Banjir dan Longsor Landa Majalengka, Indramayu: Jawa Barat dalam Cengkraman Bencana Hidrometeorologi
Table of Contents

Curah hujan deras yang terus-menerus mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Barat telah memicu serangkaian bencana hidrometeorologi. Fenomena ini meliputi banjir bandang, genangan air meluas, dan tanah longsor yang merusak permukiman serta infrastruktur vital.
Dampak Hujan Deras di Majalengka dan Indramayu
Kabupaten Indramayu menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak banjir signifikan. Bencana ini khususnya melanda Desa Sumbon di Kecamatan Kroya, menyebabkan genangan parah di area permukiman dan persawahan. Sekitar 10 hektare lahan, yang merupakan gabungan dari permukiman warga dan areal persawahan produktif, kini terendam air akibat luapan sungai. Kondisi ini tentunya menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat setempat, baik dari sektor perumahan maupun pertanian. Sementara itu, Kabupaten Majalengka harus menghadapi dua jenis bencana sekaligus, yakni banjir dan tanah longsor, yang menambah daftar panjang wilayah terdampak di Jawa Barat. Banjir di Majalengka dilaporkan melanda Desa Kasturi, Kecamatan Cikijing, dengan dampak yang cukup meluas. Juru Bicara BPBD Jabar, Hadi Rahmat, pada Rabu (7/1), mengungkapkan bahwa sekitar 100 rumah di Desa Kasturi terendam banjir. Bencana ini telah menyebabkan sekitar 400 warga mengalami dampak langsung, memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan tim penyelamat. Tak hanya banjir, Majalengka juga dilanda tanah longsor di Desa Nunuk Baru, Kecamatan Maja, yang semakin memperburuk situasi darurat. Kejadian longsor ini mengancam keselamatan warga dan memerlukan upaya mitigasi serta evakuasi yang cepat tanggap.Situasi Bencana di Kabupaten Ciamis
Kabupaten Ciamis juga tidak luput dari ancaman bencana hidrometeorologi selama periode ini. Tanah longsor terjadi di Desa Bunter, Kecamatan Sukadana, yang berpotensi membahayakan permukiman di sekitarnya. Selain longsor, Desa Kawali di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, juga mengalami bencana cuaca ekstrem berupa tiupan angin kencang yang sangat merusak. Sebanyak 14 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang tersebut, menambah daftar kerugian yang ditimbulkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu.Peringatan Dini dan Tren Bencana Hidrometeorologi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di awal tahun 2026 ini. Untuk periode 2 hingga 4 Januari 2026, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di berbagai provinsi. Wilayah-wilayah yang masuk dalam status siaga ini meliputi Aceh, Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta beberapa daerah lainnya. Peringatan ini menegaskan urgensi bagi masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana. Bencana hidrometeorologi memang semakin mengancam dan menjadi alarm keras bagi seluruh bangsa. Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa hingga 24 Desember 2025, Indonesia telah menghadapi 3.176 bencana sepanjang tahun 2025, dengan banjir sebagai jenis bencana yang paling mendominasi. Ini menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi terus meningkat, membutuhkan penanganan maksimal dari berbagai pihak. Sepuluh daerah di Aceh bahkan telah memperpanjang status tanggap darurat sejak 31 Desember 2025, agar penanganan di lapangan dapat berjalan lebih optimal dan efektif. Kondisi serupa juga dilaporkan di Kalimantan Selatan pada 27 Desember 2025, di mana bencana banjir terparah melanda Desa Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan dengan ketinggian air mencapai lebih dari dua meter. Peristiwa-peristiwa ini menegaskan bahwa manusia adalah bagian kecil dari sistem alam dan perlu bersikap arif serta berbasis ilmu pengetahuan dalam menyikapi bencana.Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Penanganan bencana hidrometeorologi memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari pencegahan hingga respons pasca-bencana. Pemerintah daerah bersama BPBD harus terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan. Pembersihan saluran air, penghijauan kembali lahan kritis, dan pembangunan infrastruktur tahan bencana adalah langkah-langkah esensial yang harus digalakkan. Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan serta mematuhi arahan dari pihak berwenang menjadi kunci untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana. Dengan adanya peringatan dini dari BMKG dan pengalaman bencana sebelumnya, diharapkan setiap daerah dapat mempersiapkan diri lebih baik. Kolaborasi antar-lembaga, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk membangun ketahanan wilayah yang lebih kuat terhadap ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang.Baca Juga
Loading...