Indramayu Terpuruk: Lama Menginap Turis Terendah se-Jabar, Tantangan Ekonomi Lokal

Table of Contents

Indramayu Terpuruk, Lama Menginap Wisatawan Paling Rendah di Jabar


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Kabupaten Indramayu kini menghadapi tantangan serius di sektor pariwisata, menempati posisi paling buncit dalam statistik rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di seluruh Provinsi Jawa Barat. Kondisi ini menjadi sorotan utama mengingat potensi pariwisata dan posisi strategis Indramayu di wilayah pesisir utara.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, pada November 2025, durasi menginap tamu di Indramayu, baik wisatawan asing maupun domestik, hanya tercatat 1,00 malam. Angka ini merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan seluruh kabupaten dan kota lain di provinsi tersebut, menunjukkan perlunya evaluasi mendalam.

Pola Kunjungan Singkat dan Dampak Ekonomi

Plt Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menyampaikan bahwa capaian minim ini mengindikasikan karakter kunjungan ke Indramayu yang masih sangat singkat. Wisatawan cenderung singgah atau melakukan perjalanan satu hari, tanpa memberikan dampak optimal bagi perputaran ekonomi sektor akomodasi.

“Rata-rata lama menginap di Indramayu berada di angka paling rendah, baik untuk tamu asing maupun domestik,” ujar Darwis pada Senin (5/1/2026) lalu. Ia menambahkan bahwa pola kunjungan seperti ini tidak mampu menciptakan efek berganda ekonomi yang signifikan bagi daerah.

BPS mencatat, rata-rata lama menginap tamu asing di Jawa Barat pada November 2025 mencapai 2,56 malam, sementara tamu domestik berada di level 1,32 malam. Indramayu secara drastis berada jauh di bawah rata-rata provinsi ini, menjadi salah satu dari sedikit daerah yang mencatat angka minimum di dua segmen sekaligus.

Darwis lebih lanjut menjelaskan bahwa rendahnya lama tinggal wisatawan berdampak langsung terhadap nilai tambah ekonomi daerah, terutama bagi sektor perhotelan, restoran, dan berbagai usaha pendukung pariwisata. Durasi menginap yang pendek secara otomatis membatasi belanja wisatawan, sehingga efek berganda terhadap ekonomi lokal pun menjadi sangat minim.

“Lama menginap adalah indikator penting dalam mengukur kualitas kunjungan sebuah daerah,” katanya. Apabila durasinya rendah, potensi belanja dan kontribusi ke ekonomi daerah turut tertahan, menghambat pertumbuhan sektor terkait.

Perbandingan dengan Daerah Lain di Jabar

Jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat, ketimpangan data RLMT terlihat cukup mencolok. Kabupaten Purwakarta dan Karawang, misalnya, berhasil mencatat rata-rata lama menginap tamu asing yang jauh lebih tinggi, masing-masing 6,87 malam dan 6,49 malam, menempatkan mereka sebagai yang tertinggi di Jawa Barat.

Untuk segmen tamu domestik, wilayah penyangga metropolitan seperti Depok dan Bekasi juga mampu mencatatkan lama menginap yang lebih baik, hingga 1,66 malam. Perbedaan ini menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang membuat wisatawan betah berlama-lama di daerah lain, namun belum sepenuhnya hadir di Indramayu.

Baca Juga: Man Utd Pertimbangkan Solskjaer, Carrick untuk Pelatih Interim Usai Pecat Amorim

Faktor Penentu Durasi Kunjungan Wisatawan

Menurut Darwis, perbedaan signifikan ini tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas akomodasi seperti hotel. Lebih dari itu, struktur aktivitas ekonomi dan daya tarik kegiatan harian yang mampu menahan tamu lebih lama di suatu daerah memegang peranan krusial.

“Daerah yang memiliki kegiatan industri, bisnis, atau paket wisata berlapis cenderung mencatat lama menginap lebih tinggi,” jelasnya. Sebaliknya, wilayah yang belum berhasil mengembangkan ekosistem pariwisata yang kaya biasanya hanya berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi para pelancong.

