Bensin Bobibos: Bahan Bakar Alternatif Baru, Klaim & Tantangan Menurut Pakar
/data/photo/2025/11/03/69081c768089b.jpg)
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia otomotif dan energi Indonesia kembali diramaikan dengan kemunculan bahan bakar alternatif baru bernama Bobibos. Klaimnya, Bobibos merupakan inovasi yang menjanjikan, namun tanggapan dari para ahli masih penuh tanda tanya. Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai Bobibos, mulai dari klaim yang diajukan hingga pandangan para pakar terkait potensi dan tantangannya.
Apa Itu Bobibos? Klaim dan Sejarah Singkat
Bobibos digadang-gadang sebagai bahan bakar alternatif yang dikembangkan dari tumbuhan. Proses pengembangannya diklaim telah berlangsung selama lebih dari 10 tahun. Bahan bakar ini diklaim memiliki nilai oktan hingga RON 98, setara dengan bahan bakar berkualitas tinggi yang ada di pasaran.
Namun, informasi detail mengenai komposisi dan proses produksi Bobibos masih sangat terbatas. Hal inilah yang menjadi perhatian utama para ahli dan pengamat energi.
Respons Pakar: Ahmad Safrudin dari KPBB Angkat Bicara
Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), memberikan pandangannya terkait kemunculan Bobibos. Menurutnya, belum ada informasi yang jelas mengenai kandungan bahan bakar baru ini. Inisiator Bobibos belum membeberkan detail komposisi dan proses produksinya.
“Tapi, sekilas itu bioetanol, yang disebut sebagai bensin, dan biodiesel, yang disebut sebagai solar,” ujar Ahmad Safrudin. Pernyataannya mengindikasikan bahwa Bobibos kemungkinan besar berbasis bioetanol.
Potensi Bioetanol dan Tantangan Produksi
Ahmad Safrudin menjelaskan bahwa bioetanol memang memiliki potensi sebagai bahan bakar alternatif. Secara alamiah, bioetanol memiliki nilai RON yang tinggi, bahkan bisa mencapai 110-130. Namun, tantangan utama terletak pada biaya produksi.
Baca Juga: Potensi Investasi Rp 2.000 Triliun Menguap di Indonesia Tahun 2024 Akibat Perizinan yang Rumit
“Namun, ongkos produksi selalu jadi masalah. Untuk saat ini, bisa di atas Rp 16.000 per liter. Kalau klaimnya harga lebih murah, ya perlu dikonfirmasi lagi,” tegas Ahmad Safrudin. Harga yang kompetitif sangat krusial untuk menarik minat konsumen dan investor.
Mengapa Klaim Bobibos Masih Dipertanyakan?
Beberapa hal menjadi alasan mengapa klaim terkait Bobibos masih dipertanyakan oleh para ahli. Pertama, belum adanya uji laboratorium yang membuktikan kelayakan teknisnya untuk digunakan pada kendaraan. Kedua, belum adanya investor yang tertarik untuk mengomersialisasikan produk ini.
Ketiga, ada kekhawatiran bahwa pemerintah dapat terpengaruh oleh kepentingan importir bahan bakar, sehingga potensi Bobibos bisa jadi tidak mendapatkan dukungan yang cukup. Kondisi ini membuat pengembangan Bobibos belum memiliki kepastian.
Saran dari Pakar: Keterbukaan Informasi
Ahmad Safrudin menyarankan agar produsen Bobibos segera mendeklarasikan spesifikasi hasil uji laboratorium atau komposisi dari bahan bakar tersebut. Keterbukaan informasi sangat penting untuk membangun kepercayaan publik dan meyakinkan para investor.
Kesimpulan: Menanti Bukti Nyata dari Bobibos
Kemunculan Bobibos sebagai bahan bakar alternatif memberikan harapan baru bagi industri energi di Indonesia. Namun, klaim yang ada masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Diperlukan uji laboratorium yang komprehensif, dukungan dari investor, dan keterbukaan informasi dari produsen untuk membuktikan potensi Bobibos sebagai solusi bahan bakar yang berkelanjutan.
Hingga saat ini, masyarakat dan para ahli masih menunggu bukti nyata dari Bobibos. Keberhasilan Bobibos akan sangat bergantung pada transparansi, kualitas produk, dan harga yang kompetitif di pasaran.