengenai teknik pertanian modern secara holistik.

Selama proses pembinaan, WBP terlibat secara aktif mulai dari tahap persiapan lahan, penyemaian bibit, penanaman, hingga perawatan rutin seperti penyiraman dan pemupukan. Keterlibatan penuh ini menumbuhkan rasa kepemilikan, tanggung jawab, dan kepuasan terhadap hasil kerja keras mereka.

Momen Panen Perdana yang Sarat Makna

Puncak dari kerja keras WBP dan dukungan penuh Lapas Kuningan terwujud pada panen perdana selada bokor yang berlangsung penuh semangat dan kegembiraan. Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Sukarno Ali, bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Lapas Kuningan turut hadir secara langsung untuk memimpin proses panen tersebut.

Kehadiran para pimpinan dan seluruh unsur Lapas saat momen panen menjadi simbol dukungan nyata terhadap program pembinaan berbasis keterampilan produktif ini. Momen tersebut sekaligus menjadi motivasi besar bagi para WBP untuk terus mengembangkan diri dalam bidang pertanian dan sektor lainnya.

Lebih dari Sekadar Panen: Pembekalan Keterampilan Berkelanjutan

Sukarno Ali menjelaskan bahwa panen selada bokor ini merupakan hasil dari proses pembinaan kemandirian yang berkelanjutan dan terencana dengan matang. Program ini secara fundamental dirancang untuk membekali WBP dengan pengetahuan dan praktik hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Kegiatan ini tidak sekadar bertujuan menghasilkan produk pertanian, tetapi lebih jauh sebagai sarana pembekalan keterampilan bagi WBP,” ujar Sukarno Ali pada tanggal 7 Januari 2026. Beliau menekankan pentingnya aspek edukasi dan pengembangan diri di balik setiap kegiatan produktif di Lapas.

Menumbuhkan Etos Kerja, Rasa Tanggung Jawab, dan Kemandirian WBP

Pembinaan di bidang pertanian secara spesifik diharapkan mampu menumbuhkan etos kerja yang tinggi, rasa tanggung jawab, serta kemandirian pada diri warga binaan. Mereka diajarkan untuk menghargai setiap proses, memahami siklus produksi, dan melihat langsung hasil dari ketekunan mereka.

Baca Juga: Pelecehan Anak di Kuningan: Polisi Tetapkan Tersangka, Korban Alami Trauma

Keterampilan bertani ini tidak hanya berguna selama berada di dalam Lapas, tetapi juga menjadi bekal berharga untuk masa depan mereka setelah bebas dan kembali ke masyarakat. Program ini memberi mereka harapan, tujuan baru, dan alat konkret untuk membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

“Melalui program pembinaan kemandirian ini, kami ingin membekali WBP dengan keterampilan yang bermanfaat dan bernilai ekonomis,” tambah Sukarno Ali. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi modal positif yang kuat ketika mereka kembali dan berbaur dengan masyarakat luas.

Dengan memiliki keahlian yang relevan dengan pasar kerja dan potensi wirausaha, risiko residivisme atau pengulangan tindak pidana dapat diminimalisir secara signifikan. Inilah esensi mendalam dari pembinaan pemasyarakatan yang berorientasi pada rehabilitasi total dan reintegrasi sosial yang sukses.

Kontribusi Terhadap Ketahanan Pangan Lokal dan Lingkungan

Selain manfaat langsung bagi WBP, program budidaya selada bokor ini juga berkontribusi positif terhadap ketahanan pangan di lingkungan Lapas dan sekitarnya. Produksi sayuran segar dapat dimanfaatkan untuk konsumsi internal WBP dan petugas, atau bahkan dijual ke pasar lokal untuk menambah kas Lapas.

Inisiatif semacam ini mendukung pasokan bahan pangan yang sehat, aman, dan terjangkau, sekaligus mempraktikkan konsep pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bagaimana lembaga pemasyarakatan dapat berperan aktif dalam isu-isu sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Model pembinaan pertanian di Lapas Kuningan dapat menjadi contoh inspiratif bagi Lapas lainnya di seluruh Indonesia yang memiliki potensi lahan dan sumber daya manusia. Dengan memanfaatkan lahan yang tersedia dan semangat produktivitas WBP, banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan.

Upaya sinergis antara Lapas, pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan sektor swasta akan semakin memperkuat serta memperluas program-program semacam ini. Diharapkan ke depannya akan lebih banyak lagi komoditas pertanian dan keahlian lain yang berhasil dibudidayakan oleh para WBP, menciptakan ekosistem pembinaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Keberhasilan panen perdana selada bokor oleh WBP Lapas Kelas IIA Kuningan adalah capaian yang patut diapresiasi secara luas, baik dari segi kuantitas hasil panen maupun kualitas pembinaan karakter. Ini adalah langkah nyata dan progresif menuju kemandirian WBP serta kontribusi positif yang berkesinambungan bagi masyarakat.

Baca Juga

Loading...