Indramayu di Kawasan Rebana: Tantangan dan Potensi

Indramayu sendiri merupakan bagian integral dari kawasan Rebana, sebuah mega proyek yang diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat. Dengan pembangunan infrastruktur yang pesat di kawasan ini, ekspektasi terhadap peningkatan sektor pariwisata seharusnya juga tinggi.

Namun, data RLMT yang ada justru menunjukkan bahwa pertumbuhan infrastruktur belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penguatan sektor pariwisata dan jasa akomodasi di Indramayu. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembangunan fisik perlu diimbangi dengan strategi pengembangan konten pariwisata yang menarik.

Strategi untuk Memperpanjang Masa Tinggal Turis

Darwis menilai, kondisi ini dapat menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah untuk menggeser strategi pembangunan pariwisata. Prioritas tidak hanya pada peningkatan jumlah kunjungan semata, tetapi juga pada upaya nyata untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan di daerah.

“Upaya mendorong lama menginap bisa dilakukan melalui penguatan event daerah yang menarik, pengemasan wisata tematik yang unik, serta integrasi antara sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif,” tuturnya. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman yang lebih kaya bagi wisatawan.

BPS Jawa Barat secara tegas menegaskan bahwa data RLMT berfungsi sebagai sinyal awal dalam membaca daya saing pariwisata sebuah daerah. Tanpa adanya perbaikan signifikan dalam kualitas kunjungan dan upaya untuk memperpanjang durasi menginap, Indramayu berisiko tertinggal dalam memanfaatkan potensi ekonomi yang besar dari sektor pariwisata.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkret dan inovatif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat. Dengan demikian, Indramayu dapat bertransformasi dari sekadar tempat singgah menjadi destinasi wisata yang mampu memikat wisatawan untuk tinggal lebih lama dan berkontribusi lebih besar bagi ekonomi lokal.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT)?

RLMT adalah statistik yang mengukur rata-rata jumlah malam yang dihabiskan oleh wisatawan (baik asing maupun domestik) di suatu daerah. Ini merupakan indikator penting untuk menilai kualitas dan dampak ekonomi dari kunjungan wisatawan.

Berapa lama rata-rata wisatawan menginap di Indramayu berdasarkan data terbaru?

Berdasarkan data BPS Jawa Barat pada November 2025, rata-rata lama menginap tamu di Indramayu, baik wisatawan asing maupun domestik, hanya tercatat 1,00 malam. Angka ini merupakan yang terendah di seluruh Jawa Barat.

Mengapa rendahnya RLMT berdampak negatif pada ekonomi daerah?

Rendahnya RLMT berarti belanja wisatawan terbatas dan efek berganda terhadap ekonomi lokal (hotel, restoran, UMKM) menjadi minim. Hal ini menghambat pertumbuhan sektor pariwisata dan nilai tambah ekonomi daerah.

Apa saja faktor yang mempengaruhi lama menginap wisatawan?

Faktor-faktor yang memengaruhi lama menginap meliputi ketersediaan daya tarik wisata berlapis, aktivitas ekonomi (industri, bisnis), event daerah, serta integrasi antara pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif yang mampu menciptakan pengalaman lebih lama.

Bagaimana Indramayu dapat meningkatkan durasi kunjungan wisatawan?

Menurut BPS, Indramayu dapat meningkatkan durasi kunjungan melalui penguatan event daerah, pengemasan wisata tematik, serta integrasi antara sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif. Strategi ini perlu bergeser dari sekadar meningkatkan jumlah kunjungan ke memperpanjang masa tinggal.

Apa kaitan Indramayu dengan kawasan Rebana dalam konteks pariwisata?

Indramayu merupakan bagian dari kawasan Rebana, yang diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat. Namun, data RLMT menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di Rebana belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penguatan sektor pariwisata dan jasa akomodasi di Indramayu, sehingga perlu strategi khusus untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Baca Juga

Loading...